Saturday, October 29, 2011

dia abahku

anakku...
izinkan aku menceritakan sebuah kisah di masa lalu
kisah di masa aku seperti kalian sekarang, kisah di mana aku tak merasakan apapun terkecuali kedamaian seorang anak kecil
bersama seorang lelaki
aku memanggilnya dengan sebutan 'abah'
seperti di foto yang terselip di dompetku, seorang lelaki gagah dengan kumis dan kulit hitamnya
yang sedang memangku seorang anak kecil berkepang dua, aku.
berapa tahun yang lalu? ah aku sudah lupa, nak...
yang pasti saat itu aku tau, apapun yang kuminta, dengan cara apapun akan berusaha beliau penuhi. majalah bobo, donal bebek, tin tin, lima sekawan, cokelat crispy, kandos, susu ultra memenuhi rak di pintu kulkas, ...
anak2ku,
abah bukan dengan gampang mendapatkan itu semua. abah harus keluar masuk hutan belantara, berlayar lepas pantai, untuk waktu yang gak pernah sebentar.
karena pekerjaan abah itulah, aku tahu betapa sulitnya mencari setetes minyak bumi, yang kemudian bisa kalian pergunakan untuk bensin, oli, masak, bahkan listrik...
ya, pekerjaan abah adalah eksplorasi minyak bumi...
kalian tahu?
betapa baju kerjanya begitu kotor belepotan minyak bumi, ketika kru mereka berhasil dalam setiap proyek... namun yang kuingat persis bukan noda di baju abah, anakku.
senyum lebar ganteng yang memperlihatkan sebaris gigi sempurnanya...
kira-kira seperti inilah dalam benak abah...
"sekali lagi aku berhasil... puji bisa beli jam tangan G-shock... atau snorkel..." mengingat setiap hari aku pergi berenang di Mustika Patra sampai kulitku keriput...

ah abah...
aku merindukan pantai kita
di mana abah seringkali gemas, karena sering ketika abah menyuruhku berjalan sejauh mungkin menyusuri garis pantai itu, aku selalu menoleh ke belakang, takut abah hilang dari pandangan.
padahal abah selalu meyakinkanku, abah ada di situ, memperhatikan dari jauh aku berjalan, jadi jangan takut, abah tak akan membiarkanku terjatuh, atau terseret ombak...
ah abah...
seandainya dia masih ada, tentu aku tak akan jatuh dan terseret ombak.

anakku
hari itu, pagi minggu, 13 september 1992
entah bagaimana anak seumurku menyadari betapa cerah pagi itu
hanya beberapa titik awan menggantung di langit biru
masih sangat sangat sangat jelas kuingat, abah membawa sebuah bola voli baru, dan berseru, "puji, ayo latian voli... harus bisa serv ya... "
mungkin karena begitu senangnya, setelah berkali2 aku gak bisa2 serv sampe jauh...:(
dan entah bagaimana, anak seumur itu sempat berfikir, "ya Allah, aku senang hari ini..."

anakku,
malam itu, masih di tanggal yang sama, meja makan, di sebuah rumah di jalan nibung lama
menunggu nenek membuat makan malam di dapur
abah tanya
"puji, besok hari apa? besok tanggal berapa?"
aku menjawab sekedarnya, "senin, bah, 14 september!"
karena aku sedang sibuk dengan buku saat itu

anakku,
paginya, 14 september 1992, senin
seperti pagi2 sebelumnya, abah mengoleskan selai kacang di roti untuk aku
dua untuk sarapan, dua untuk bekal sekolah...
lalu pergilah aku ke sekolah, berfikir hari ini sama saja dengan hari2 sebelumnya

siang, menjelang jam istirahat kedua, seorang lelaki yang kukenal sebagai bawahan abah, datang ke sekolah...
"puji, om anter pulang ya? besok harus ke balikpapan, karena abah sakit... jadi puji beresin baju puji ya?"
hmm. asyik. ke balikpapan... bisa gak sekolah, ni...

siang...
siang...
siang...
kenapa siang lama sekali?
kenapa siang itu terasa lebih lama daripada siang di hari2 sebelumnya?
kenapa siang itu terasa lebih sepi daripada siang di hari2 sebalumnya?
sepi... sepi...
hanya ada suara detak jantung dan nafasku sendiri di dalam rumah itu

sore.......
17.45 WITA
aku sampai di ruang ICU itu
mana abah... seharian tak melihatnya, berbicara via HT dengannya membuatku mendadak begitu merindukannya...
banyak orang di situ
menangis

dan kulihat dia di atas ranjang
tertutup kain putih
mama tau, dia meninggal
tapi entah kenapa, aku yakin, sebentar lagi juga dia bangun
seperti biasanya, tertidur dengan majalah TEMPO di dada dan kacamata bertengger di hidung
pasti nanti dia bangun, pikirku
aku menyentuhnya, membuka tutup wajahnya, dan mencoba membangunkannya
dia bergeming
tetap hanyut dalam mimpi
mungkin terlalu nyenyak, batinku, karena abah memang selalu sangat nyenyak, apalagi setelah mengkonsumsi obat sakit kepalanya
aku terus membangunkannya
terus mengguncang badannya
berbisik di telinganya
dan saat itu aku yakin, teramat yakin, aku melihat seulas senyum di sudut bibirnya
ah, abah sedang bercanda
pura-pura tidur

anakku
itulah episode terakhir scene damaiku
karena di hari-hari selanjutnya
dia sudah tak ada, berbicara padaku, tertawa dan seperti biasanya selalu bilang, puji minta apa saja boleh, sayang...

anakku
seandainya pagi 13 september itu berlangsung selamanya
seandainya malam di meja makan itu aku menyadari itu kali terakhir berbicara padanya
seandainya pagi 14 september itu waktu berhenti
seandainya sore 17.45 itu tak pernah ada

anakku
mama sombong ya nak?
merasa berhak menghujat sang waktu
merasa boleh mempertanyakan permainan nasib
merasa diperlakukan tak adil oleh keadaan
tapi mama harus bilang apa
kalau saat ini, detik ini, selamanya, mama
kangen
akan sosok
yang kalau dia masih hidup itu
kalian panggil
kai




dedicated for Hamzah Muhammad,
12 Januari 1938-14 September 1992
abahku
the best man n father ever

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...