Saturday, October 29, 2011

ketika suara tak lagi terdengar

“Mama…, Mama kenapa, Ma…? Mama sakit?”
            Pertanyaan bocah berumur  belum genap 9 tahun itu mengejutkanku. Segera kuusap airmata yang sejak tadi mengalir tanpa henti, menghela nafas dan membalikkan badanku menghadap si bocah yang ikut-ikutan membaringkan diri di sampingku.
            “Mata Mama kenapa sembab? Mama abis nangis? Kenapa, Ma? Mama gak sakit kan? Papa marah-marah lagi Ma?” pertanyaan beruntun yang mau tak mau membuat hatiku miris dan kembali kurasakan airmata yang ingin melesak keluar lagi.
            Telapak tangan mungil itu mengusap pipiku lembut. Aku hanya bisa memaksakan senyum pahit seraya meraba tangan kecil itu. “Mama gak apa-apa kok, Sayang…”
            “Maafin Lembayung ya Ma, tadi pulang sekolah Lembayung langsung tidur, abisnya capek banget, Ma… Olahraga hari ini bikin Lembayung capeeeeeeeek banget…,” jelas bocah itu panjang lebar. “Mama beneran gak apa-apa? Mama bohong kan?”
            “Eh kok anak mama bisa nuduh mama bohong?” protesku sambil menjawil hidung bangirnya.
            “Lembayung tadi lihat ada pecahan piring di tempat sampah. Di teras juga ada sisa-sisa tanah bekas pot adenium Mama yang jatuh!” kejar bocah itu. “Papa pukul Mama lagi, Ma?”
            Bagaikan tersengat listrik aku mendengar pertanyaan telak itu. Padahal tanah yang berserakan itu sudah berusaha kubersihkan, begitu pula dengan pecahan piring itu.
            “Sudahlah Sayang, Mama gak apa-apa kok. Iya, tadi papa marah sama Mama, karena Mama telat masaknya. Papa kan laper, kasian, waktu pulang kerja gak ada apa-apa di meja…,” jelasku berusaha menyembunyikan kegalauanku.
            “Tapi kan papa bisa nunggu, Ma… Lembayung aja kalo laper gak pernah marah, lagian Lembayung bisa kok bikin mi instan sendiri… Papa kan sudah besar! Masak papa kalah sama Lembayung,” protesnya keras, membuat adiknya yang sedang tidur lelap di sampingku menggeliat kejut.
            “Sayang… udah ah ngomelnya… Tuh Pelangi sampai kaget. Entar kasian lho kalo adikmu bangun. Tadi siang mama bawa adik ke posyandu untuk imunisasi. Habis itu dia rewel, nangis terus. Itulah sebabnya mama telat masak, dan papamu kesal. Hmm… Anak mama udah makan belum Sayang? Mama kan tadi masak udang saus padang kesukaan Lembayung…” ujarku sembari membelai lembut rambut ikalnya.
            Bukannya senang, Lembayung malah memelukku erat. Tak lama kemudian terdengar isak pelannya. Pelukannya semakin erat di pinggangku.
            “Sayang… Kenapa nangis, Nak? Lembayung… Maafkan Mama ya Nak… “ desisku, membalas pelukannya juga lebih erat. Maafkan mamamu ini, Nak, batinku. Ingin rasanya menghapus kepedihan dalam hati anak ini, seperti aku ingin menghapus ingatannya akan segala perlakuan papanya kepadaku.
            “Mama…. Lembayung sayang Mama… Kita pergi aja yuk Ma dari rumah ini… Kita pergi ke rumah tante Eli aja, Ma, jangan balik ke rumah ini lagi… Lembayung kasihan sama Mama. Papa jahat banget, Ma! Lembayung benci Papa, Ma! Kita pergi aja, Ma!” kata-kata itu meluncur di tengah-tengah isak tangisnya, semakin mencabik-cabik hatiku.
            “Lembayung sayang… Lembayung gak boleh ngomong gitu. Papa adalah papa Lembayung dan Pelangi. Papa kandung kalian. Kalian gak boleh membencinya. Lagipula kalau kita pergi, siapa yang nanti ngurusin papa? Yang bersihin rumah ini? Yang kasih makan Pus kesayanganmu? Siapa? Kan kasian Papa dan Pus ditinggal…” bujukku seraya menghapus airmatanya.
            “Tapi Ma…”
            Kupeluk lagi anak sulungku itu lebih erat. Hanya isaknya yang terdengar. Tak lama kemudian isak itu menghilang, nafasnya teratur. Aku menarik nafas lega. Lembayung tertidur di tengah kesedihannya akan nasib ibu yang dicintainya.
            Dadaku kembali sesak teringat kejadian beberapa jam sebelumnya. Juga beribu kejadian serupa sebelumnya.
            Suamiku seringkali marah-marah padaku tanpa sebab. Bahkan tak jarang sampai memukulku  di depan Lembayung hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang normal dilakukan oleh seorang ibu rumahtangga dengan sejuta kesibukan seperti aku. Yang kusesalkan, Sam, suamiku, selalu melakukan itu di depan Lembayung! Apa penyebab kemarahannya biasanya hanya hal-hal sepele. Telat masak, setrikaan yang kurang rapi, rumah yang masih terlihat berantakan karena belum sempat kubereskan, dua anak yang salah satunya masih bayi yang sering rewel, yang masih membutuhkan ibunya untuk semua keperluannya. Entahlah, apakah itu benar-benar pemicu, atau hanya sekedar alas an untuk melampiaskan kekesalannya akan sesuatu.
            Tak jarang Eli adikku tak terima akan perlakuan Sam, dia bilang terang-terangan, bahwa Sam sebenarnya sakit jiwa! “Apa sih kurangnya kamu sebagai istri? Kamu sudah memenuhi kewajiban-kewajiban kamu sebagai istri dan ibu. Kamu melupakan kehidupan pribadimu demi suamimu yang kejam itu. Kamu juga terkadang mengorbankan anak-anakmu yang kurang terurus karena terlalu sibuk mengurusi kepentingan Sam. Pernahkah dia bertanya padamu tentang bagaimana kesibukanmu merawat rumahtangga kalian? Pernahkah dia bertanya padamu bagaimana lelahnya kamu? Pernahkah dia menghargai jerih  payahmu?? Pernahkah dia berkata dia mencintaimu, Day?!” cecarnya sengit.”Apa balasannya? Wajah yang lebam. Badan yang penuh memar. Hati yang hancur berkeping. Dia sakit, Day! Dengar aku! Dia sakit!”
            Aku hanya bisa menunduk dan menangis. Eli memelukku dan kami menangis bersama. Jauh dalam lubuk hatiku aku tahu perkataan Eli benar. Sam memang sakit.
Sam ingin kesempurnaan. Ingin pada saat dia pulang kantor, rumah dalam keadaan rapi, pakaian bersih dan wangi yang tersusun rapi di lemari, makanan yang sudah siap dilahap di atas meja makan, anak-anak yang sudah mandi dan rapi… Ia ingin pada saat di rumah istrinya hanya melayaninya, memanjakannya, selalu siap sedia untuknya, tak menolerir pekerjaan lain yang belum selesai kubereskan, yang bisa membuatnya dinomorduakan.
            Aku hampir tak punya waktu untuk diriku sendiri. Jangankan untuk ke salon atau ke rumah Eli untuk sekedar mengobrol, untuk sekedar menonton televisi saja aku melakukannya sembari menggendong Pelangi atau menyuapi Lembayung. Tumpukan novel-novelku di rak belakang tak pernah kusentuh lagi setelah kehadiran Lembayung di dunia 8 tahun yang lalu. Keyboard komputer itu seakan memandangiku penuh kerinduan, menantikan jariku mengetikkan tulisan-tulisanku yang dulu sering kukirimkan ke redaksi majalah kampusku. Sam juga mengisolasiku dari teman-teman serta sahabat-sahabatku. Aku tak pernah diizinkannya bertemu mereka, dengan alasan aku sudah cukup sibuk dan waktuku sudah tersita oleh padatnya pekerjaanku sebagai ibu rumahtangga.
            Aku terlalu takut pada Sam. Pada kemarahannya. Pada ketidaktolerannya akan tugasku yang padat sehari semalaman. Pada kebengisannya padaku yang tak kenal tempat dan waktu. Pada ancaman-ancamannya padaku kalau aku berani melawannya.
            Sam tahu persis aku takut padanya. Ketaatanku padanya berdasarkan rasa takut yang berlebihan, bukan lagi karena cinta, sayang, setia, atau apapun namanya. Stigma yang kuemban sebagai seorang ibu rumahtangga tak lagi ideal seperti dulu. Aku ada di dalam rumah ini, bertahan dalam kondisi ini, adalah semata-mata demi Lembayung dan Pelangi. Demi kesempurnaan rumahtangga yang dituntut oleh keluarga besarku. Demi nama baik yang Sam ingin tancapkan pada tetangga, kerabat dan teman-teman bisnisnya. Bukan lagi demi cinta.
            Hari itu Winda, sahabat karibku semenjak SMU mengirimiku SMS yang isinya mengabarkan Doni, sedang dirawat di rumah sakit, yang kemudian dibaca oleh Sam, karena pada saat itu aku tengah mandi dan telepon selularku itu kuletakkan di atas meja rias. Aku, Winda dan Doni memang bersahabat semenjak SMA. Kedekatan kami bertiga berlangsung sampai ke bangku kuliah, hingga aku menikah dengan Sam. Setelah itu, sudah jarang sekali kami berhubungan. Sam tak suka pada Doni dan Winda, entah apa sebabnya. Padahal Sam sangat tahu apa arti persahabatan itu bagiku. Lalu serta merta HP yang tak bersalah itu dibantingnya, marah-marah padaku dan menuduhku berselingkuh di belakangnya dengan Doni.. Aku marah. Aku membela diriku sendiri. Aku tak terima dikatai  berselingkuh dengannya.
            Sam tak pernah mempercayai pembelaanku. Dalam pikirannya, akulah yang salah, bukan dia. Dia tak terima aku membela diri. Dia tak terima aku juga bersedia membela Doni walaupun resiko yang kuterima akibat itu sangat fatal. Saat itu juga bogem mentah  itu mendarat di kepalaku. Berkali-kali seperti biasanya. Seperti seorang petinju yang sedang berlatih dengan samsaknya. Jeritan demi jeritan yang keluar dari mulutku tak mempengaruhinya, malah seperti menambah kemarahannya dan intensitas pemukulan itu. Akhirnya aku jatuh tersungkur. Aku menangis. Aku menjerit. Aku sakit. Aku tak terima. Kuraih kakinya untuk kemudian mencoba membalas dan melawannya, namun ternyata dia lebih kuat. Dengan sekali ayun, dilepaskannya rengkuhan tanganku di kakinya dan “BLASSHHH!!!” mendarat tepat di mata sebelah kiriku.
Di tengah separuh kesadaranku, aku mendengar jerit pilu Lembayung. Rupanya dia menyaksikan sendiri kejadian mengerikan itu dari celah pintu yang terbuka sedikit. Tangisnya menyadarkanku. Dia segera berlari menyongsongku, memelukku, berteriak memanggil namaku, meyakinkan apakah ibunya baik-baik saja… Aku hanya bisa membelai rambutnya dan berbisik, “Mama gak apa-apa, Sayang…”

***

14 Februari 2010
Pandanganku terhalang oleh batang-batang besi yang berjejer di jendela berukuran kecil itu. Kakiku terasa kram karena terlalu lama jinjit untuk mengintip keluar melalui jendela yang letaknya memang tinggi itu.
Ramai sekali di luar.Suara kembang api bersahut-sahutan. Hmm, apa yang mereka rayakan, batinku. Mereka bilang ini hari valentine. Mereka juga bilang ini hari kasih sayang. Aku terkikik sendiri. Kasih sayang? Apa pula itu? Mengapa harus dirayakan?
Sudah lama aku tak merayakan apapun. Ulang tahunku. Ulang tahun Lembayung dan Pelangi. Tuhan… Tiba-tiba aku sangat merindukan mereka. Bagaimana kabar mereka? Mengapa mereka jarang menengokku akhir-akhir ini? Sudah sebesar apa mereka? Sudah berapa lama aku tak melihat mereka? Satu tahun? Dua tahun? Sepuluh tahun? Entahlah. Aku sudah lupa. Kadang mereka menengokku bersama tante mereka, Eli. Kadang mereka membawakan makanan kesukaanku atau novel kesayanganku. Kadang mereka tak membawakan apa-apa, hanya sekedar memandangiku dengan tatapan pilu.
Aku tak mengerti mengapa mereka memandangiku seperti itu. Aku juga tak mengerti mengapa mereka tak mengajak Sam serta. Dimanakah Sam?
Terakhir kulihat Sam, seingatku di ruang tamu kami. Dia terbaring di atas lantai, sepertinya tak sadarkan diri, dengan darah menggenang di sekitarnya. Lalu… Lalu mereka datang dan merampas pisau yang entah mengapa ada dalam genggamanku. Hmm, mengapa mereka marah padaku? Mengapa setelah itu tanganku diborgol? Mengapa? Mengapa?
Kepalaku terasa berat dan pusing. Mata kiriku pun terasa nyeri. Kulepaskan jeruji besi itu. Kuayun langkah gontai menuju ranjang kecil di pojok ruangan kecil itu, lalu berbaring di atasnya.
Suara itu terdengar lirih. Lalu semakin nyaring. Semakin nyaring. Suara teriakan putus asa. Begitu menyayat. Begitu pilu dan kesepian.
Sepertinya aku kenal suara itu.

Suara itu, datang jauh dari dalam kepalaku. Dari mulutku.

***

Dear Daysi…
Masih ingat novel ini? Masih ingat kutipan ini? Ini kutipan favoritmu, kan? Ini novel yang kau hadiahkan padaku di hari ulang tahunku 5 tahun yang lalu… Sekarang izinkan aku menuliskannya kembali untukmu, Sahabatku… Cepat sembuh ya? Aku dan Doni merindukanmu… (Winda)

Cinta bukan alasan untuk kita gadaikan prinsip dan ideologi,
Cinta bukan alibi untuk kita membenarkan kesalahan yang kita lakukan,
Cinta juga bukan sebuah legalitas untuk menguasai atau dikuasai,
Cinta tidak pernah mengharuskan kita merelakan diri dieksploitasi oleh orang yang kita cintai,
sebagai bentuk pengorbanan atas nama cinta,
Cinta adalah sebuah perasaan yang logis,
Untuk menjalin sebuah relasi yang sehat dan meningkatkan kualitas pribadi
untuk menjadi manusia yang lebih baik dalam fitrahnya...
 “Ajarkan aku melebur dalam gelap tanpa harus lenyap,
merengkuh rasa takut tanpa perlu surut,
bangun dari ilusi namun tak memilih pergi............”
(Rohana Handaningrum ; SERIMPI)

2 comments:

  1. Terimakasih sudah berkenan baca tulisan saya....

    Salam - Rohana Handaningrum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih juga sudah menginspirasi, mbak...:)
      *koprol udah dikomen mbak Rohana :))*

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...