Saturday, October 29, 2011

my sh*t curcol.....:)


Aku lelah.

Lelah. Mungkin ketika kau mendengar kata ini, kau akan membayangkan aku sedang bersandar di sofa, mengatur nafas yang terengah-engah, menyeruput nikmat es teh yang dapat seketika menghilangkan dahagaku serta perlahan meredakan kelelahanku. Kau akan membayangkan aku menyelonjorkan kakiku, meregangkan otot-ototku, menikmati sejuknya kipas angin membelai wajah serta melenakan matadan pikiranku.

Namun lelah yang ini berbeda. Aku tak merasa nyaman dengan badanku. Pinggulku pegal, punggungku seperti menjerit setiap kali aku bekerja, menyelesaikan tugas-tugas rutinku. Kepalaku nyut-nyutan menuntut mataku menutup dan mengistirahatkan diri. Moodku awut-awutan.  Semua terlihat salah di mataku. Menyulut emosiku. Menguras energiku. Dan parahnya, aku tak dapat sekejap pun merapatkan kedua mataku dan membawa anganku terbang ke alam mimpi.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan mencoba mengajak otakku berbaik hati pada hati dan badan pegalku. Mencoba mengingat-ingat mengapa aku mengalami sindrom aneh ini. Mengapa tiba-tiba aku berubah menjadi Mrs.Moody begini, mengapa seketika aku berubah menjadi pemalas seperti kuda nil kekenyangan begini, mengapa aku tak ubahnya seperti nenek-nenek penderita osteoporosis di dalam iklan susu kalsium itu, sementara pakaian kering teronggok begitu saja tak tersentuh semenjak kemarin sore. Kemarin sore? Ah kemarin sore aku tidak mencuci. Kemarinnya lagi? Ya ampun. Tumpukan pakaian itu sudah berdomisili di pojok situ sejak 2 hari yang lalu!

Satu jawaban terlintas di kepalaku : kontrasepsi. Ya, kontrasepsi, KB. 3 hari yang lalu aku pergi ke bidan dekat rumahku, dan menyerahkan bokongku padanya untuk disuntik, suntikan yang berisi hormon apalah itu namanya, yang pasti hormon itu bisa membuat dan meyakinkanku tak bisa hamil selama 3 bulan ke depan walaupun aku melakukan ‘banyak hal’ bersama suamiku.

Sebelum ini, 40 hari setelah aku melahirkan bayiku, aku memakai pil KB yang diperuntukkan bagi ibu menyusui (karena aku bertekad memberikan bayiku ASI eksklusif sampai usia 6 bulan) yang seyogyanya aku minum setiap hari di jam yang sama sesuai dengan perintah di kemasan pil tersebut. Minggu pertama aku masih konsisten meminumnya. Minggu kedua mulai tak teratur. Kadang minum jam 7 malam. Kadang molor sampai jam 10 malam. Kadang tidak samasekali. Lupa. Sehingga besoknya aku berinisiatif meminum dobel pil itu. Itu pun kadang bukan di jam yang sama.

Akibatnya tubuhku bingung dibuatnya. Hormon di tubuhku juga seperti dibuat keleyengan. Aku haid tak teratur. Tak sesuai lagi dengan jadwal yang tertera di kemasan pil KB tersebut. Moody-ku kambuh. Emosiku timbul tenggelam. Yang jadi korban siapa lagi kalau bukan orang-orang terdekatku : suami dan anak-anakku. Airmataku begitu mudah meleleh hanya karena suamiku tak memakan masakanku. Emosiku mudah tersulut ketika Luna, anak keduaku menangis manja karena merasa diacuhkan.


Akhirnya aku memutuskan untuk stop meminum pil pembawa kekacauan itu. Aku menunggu haid berikutnya. Eh, si bulan yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Padahal sudah lewat masanya. Bingung kembali melanda… Jangan-jangan Jingga mau punya adik lagi? Jangan-jangan sepeninggal pil itu terjadi pembuahan di rahimku tanpa seizinku?

Aku panik. Lari ke bidan. Beli test pack 4 buah. Negative. Masih tak puas. Aku googling obat yang bisa mendatangkan haid. Got it. Kubeli. Kuminum. Ah ya Tuhan…. Belum haid juga! Belum tuntas lagi kekhawatiranku akan haidku yang belum kunjung datang, aku didera perasaan bersalah yang diam-diam menyusupi relung hatiku. Perasaan berdosa yang aku sendiri tak tahu datang dari mana. Bagaimana kalau aku benar-benar hamil lagi? Bagaimana kalau memang ada janin di rahimku? Bagaimana kalau obat yang kuminum merusak jaringan sel telur terbuahi itu? Bagaimana kalau aku benar-benar telah melukai jabang bayiku, darah dagingku?!

Aku pun kembali berkonsultasi pada sang bidan. Kutunjukkan hasil test pack-ku. Si ibu bidan tersenyum simpul dan menjawab segala kegelisahanku. Aku tidak hamil. Aku hanya dilanda stress berlebihan yang menyebabkan hormonku tak bekerja sebagaimana mestinya. Aku kelelahan.



Kelelahan? Stress? Bagaimana tidak?! Aku selalu standby menyusui bayiku full time, kapanpun dia mau ASI aku berikan. Aku juga seorang ibu rumah tangga tanpa pembantu, yang menghandle seluruh pekerjaan rumahtangga. Aku juga seorang ibu dari 2 anakku yang lain yang masih perlu aku untuk seribusatu macam keperluan mereka. Oh dan aku juga seorang istri. Ditambah lagi dipusingkan dengan hal-hal gak penting bernama KB dan hormon ini. Mengapa harus aku? Mengapa masalah kontrasepsi dan segala macam konsekuensi, efek serta akibat-akibat tak mengenakkan itu dihibahkan padaku? Mengapa bukan pada suami, kaum lelaki?!

Kaum wanita sudah cukup dilelahkan dengan menghilangnya sedikit demi sedikit kalsium di tubuh mereka selama kehamilan dan menyusui. Wanita juga sudah sangat cukup direpotkan dengan masalah-masalah rumahtangga. Eh ditambah lagi momok ketakutan akan efek hormon yang menyebalkan : kegemukan, keputihan, flek hitam di wajah, pusing-pusing, haid gak teratur yang menyebabkan badan sakit, moody parah. Satu lagi : wanita dibuat pusing 13 keliling waktu dihadapkan kepada banyak pilihan kontrasepsi. Ada yang untuk menyusui, ada yang untuk ibu tidak menyusui. Yang khusus untuk ibu menyusui itulah yang paling mengerikan efeknya : KEGEMUKAN dan flek hitam di wajah! Ya Tuhaan……. Beginikah konsekuensi pilihanku untuk konsisten menyusui bayiku?! Tanpa kontrasepsi? Impossible… aku tak bersedia, belum bersedia tepatnya, untuk hamil lagi dan melahirkan lagi dan seterusnya… Aku kan bukan pabrik bayi…! Huffft…

Ya Allah… kekhawatiran lebay itu tak terbukti. Besoknya aku haid. Lancar jaya. Genap 6 hari.
Tanpa menunggu besok,aku segera ke bidan, minta bokongku diinjeksi hormon pencegah kehamilan.
Dan inilah jadinya. Aku yang moody lagi, males lagi, pemarah lagi, pelapar lagi…
Sebelum ini aku sempat berdiskusi dengan seorang teman tentang kemungkinan alternatif  lain beserta kemungkinan-kemungkinan dampaknya terhadap si pemakai. Ada IUD. Implan. Sistem kalender. Semua berpotensi berefek negatif. Semua juga berpotensi gagal. Lalu apa? Siapa yang dirugikan? Wanita lagi, kan?



Aku kembali bertanya. Adakah kontrasepsi untuk pria? Untuk para suami?

Mereka bilang ada. Kondom. Vasektomi. Ejakulasi terputus atau apapun namanya. Tak ada satupun yang bisa membuatku memilih salah satu diantaranya. Ngilu!

Kenapa gak ada suntik untuk pria? Kenapa gak ada pil KB untuk pria? Atau  semacam IUD atau implant agar sperma mereka gak bisa berenang sebebas-bebasnya mencari sang telur?
Bukankah ini gak adil?

Pria mah enak-enakan menanam saham. Wanita yang pusing 13 keliling memikirkan agar penanaman saham itu tak membuahkan hasil. Itupun masih direpotkan dengan efek yang ditimbulkan!

Terngiang lagi kata-kata bijak sang bidan padaku tempo hari saat aku mengeluhkan hal ini : wanita itu istimewa. Kodratnya lah seperti itu. Karena wanita itu kuat. Tabah. Bayangkan saja saat pria dilanda moody gara-gara perubahan hormon di tubuh mereka, mereka takkan sekuat wanita. Dan kalaupun ada, ketika moody mendera mereka, bukankah kita juga yang susah menghadapi mereka? Ayolah, wanita itu istimewa… Wanita itu luar biasa…!

Ah bu bidanku sayang… Aku tak mau jadi istimewa…. Aku tak mau jadi luar biasa…
Aku ingin menjadi orang biasa saja, tanpa gangguan hormon, tanpa gejolak emosi naik turun, tanpa beban, menyusui bayiku tanpa takut kegemukan dan flek-flek hitam serta keputihan, tanpa dipusingkan masalah KONTRASEPSI ini.
Bisakah?

Aku… lelah…. :(

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...