Wednesday, November 30, 2011

Lalu, bagaimana dengan kita nanti?


Belum bisa tidur, padahal satu jam lalu mataku sudah memohon untuk mendapatkan haknya ; rehat.

Entahlah. Bayangan-bayangan berkelebat di kepala. Memikirkan sesuatu. Memikirkan kita. Memikirkan aku, kau.

Saat ini kita berada di tengah lautan cinta. Saling sangat mencintai satu sama lain. Tak dapat berpisah terlalu lama, pastilah untaian kalimat rindu itu akan mengalir dengan derasnya. Di telepon, SMS, blog, jejaring sosial. Sampai-sampai waktu seakan tertawa mengejek ketika aku, kau, menuntut mereka memperlambat jalannya, atau menghentikan larinya barang sejenak, atau memintanya berdamai saja… "Tidak, tidak ada istilah mengalah, kalian terlalu manja dan lamban...! Terlalu senang berkubang dan terperangkap dalam mimpi!" ejek sang waktu. Tak peduli kita memohon bahkan sampai mengeluarkan air mata, dia tetap berlari dengan semangatnya yang tak pernah surut…

Ya, itulah kita pada saat ini, dan kalau boleh mengatakannya, itulah kita semenjak pertama kalinya bertemu dan berikrar untuk selalu bersama dalam susah senang.

Sementara waktu terus berlari seperti anak kecil yang berlari senang dan tak bisa berhenti berlari mengejar layang-layang, begitu bersemangat. Tak peduli apa yang dilewatinya, tak peduli apa yang telah ditinggalkannya, tak peduli jejak seperti apa yang telah ditorehkannya.

Sementara kita menjadi semakin tua. Keriput, uban, skoliosis, osteoporosis, rematik, sakit kepala, anak-anak, cucu, pikun…

Ya, tanda-tanda menjadi tua. Menjadi tua dan tak kuat berkejaran dengan waktu. Sementara waktu terus menerus bereinkarnasi, kita tetap di sini, menjadi tua dan tak bisa banyak bergerak lagi.


Kalau sekarang, membalas SMS-mu bisa dalam hitungan detik, satu page SMS bisa langsung penuh dengan kata-kata yang membanjir dari hati dan kepala. Lalu SMS berikutnya, satu page juga kembali penuh dengan cerita tentang Luna Jingga yang tak berhenti saling mengganggu.  Kadang SMS gak penting seperti “lagi ngapain,Sayang?” atau sekedar “abangkuuu…!” atau “apa yang sedang istriku pikirkan sekarang ini?” juga selalu dengan sigap dibalas.

Lalu, bagaimana kita nanti?

Apakah kita akan terlalu tua untuk berkirim SMS semacam itu? Bahkan untuk melihat huruf di keypad pun mungkin akan sangat sulit tanpa kacamata, betul? Hmm, mungkin hanya SMS dengan bunyi “Ayah jangan terlalu capek,ya?” itu saja akan membutuhkan waktu lebih dari lima menit, dan SMS jawabannya pun hanya ”Iya” saja…J

Kalau sekarang, begitu melihat sosokmu di pintu selepas bekerja seharian penuh, aku bisa dengan segera menyongsongmu lalu memeluk erat dan menghirup bau tubuhmu, membiarkan paru-paruku terisi penuh dengan aroma-mu,serta merasakan bagaimana kedua tanganmu melingkar erat di sekeliling tubuhku,dan ketika aku memintamu untuk memeluk lebih erat lagi, dengan segera kekuatan kedua tangan itu bertambah, menjadi semakin kuat dan nyaman.

Lalu, bagaimana kita nanti?

Apakah memerlukan waktu lama untuk menyongsongmu? Atau bagaimana kalau kau saja yang menyongsongku,karena tungkaiku begitu nyeri kalau dipakai berjalan cepat-cepat?  Dan apakah kau akan berkata, “Diam saja di situ, Sayang, biar aku yang ke situ dan memelukmu”? Dan apakah akan seerat saat ini?

Kalau sekarang, aku bisa dengan manja dan piawai dalam merayumu. Dan kau bisa dengan mudah pula terbakar cinta.

Lalu, bagaimana kita nanti?

Apakah kita akan terlalu lelah untuk sekedar berbicara, berpelukan, atau sekedar saling mengecup, bahkan lebih parah lagi, lupa bagaimana caranya merayu?

Entahlah.

Kau tahu, aku sudah mulai sering bercermin sekarang. Perlu tambahan bedak kah? Ada flek hitam kah? Perlu krim khusus kah? Sepertinya keriput sudah mulai menampakkan tanda-tanda eksistensinya. Tubuhku pun mulai cepat lelah. Tak bisa tidak tidur siang. Tak bisa tidak minum susu kalsium. Atau obat migrain. Atau mulai sering minta tukang pijet mampir. Sepertinya pula, osteoporosis juga mulai melirikku…

Sedangkan kau?

Ubanmu mencuat terlihat di antara hitam lebatnya rambutmu. Membuatmu lebih mature. Lebih ganteng. Matang. Kerut di kedua ujung matamu pun lebih menonjol, seperti selalu tersenyum. Ini usia produktifmu. Kreatifitasmu sedang di puncak. Membuatku semakin jatuh cinta. Dan semakin lelah, juga semakin terlihat tua…

Entahlah.

Suatu ketika nanti, di usia tua kita,dan kita masih ada satu sama lain, dan aku menjadi terlalu pikun untuk mengingat segala sesuatu.

Tolong ingatkan aku ; bahwa aku pernah sangat mencintaimu, seperti sekarang, saat aku mengetik ini.

16 November 2011, 01.10 am. Dini hari.
Dan merindukanmu, seperti saat ini.

Friday, November 18, 2011

Kiran, di Antara Kekerasan Domestik dan Dogma

OPINI | 22 March 2010 | 13:57 199 19 3 dari 4 Kompasianer menilai Inspiratif


Wajah keadilan yang dianut oleh peradilan Inggris pada tahun 1992 berubah lantaran Kiranjit Ahluwalia.
 
Dia bukanlah sesiapa, melainkan hanya seorang ibu rumah tangga keturunan Punjab  (India)  yang berimigrasi ke Inggris mengikuti suami. Prototipe “wanita timur” yang tradisional.

Kiran, demikian biasa Ia disapa  semasa gadis, harus mendekam dalam penjara. Divonnis bersalah atas pembunuhan yang Ia lakukan terhadap Deepak, pria pemabuk yang menikahinya.

Hasrat kejam itu tidak lahir begitu saja, melainkan hasil reaksi atas apa yang dideritanya selama kurang lebih 10 Tahun, yakni kekerasan (domestik) yang dilakukan si korban.  Yang populer dikenal dengan nama, “Keketasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)”.  Deepak kerap memukulinya bahkan juga memerkosa. Pernah terjadi Kiran yang dalam keadaan hamil terjatuh dari loteng lantaran dipukuli oleh Deepak. tapi Ia sudih berbohong ketika dokter yang merawatnya, menayakan musabab sehingga ia terjatuh.

Di malam yang naas itu, Deepak usai menyiksa istrinya,  tertidur pulas dalam kamar.  Kiran masuk mengendap. Ia menyiram kaki Deepak dengan bensin kemudian menyulutkan  api dari suluh yang Ia bawa. Sayangnya, api itu tidak hanya membakar kaki  tapi juga anggota tubuh  yang lain.

Kiran kemudian ditemukan oleh Opsir O’Donell di halaman rumah bersama dua orang anaknya. Ia dalam keadaan shock, diam dan sedingin udara Southhall ketika itu, Selasa 9 Mei 1989.

Kiran sesungguhnya hanya ingin membakar kaki suaminya agar Ia tak terkejar lagi ketika berlari untuk menghindar dari kekejaman Deepak. Tapi sayangnya, lima hari setelah kejadian, Deepak menghembuskan nafas terakhir. Bahagiakah Kiran dengan semua itu? Ia lebih memilih diam bahkan tak ingin mengungkap hal yang mendorong Ia melakukannya meskipun di depan persidangan. Padahal berdasarkan kalkulasi penasihat hukumnya (Miriam Taylor dan Chris Jones), hanya itu bukti a De Charge (yang menguntungkan) baginya.  Juga dorongan untuk mengungkap fakta telah dilakukan Radha Djalal dari Southall Black Sisters (kelompok pembela hak perempuan). Tapi sekali lagi, Kiran enggan untuk mengungkapkannya.

Akibatnya, Kiran terlepas dari “penjara kekerasan” tapi masuk ke dalam penjara yang sesungguhnya selama seumur hidup di Mullwood Hall.  Dan anaknya yang yatim itu, Sandeev dan Rajeev harus dipelihara diperlihara oleh mertuanya.

Kiran tetaplah Kiran meskipun tinggal di Negara liberal seperti Inggris. Tetap jadi “cermin” wanita timur yang tabah, mengabdi pada suami dan tetap memilih diam demi menjaga martabat keluarga. Derita yang dialaminya akan menjadi aib mana-kala diketahui oleh khalayak. Pandangan yang mengungkung itu, tidak hanya terjadi di India tapi juga di Indonesia. KDRT jamak terjadi di sekitar kita namun tak terungkap.Ada beberapa kasus seperti itu yang dikeluhkan oleh ibu rumah tangga kepada biro hukum yang saya pimpin. Namun lebih banyak yang batal di advokasi, tertutupi oleh sesuatu yang mengatas-namakan “martabat keluarga”. Tentunya, standar Kode Etik Advokat Indonesia melarang saya untuk mengulas kasus tersebut di depan public terlebih lagi melalui  jejaring sosial.

Karenanya sepenggal kisah Kiranjit Ahluwalia itu jadi penting artinya untuk melepaskan wanita Indonesia dari pandangan yang keliru tentang bagai-mana meletakkan kesetaraan dalam relasi keluarga. Bahwa laki-laki memang kepala rumah-tangga tapi bukan berarti ia boleh memaksakan dipatuhi segala perintahnya bak sang diktator. Apalagi jika disertai dengan kekerasan.  Bukankah saat ini, sejumlah regulasi telah di keluarkan untuk melindungi perempuan dari kekerasan domestik  misalnya di Indonesia telah dilahirkan UU No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Perlindungan itu tidaklah seperti mesin yang berjalan secara otomatis. Dia memerlukan kemauan yang kuat dari perempuan untuk menegakkannya. Karena bagai-manapun KDRT lebih banyak melumat perempuan sebagai korban.

Atas dasar realitas seperti itu, maka studi tentang KDRT  di Indonesia jangan lagi melulu dimulai dari pertanyaan, mengapa KDRT terjadi? Tapi lebih menekankan pada pertanyaan Kenapa Perempuan Lebih Memilih Diam? Seperti sikap yang mulanya ditunjukkan oleh Kiranjit Ahluwalia itu. Hingga suatu ketika, Veronica “Ronnie” Scott, sahabatnya sesama tahanan, mengetahui secara pasti derita yang dialami Kiran  dan mengadukan hal itu   kepada Lord Foster seorang pengacara yang kebetulan adalah saudaranya.  Bergulirlah kembali perkara Kiranjit Ahluwalia pada tingkat banding. Orang ramai membicarakannya dan menganalisa. Apalagi Southall Black Sister (SBS) tak henti-hentinya berdemonstrasi menuntut pembebasan Kiran.

Akhirnya persidangan di tahun 1992 itu memutuskan mengubah putusan pengadilan tingkat pertama dari “pembunuhan biasa” dengan hukuman penjara seumur hidup itu menjadi “pembunuhan” yang kemudian membebaskan Kiranjit Ahluwalia dari tahanan. Hakim mengkualifisir bahwa kekerasan yang dialami oleh Kiran adalah provokasi yang mengakibatkan Ia menderita depresi.

Selanjutnya hakim berpendapat ia memang tak berniat membunuh. Kata Kiranjit di depan sidang, ‘’Saya tak pernah berencana membunuhnya. Saya hanya ingin ia berhenti menyakiti saya.’’ Menurut hakim, peristiwa terjadi karena Kiranjit menderita depresi berat akibat perlakuan Deepak. Vonis ini kemudian seperti ditulis The Guardian, 4 April 2007, menjadi preseden sejarah hukum di Inggris (Amran Nasution: hidayatullah)

Kata BBC News (12-11-2001) “Dengan Bantuan SBS, Ia menjadi symbol perjuangan kaum perempuan Asia melawan kekerasan domestic membantu mengubah sikap social dan mendorong orang untuk berbicara.”. Ya mestinya ibu rumah tangga di Indonesia harus lebih berani untuk mengungkapkan kekerasan yang dialaminya, bukan malah mendiamkan hanya lantaran dogma yang mengatas-namakan “martabat keluarga”.  Jika dogma itu terus dipelihara, Saya khawatir jangan-jangan pada akhirnya kekerasan domestik jadi perkosaan yang dimikmati.

 Akhir kata, hentikan kekerasan terhadap perempuan !!! Wassalam


Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/22/kiran-di-antara-kekerasan-domestik-dan-dogma/

Monday, November 14, 2011

Nyanyian Ilusi


Gina merebahkan tubuh semampainya di atas tempat tidur besar itu, seakan ingin melepaskan penatnya setelah bekerja seharian di perusahaan advertising milik temannya. Memandangi langit-langit kamar berukuran luas itu, sejenak terbang bersama ingatan akan kejadian menarik tadi sore. Wajah cantik gadis berusia 28 itu terlihat lelah. Rambut ikal hitam panjangnya tergerai membingkai wajah ayu kuning langsatnya. Mata bulat bernaung alis tebalnya pun terlihat capek. Teringat sesuatu, membuatnya tersadar dan cepat-cepat bangkit berdiri, berjalan cepat ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar besar itu.

Tak membutuhkan waktu lama, gadis itu menyelesaikan mandinya. Bersih dan segar, Gina tersenyum sendiri melihat ke arah jam dinding ungu bermotif bunga itu. Mendesis kecil, ia cepat-cepat melepaskan handuk, mengenakan baju tidurnya, dan mengelap rambut basahnya sekenanya. Meraih smartphonenya di dalam tas merk Hermes cokelat, lalu menekan tombol yang sudah begitu dihafalnya di luar kepala.

Setelah menunggu sejenak, tak lama kemudian mengalunlah suara manjanya. “Aaay, maaf yaa ade telat nelpunnya… Tadi ada sedikit lembur, biasa laah, Bima nyuruh bikin konsep baru buat iklan produk shampo. Hmm, sayang, gimana, udah makan malem kah? Iyaa, ade udah maem kok… Sumpaah, kalo gak percaya tanya aja sama Bima… Oiyaa, tadi sore dapat gosip baru. Danny mau merit sama Joan! Iya, beneraaan… hahaha, Ayang gak percaya kaan? Aay… kita kapan doong? Masak keduluan Danny sih?”

Dan begitulah, seperti puluhan malam sebelumnya, obrolan itu berlanjut hingga lewat tengah malam, tak jarang ketika jam dinding menunjukkan waktu shalat Subuh, gadis itu masih tetap betah memegangi handphonenya, berbicara pada seseorang di seberang sana, kadang manja, serius, sesekali tawa pecah di sana. Tawa manja. Tawa bahagia. Tawa seorang gadis yang sedang dilanda cinta pada kekasihnya di ujung telepon sana.

*

Wanita setengah baya itu menyeka air matanya dengan tissue. Sudah berlembar-lembar tissue. Sudah sekian lama dia menangis di depan lelaki ganteng berkacamata itu. Bima. Sudah satu jam mereka mengobrol di kafe itu. Wanita itu, ibunya Gina, meneleponnya siang tadi, minta bertemu, tanpa sepengetahuan Gina, pesannya.

“Nak, tolong Gina. Tolong tante. Tante udah gak kuat melihat Gina seperti ini. Semakin hari badannya semakin kurus.. Setiap malam Gina tak pernah absen berbicara di handphone, sampai dini hari. Tante takut dia jatuh sakit…”

Lelaki berumur 35 tahun itu hanya menghela nafas. Meraih tangan wanita itu, dia hanya bisa berujar, “Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, Tante. Mengajaknya makan malam di luar, membawanya liburan di luar kota, menghujaninya dengan kasih sayang dan cinta yang saya miliki untuknya… bagaimana kalau kita bawa Gina ke psikiater saja? Mungkin sedikit membantu…” gumamnya.

“Entahlah, Nak. Tante bingung. Kalau nak Bima mencintainya, katakan padanya, Nak… Tolong dia melupakan… Tante mohon...” sahut wanita itu dengan tatapan memohon di balik tirai air matanya.

Ah, Gina. Mengapa harus seperti ini, desah Bima dalam hati. Disapunya wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kalau aku tidak mencintaimu sedalam ini, aku tak akan bertahan sampai di sini, Gina. Mengapa lelaki itu harus hadir dalam hidupmu sebelum aku?? Mengapa pula dia membuatmu jatuh cinta sedalam ini?? Mengapa pula dia membuatmu melupakan kenyataan yang sebenarnya?? Tidakkah kau lelah berada dalam kondisi ini? Tidakkah kau iba melihat kesedihan ibumu seperti ini? Apa yang kau cari? Langit jingga dengan pantai impianmu? Hujan di pagi hari dengan secangkir kopi luwak kesukaanmu? Atau pegunungan dengan sunset sebagai latarnya? Itu kan yang pernah kau bilang padaku, yang kau ingin dapatkan bersamanya? Mengapa tidak denganku saja? Aku bisa memberimu lebih dari itu, Gina!

Pemandangan senja di sungai Venice, pantai surga di Bali? Resort erotis di Lombok?  Pegunungan Himalaya? Mau yang mana? Pilih maumu yang mana, Gina! Aku akan dengan senang hati memenuhi semua inginmu, asalkan kau bersamaku.

Kau pernah bilang, kau ingin menikah dengannya. Memiliki rumah di tepi danau, agar kau dan dia bersama anak-anakmu bisa setiap saat berenang, memancing, atau sekedar menikmati riaknya. Kau juga pernah bilang, tak pernah jatuh cinta seperti ini sebelumnya. Berbicara di telepon setiap malam dengannyalah yang bisa menuntaskan rindumu padanya, karena jarak Jakarta-Balikpapan tak memudahkan kalian bertemu setiap saat kalian mau.

“Dia kerja di perusahaan minyak, Bim. Ditempatkan atasannya di sana. Karirnya memang sedang melesat sekarang, gak bisa bolak-balik seenak perut…” ujarmu kala itu ketika aku menanyakan tentang hubungan jarak jauh kalian yang acapkali membuatmu bermuram durja karena begitu merindukannya.

Ya, lelaki itulah yang membuatmu seperti ini. Lelaki lulusan Harvard itu. Lelaki yang membuatmu jatuh hati setengah mati. Lelaki yang kau titipi hatimu seutuhnya. Lelaki yang bersamanya kau ingin memiliki anak banyak, katamu waktu itu. Lelaki bernama Baron Sastrawiguna itu.

“Nak Bima, Tante pulang dulu. Kalau kau ada waktu luang, mampirlah ya?” wanita itu memutus lamunannya.

“Saya antarkan Tante…” tawarnya.

“Tidak usah, Nak Bima. Tante pake taksi saja. Sudah cukup tante menyita waktu kerja nak Bima siang ini. Sebelum pulang, tante mau mampir ke tempat lain dulu…”

“Sudah sore begini, Tante mau kemana?”

“Tante mau mampir ke pemakaman Baron… , sudah cukup lama tante  tidak nyekar. Tragedi pesawat jatuh itu membuat tante selalu urung menengok makamnya. Selalu menorehkan perih di hati tante, apalagi mengingat tragedi itu membuat Gina seperti ini, tak bisa menerima kenyataan, hidup dalam ilusinya sendiri. Tapi hari ini, tante ingin ke sana. Entah, mungkin dengan ini bisa sedikit menenangkan hati tante. Tante pamit,” ucapnya lirih, mencoba menata hati dan suaranya.

Bima hanya bisa mengangguk hormat. Dipandanginya punggung wanita itu. Ibu dari perempuan yang selama ini begitu dicintainya.

Ah, Gina, benarkah suara Baron yang kau dengar setiap malam? Suara roh-nya dari alam sana? Atau… itu suara dari dalam kepalamu sendiri? Entahlah…

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

And high up above or down below
When you're too in love to let it go
But if you never try you'll never know
Just what you're worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you



(coldplay-fix you)

Saturday, November 12, 2011

kadang begitu sulit mengentaskan banyak tanya di kepala ini..
sampai-sampai aku ingin memegang kedua bahumu, dan berkata padamu dengan keras, "mengapa begitu sulit untuk mengatakannya??!"
namun terkadang pula begitu mudah untuk mengetahui betapa kau..
seperti ketika aku menemukan sebatang cokelat silverqueen yang sudah hampir meleleh kepanasan di dalam tas merahmu, yang kau belikan kemarin lusa.
atau seperti ketika aku menemukan tulisanmu di blog milikmu.
atau seperti ketika aku menatap padamu.
atau seperti ketika aku tenggelam dalam rengkuhmu.

Tuesday, November 08, 2011

my simply perfect life
ingin memerangkap waktu
ingin terperangkap waktu
ingin diperangkap waktu
apapun itu
ketika aku bersamamu
bersama anak-anak kita
ketika kita tertawa riuh
di tengah kusut masai seprei kasur yang baru kuganti
di tengah berantakannya mainan di kamar yang baru tadi pagi kurapikan
aku, kau, dan anak-anak kita

Monday, November 07, 2011

terimakasih ya Allah, telah mengantarkan kami ke tempat ini


tempat orang terkasih kami, Muhari Rubadi berada jauh dari kami setiap hari.

kini kutahu, betapa di sini dia menitikkan keringat dan terengah lelah demi kelangsungan hidup keluarganya

betapa dari tempat ini dia mengirimkan banyak sekali SMS penenang hatiku ketika dilanda rindu atau khawatir akannya

betapa dari tempat ini dia duduk sendiri dan berbicara pada anak-istrinya via HP dengan sinyal yang timbul tenggelam (akibat hutan rimbun penuh satwa itukah sayang?)

betapa dari sini pula dia meniupkan doa sunyi agar kami senantiasa satu dalam segala kondisi, agar kami senantiasa kuat dalam setiap badai.

lindungi selalu suamiku, Allah.

juga tempat mirip film tranformers ini.

amiin...

Wednesday, November 02, 2011

tak henti bertanya
kapan aku bisa memelukmu tanpa
khawatir akan detak jam dinding
akan waktu yang terus melaju tanpa bisa kuhentikan

aku benci ketika mengetahui
kau baik-baik saja ketika jauh dariku
sementara aku merindui
aku benci ketika kau bilang padaku
agar bersabar
dan berdamai dengan waktu
sementara aku sesak di dada

ah perasaan macam apa pula ini??

aku marah ketika kau tak bisa menerima
ketika aku menghendaki hendakku
ketika aku menginginkan inginku
ketika aku beralasan alasanku
bahwa sebenarnya aku ingin bersamamu
aku bisa, tapi aku tidak mau tidak bersamamu
aku tidak ingin begitu, seperti maumu

aku baik-baik saja, percayalah
ada di sekitarmu, membuatku yakin
aku bisa berdiri...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...