Friday, November 18, 2011

Kiran, di Antara Kekerasan Domestik dan Dogma

OPINI | 22 March 2010 | 13:57 199 19 3 dari 4 Kompasianer menilai Inspiratif


Wajah keadilan yang dianut oleh peradilan Inggris pada tahun 1992 berubah lantaran Kiranjit Ahluwalia.
 
Dia bukanlah sesiapa, melainkan hanya seorang ibu rumah tangga keturunan Punjab  (India)  yang berimigrasi ke Inggris mengikuti suami. Prototipe “wanita timur” yang tradisional.

Kiran, demikian biasa Ia disapa  semasa gadis, harus mendekam dalam penjara. Divonnis bersalah atas pembunuhan yang Ia lakukan terhadap Deepak, pria pemabuk yang menikahinya.

Hasrat kejam itu tidak lahir begitu saja, melainkan hasil reaksi atas apa yang dideritanya selama kurang lebih 10 Tahun, yakni kekerasan (domestik) yang dilakukan si korban.  Yang populer dikenal dengan nama, “Keketasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)”.  Deepak kerap memukulinya bahkan juga memerkosa. Pernah terjadi Kiran yang dalam keadaan hamil terjatuh dari loteng lantaran dipukuli oleh Deepak. tapi Ia sudih berbohong ketika dokter yang merawatnya, menayakan musabab sehingga ia terjatuh.

Di malam yang naas itu, Deepak usai menyiksa istrinya,  tertidur pulas dalam kamar.  Kiran masuk mengendap. Ia menyiram kaki Deepak dengan bensin kemudian menyulutkan  api dari suluh yang Ia bawa. Sayangnya, api itu tidak hanya membakar kaki  tapi juga anggota tubuh  yang lain.

Kiran kemudian ditemukan oleh Opsir O’Donell di halaman rumah bersama dua orang anaknya. Ia dalam keadaan shock, diam dan sedingin udara Southhall ketika itu, Selasa 9 Mei 1989.

Kiran sesungguhnya hanya ingin membakar kaki suaminya agar Ia tak terkejar lagi ketika berlari untuk menghindar dari kekejaman Deepak. Tapi sayangnya, lima hari setelah kejadian, Deepak menghembuskan nafas terakhir. Bahagiakah Kiran dengan semua itu? Ia lebih memilih diam bahkan tak ingin mengungkap hal yang mendorong Ia melakukannya meskipun di depan persidangan. Padahal berdasarkan kalkulasi penasihat hukumnya (Miriam Taylor dan Chris Jones), hanya itu bukti a De Charge (yang menguntungkan) baginya.  Juga dorongan untuk mengungkap fakta telah dilakukan Radha Djalal dari Southall Black Sisters (kelompok pembela hak perempuan). Tapi sekali lagi, Kiran enggan untuk mengungkapkannya.

Akibatnya, Kiran terlepas dari “penjara kekerasan” tapi masuk ke dalam penjara yang sesungguhnya selama seumur hidup di Mullwood Hall.  Dan anaknya yang yatim itu, Sandeev dan Rajeev harus dipelihara diperlihara oleh mertuanya.

Kiran tetaplah Kiran meskipun tinggal di Negara liberal seperti Inggris. Tetap jadi “cermin” wanita timur yang tabah, mengabdi pada suami dan tetap memilih diam demi menjaga martabat keluarga. Derita yang dialaminya akan menjadi aib mana-kala diketahui oleh khalayak. Pandangan yang mengungkung itu, tidak hanya terjadi di India tapi juga di Indonesia. KDRT jamak terjadi di sekitar kita namun tak terungkap.Ada beberapa kasus seperti itu yang dikeluhkan oleh ibu rumah tangga kepada biro hukum yang saya pimpin. Namun lebih banyak yang batal di advokasi, tertutupi oleh sesuatu yang mengatas-namakan “martabat keluarga”. Tentunya, standar Kode Etik Advokat Indonesia melarang saya untuk mengulas kasus tersebut di depan public terlebih lagi melalui  jejaring sosial.

Karenanya sepenggal kisah Kiranjit Ahluwalia itu jadi penting artinya untuk melepaskan wanita Indonesia dari pandangan yang keliru tentang bagai-mana meletakkan kesetaraan dalam relasi keluarga. Bahwa laki-laki memang kepala rumah-tangga tapi bukan berarti ia boleh memaksakan dipatuhi segala perintahnya bak sang diktator. Apalagi jika disertai dengan kekerasan.  Bukankah saat ini, sejumlah regulasi telah di keluarkan untuk melindungi perempuan dari kekerasan domestik  misalnya di Indonesia telah dilahirkan UU No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Perlindungan itu tidaklah seperti mesin yang berjalan secara otomatis. Dia memerlukan kemauan yang kuat dari perempuan untuk menegakkannya. Karena bagai-manapun KDRT lebih banyak melumat perempuan sebagai korban.

Atas dasar realitas seperti itu, maka studi tentang KDRT  di Indonesia jangan lagi melulu dimulai dari pertanyaan, mengapa KDRT terjadi? Tapi lebih menekankan pada pertanyaan Kenapa Perempuan Lebih Memilih Diam? Seperti sikap yang mulanya ditunjukkan oleh Kiranjit Ahluwalia itu. Hingga suatu ketika, Veronica “Ronnie” Scott, sahabatnya sesama tahanan, mengetahui secara pasti derita yang dialami Kiran  dan mengadukan hal itu   kepada Lord Foster seorang pengacara yang kebetulan adalah saudaranya.  Bergulirlah kembali perkara Kiranjit Ahluwalia pada tingkat banding. Orang ramai membicarakannya dan menganalisa. Apalagi Southall Black Sister (SBS) tak henti-hentinya berdemonstrasi menuntut pembebasan Kiran.

Akhirnya persidangan di tahun 1992 itu memutuskan mengubah putusan pengadilan tingkat pertama dari “pembunuhan biasa” dengan hukuman penjara seumur hidup itu menjadi “pembunuhan” yang kemudian membebaskan Kiranjit Ahluwalia dari tahanan. Hakim mengkualifisir bahwa kekerasan yang dialami oleh Kiran adalah provokasi yang mengakibatkan Ia menderita depresi.

Selanjutnya hakim berpendapat ia memang tak berniat membunuh. Kata Kiranjit di depan sidang, ‘’Saya tak pernah berencana membunuhnya. Saya hanya ingin ia berhenti menyakiti saya.’’ Menurut hakim, peristiwa terjadi karena Kiranjit menderita depresi berat akibat perlakuan Deepak. Vonis ini kemudian seperti ditulis The Guardian, 4 April 2007, menjadi preseden sejarah hukum di Inggris (Amran Nasution: hidayatullah)

Kata BBC News (12-11-2001) “Dengan Bantuan SBS, Ia menjadi symbol perjuangan kaum perempuan Asia melawan kekerasan domestic membantu mengubah sikap social dan mendorong orang untuk berbicara.”. Ya mestinya ibu rumah tangga di Indonesia harus lebih berani untuk mengungkapkan kekerasan yang dialaminya, bukan malah mendiamkan hanya lantaran dogma yang mengatas-namakan “martabat keluarga”.  Jika dogma itu terus dipelihara, Saya khawatir jangan-jangan pada akhirnya kekerasan domestik jadi perkosaan yang dimikmati.

 Akhir kata, hentikan kekerasan terhadap perempuan !!! Wassalam


Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/22/kiran-di-antara-kekerasan-domestik-dan-dogma/

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...