Monday, November 14, 2011

Nyanyian Ilusi


Gina merebahkan tubuh semampainya di atas tempat tidur besar itu, seakan ingin melepaskan penatnya setelah bekerja seharian di perusahaan advertising milik temannya. Memandangi langit-langit kamar berukuran luas itu, sejenak terbang bersama ingatan akan kejadian menarik tadi sore. Wajah cantik gadis berusia 28 itu terlihat lelah. Rambut ikal hitam panjangnya tergerai membingkai wajah ayu kuning langsatnya. Mata bulat bernaung alis tebalnya pun terlihat capek. Teringat sesuatu, membuatnya tersadar dan cepat-cepat bangkit berdiri, berjalan cepat ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar besar itu.

Tak membutuhkan waktu lama, gadis itu menyelesaikan mandinya. Bersih dan segar, Gina tersenyum sendiri melihat ke arah jam dinding ungu bermotif bunga itu. Mendesis kecil, ia cepat-cepat melepaskan handuk, mengenakan baju tidurnya, dan mengelap rambut basahnya sekenanya. Meraih smartphonenya di dalam tas merk Hermes cokelat, lalu menekan tombol yang sudah begitu dihafalnya di luar kepala.

Setelah menunggu sejenak, tak lama kemudian mengalunlah suara manjanya. “Aaay, maaf yaa ade telat nelpunnya… Tadi ada sedikit lembur, biasa laah, Bima nyuruh bikin konsep baru buat iklan produk shampo. Hmm, sayang, gimana, udah makan malem kah? Iyaa, ade udah maem kok… Sumpaah, kalo gak percaya tanya aja sama Bima… Oiyaa, tadi sore dapat gosip baru. Danny mau merit sama Joan! Iya, beneraaan… hahaha, Ayang gak percaya kaan? Aay… kita kapan doong? Masak keduluan Danny sih?”

Dan begitulah, seperti puluhan malam sebelumnya, obrolan itu berlanjut hingga lewat tengah malam, tak jarang ketika jam dinding menunjukkan waktu shalat Subuh, gadis itu masih tetap betah memegangi handphonenya, berbicara pada seseorang di seberang sana, kadang manja, serius, sesekali tawa pecah di sana. Tawa manja. Tawa bahagia. Tawa seorang gadis yang sedang dilanda cinta pada kekasihnya di ujung telepon sana.

*

Wanita setengah baya itu menyeka air matanya dengan tissue. Sudah berlembar-lembar tissue. Sudah sekian lama dia menangis di depan lelaki ganteng berkacamata itu. Bima. Sudah satu jam mereka mengobrol di kafe itu. Wanita itu, ibunya Gina, meneleponnya siang tadi, minta bertemu, tanpa sepengetahuan Gina, pesannya.

“Nak, tolong Gina. Tolong tante. Tante udah gak kuat melihat Gina seperti ini. Semakin hari badannya semakin kurus.. Setiap malam Gina tak pernah absen berbicara di handphone, sampai dini hari. Tante takut dia jatuh sakit…”

Lelaki berumur 35 tahun itu hanya menghela nafas. Meraih tangan wanita itu, dia hanya bisa berujar, “Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, Tante. Mengajaknya makan malam di luar, membawanya liburan di luar kota, menghujaninya dengan kasih sayang dan cinta yang saya miliki untuknya… bagaimana kalau kita bawa Gina ke psikiater saja? Mungkin sedikit membantu…” gumamnya.

“Entahlah, Nak. Tante bingung. Kalau nak Bima mencintainya, katakan padanya, Nak… Tolong dia melupakan… Tante mohon...” sahut wanita itu dengan tatapan memohon di balik tirai air matanya.

Ah, Gina. Mengapa harus seperti ini, desah Bima dalam hati. Disapunya wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kalau aku tidak mencintaimu sedalam ini, aku tak akan bertahan sampai di sini, Gina. Mengapa lelaki itu harus hadir dalam hidupmu sebelum aku?? Mengapa pula dia membuatmu jatuh cinta sedalam ini?? Mengapa pula dia membuatmu melupakan kenyataan yang sebenarnya?? Tidakkah kau lelah berada dalam kondisi ini? Tidakkah kau iba melihat kesedihan ibumu seperti ini? Apa yang kau cari? Langit jingga dengan pantai impianmu? Hujan di pagi hari dengan secangkir kopi luwak kesukaanmu? Atau pegunungan dengan sunset sebagai latarnya? Itu kan yang pernah kau bilang padaku, yang kau ingin dapatkan bersamanya? Mengapa tidak denganku saja? Aku bisa memberimu lebih dari itu, Gina!

Pemandangan senja di sungai Venice, pantai surga di Bali? Resort erotis di Lombok?  Pegunungan Himalaya? Mau yang mana? Pilih maumu yang mana, Gina! Aku akan dengan senang hati memenuhi semua inginmu, asalkan kau bersamaku.

Kau pernah bilang, kau ingin menikah dengannya. Memiliki rumah di tepi danau, agar kau dan dia bersama anak-anakmu bisa setiap saat berenang, memancing, atau sekedar menikmati riaknya. Kau juga pernah bilang, tak pernah jatuh cinta seperti ini sebelumnya. Berbicara di telepon setiap malam dengannyalah yang bisa menuntaskan rindumu padanya, karena jarak Jakarta-Balikpapan tak memudahkan kalian bertemu setiap saat kalian mau.

“Dia kerja di perusahaan minyak, Bim. Ditempatkan atasannya di sana. Karirnya memang sedang melesat sekarang, gak bisa bolak-balik seenak perut…” ujarmu kala itu ketika aku menanyakan tentang hubungan jarak jauh kalian yang acapkali membuatmu bermuram durja karena begitu merindukannya.

Ya, lelaki itulah yang membuatmu seperti ini. Lelaki lulusan Harvard itu. Lelaki yang membuatmu jatuh hati setengah mati. Lelaki yang kau titipi hatimu seutuhnya. Lelaki yang bersamanya kau ingin memiliki anak banyak, katamu waktu itu. Lelaki bernama Baron Sastrawiguna itu.

“Nak Bima, Tante pulang dulu. Kalau kau ada waktu luang, mampirlah ya?” wanita itu memutus lamunannya.

“Saya antarkan Tante…” tawarnya.

“Tidak usah, Nak Bima. Tante pake taksi saja. Sudah cukup tante menyita waktu kerja nak Bima siang ini. Sebelum pulang, tante mau mampir ke tempat lain dulu…”

“Sudah sore begini, Tante mau kemana?”

“Tante mau mampir ke pemakaman Baron… , sudah cukup lama tante  tidak nyekar. Tragedi pesawat jatuh itu membuat tante selalu urung menengok makamnya. Selalu menorehkan perih di hati tante, apalagi mengingat tragedi itu membuat Gina seperti ini, tak bisa menerima kenyataan, hidup dalam ilusinya sendiri. Tapi hari ini, tante ingin ke sana. Entah, mungkin dengan ini bisa sedikit menenangkan hati tante. Tante pamit,” ucapnya lirih, mencoba menata hati dan suaranya.

Bima hanya bisa mengangguk hormat. Dipandanginya punggung wanita itu. Ibu dari perempuan yang selama ini begitu dicintainya.

Ah, Gina, benarkah suara Baron yang kau dengar setiap malam? Suara roh-nya dari alam sana? Atau… itu suara dari dalam kepalamu sendiri? Entahlah…

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

And high up above or down below
When you're too in love to let it go
But if you never try you'll never know
Just what you're worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you



(coldplay-fix you)

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...