Wednesday, December 14, 2011

selaput cinta

Krek... Krek... Kreek...
Suara itu lagi. Ya, satu tahun terakhir aku menjadi akrab dengan suara itu.
Suara per buaian adikku yang bergoyang naik-turun, kalau dia bergerak di dalamnya, menandakan dia telah terjaga, atau ada sesuatu yang membuat tidurnya terganggu.

Seketika itu pula mama ikut terjaga.
Mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk bagian bawah buaian yang juga adalah bagian bokong adikku, lalu keluarlah senandung kecil dari mulut mama.
Biasanya senandung shalawat. Bisa juga senandung lagu lama, tentang cerita seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.

Buah hatiku hubungan jiwa
Tidurlah anak tidurlah pejamkan mata ya sayang
Dodoi si dodoi dodoi si dodoi

Janganlah anak lasak gelisah
Ayahmu jauh ya anak dirantau orang ya sayang
Dodoi si dodoi dodoi si dodoi

Tidurlah anak si buah hati
Sambil dibuai kuharap tidur bermimpi ya sayang
Dodoi si dodoi dodoi si dodoi


Selalu senandung itu.
Senandung mantra penidur, pikirku.
Senandung yang siapapun mendengarkannya dengan seksama akan ikut terbuai dan terlena, hanyut mengikuti mantra itu terbang ke alam mimpi, terbang di sela-sela ranting dan dedaunan yang ditiup angin sejuk.

Kreek... Kreek...
Buaian itu terus bergerak naik-turun sesuai dengan pok-pok lembut telapak tangan mama di bokong adik, seirama dengan senandung kecil merdu milik mama.

Tak lama, adikku kembali terlena. Mungkin sudah merasa tenang karena sudah merasakan telapak tangan mama di bokongnya, tak takut ditinggal sendiri lagi, percaya bahwasanya mama selalu ada di sekitarnya, menjaga dan memastikan dia aman dari segala kemungkinan yang bisa mengganggu tidurnya.

Ya, mama, memang selalu ada untukku dan adik.
Tahukah kau?
Bahkan dalam tidur lelapnya sekalipun, alam bawah sadarnya seakan selalu berjaga, seperti alarm yang siap membangunkan kapanpun, kalau sesuatu terjadi pada buah hatinya. Dan hanya mama yang memiliki kemampuan ini.

Aku percaya.

Aku pernah menguji hal ini pada ayahku.
Saat itu, ayah tertidur di samping buaian adik, sementara mama sibuk mencuci di belakang.
Tiba-tiba adik terbangun. Merintih. Awalnya lirih. Mungkin mengira akan segera dipok-pok oleh mama.
Kreek... Kreek...
Buaiannya ikut berbunyi.
Ayah tak bergerak. Dengkur teraturnya tak berubah sedikitpun.
Adik masih merengek pelan. Lama-lama semakin keras. Lalu akhirnya dia menangis.
Menjerit.
Ayah tetap tak terjaga. Tak beranjak dari mimpinya.

Akupun segera berlari ke belakang, memanggil mama.
Seketika mama menghambur ke kamar, memeluk adik, menenangkannya.
Tak lama, adik kembali tenang, menyusu pada mama, dan senandung itu pun terdengar lagi...

Hmm. Aku pun pernah menguji mama.
Di tengah riuh suara per buaian adik, aku berpura-pura merintih, menggapai-gapai mama.
Seketika itu pula mama segera membetulkan letak selimutku, memegang tanganku, dan mengusap-usap punggungku lembut. Menenangkanku. berbisik padaku, bahwa mama ada di sampingnya.
Aku memberanikan diri mengintip dari celah kedua kelopak mataku.
Mama, dengan satu tangan tetap menepuk-nepuk buaian adik, dan tangan yang satu lagi mengusap-usap lembut punggungku.

Ah mama, walaupun umurku baru 3,5 tahun, aku merasa kagum.
Bagaimana bisa gerakan tanganmu begitu sinkron, antara kanan dan kiri?
Padahal kulihat kau begitu mengantuk, suaramu hampir tenggelam ditelan lelah. Bagaimana bisa kau membagi kasihmu di saat yang sama, padahal gurat lelah itu tak pernah absen menghiasi wajahmu?

Ah mama, mereka pernah bilang, kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.
Mereka juga pernah bilang, kasih ibu bagaikan air sejuk yang mengalir tak henti, memberi kehidupan pada semesta.

Aku ingin bilang, kasihmu adalah seperti pok-pokmu di bokong adik. Atau usapanmu di punggungku, atau bisikan bujukmu, atau senandung shalawat dan dodoimu.

Sederhana, seperti selaput tipis lembut, nyaris tak terlihat namun jelas terasa, kuat tanpa cacat, membungkus aku dan adik.

Aku yakin, selaput itu akan terus membungkus kami, sampai nanti kami besar, saat kami tak perlu pok-pok dan senandung mama, bahkan sampai nanti saat mama tak dapat bersenandung lagi.

Selaput yang akan selalu membungkus kami, sejak dalam kandungan, hingga kemanapun kami melangkah. Yang akan selalu menuntun kami kembali pulang pada mama, yang akan selalu mengupgrade otak dan hati secara otomatis dan berkala, kami agar selalu ingat jalan pulang, terus dan terus ingin membalas cinta dan jasamu, mama.


Selaput cinta mama...
gambar diambil dari Mother_and_Child_by_v5design

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...