Sunday, February 12, 2012

Wanita Berkerudung Duka


Perkenalkan, namaku Wanita Berkerudung Duka.

Aku baru saja mengadakan sebuah perjalanan panjang.
Izinkan aku rehat sejenak melepas lelah hatiku, mengendurkan otot-otot kemarahanku.
Mengeringkan keringat di sekujur hatiku.

Perkenalkan, namaku Wanita Berkerudung Duka.


Mungkin sebelumnya kita pernah bertemu, berpapasan bahkan bersinggungan.
Namun aku tak terlalu ingat padamu, dan aku yakin kau pun tak akan mengingat rautku.
Aku memang mudah dilupakan. Aku memang mudah diabaikan.
Terlalu banyak siluet-siluet dalam kehidupanku.
Namun hanya sedikit yang membekas tertanam dalam ingatanku, hanya sedikit yang terpancang seperti pasak berkarat di otak kecilku.

Siluet yang entah bagaimana terekam otomatis dalam bulir-bulir kenangan gelap, padahal usiaku saat itu masih terhitung dengan satu tangan. Siluet yang selalu senang bermain-main di atasku, memaksaku menuruti keinginannya, memuaskan nafsu setannya, tertawa melihatku menelan tangis dan pedih, memamerkan cemeti bernama otoritas, membawa cambuk bersisik berbisa, mengeruk milikku luar dalam, menghisapku hingga kering dan layu sebelum waktunya.
Mungkin sudah nasibku bertemu dengan siluet-siluet serupa. Beda topeng, namun sama.

Perkenalkan, namaku Wanita Berkerudung Duka.

Aku memang punya cinta. Namun cintaku serupa simalakama yang pernah hampir kumakan dan tak kuasa kubuang. Cintaku terhalang dogma status yang tak terelakkan. Cintaku terjungkal karena cengkeraman siluet setan yang tak akan pernah bisa kuenyahkan sampai kapanpun. Cintaku tumbuh bersayap semakin perkasa dan kuasa, semakin tak tertahankan dan tak akan pernah bisa kugenggam.

Aku, Wanita Berkerudung Duka.

Lelah menanti datang pelangi dan hujan. Hidup dan perjalananku terlalu tandus dalam kemarau panjang.
Perjalananku memang hampir berakhir.
Pelangi yang kucari, ternyata tersembuyi di liang lahat kematianku.
Dan kuberitahukan padamu, inilah tempat tinggal baruku, tempat deritaku berakhir. Tengoklah aku kapan-kapan bilamana kau sempat. Bawakan aku rumpun melati beserta ceritamu. Yakinlah, aku ada di situ, menunggumu, mendengarkanmu, dan akan terus mencintaimu.

gambar diambil dari sini

Tuesday, February 07, 2012

tentang airmataku tadi

sungguh, aku tidak ingin seperti itu
aku tidak mau seperti sebrengsek itu
dengan muntahan kalimat yang tidak seharusnya
dengan amarah tak perlu yang tidak pada tempatnya
dengan airmata yang mengaliri hati tanpa sempat kucegah

sebenarnya semudah memelukku
sebenarnya semudah berbisik kepadaku
ya, semudah itulah sebenarnya aku
tapi entah mengapa aku pun lupa cara memintanya

dan maafkanlah aku kalau aku
sering lupa bagaimana
caranya berbicara...

bersediakah kau berdamai (lagi) ?

 















picture taken from here




LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...