Sunday, June 10, 2012

ketika semua sudah...

Ya Maha...
Kiranya sudah cukup sampai di sini
usahaku, ikhtiarku, peringatanku
alarm tanda bahaya itu sudah berbunyi
namun tetap saja tak bekerja

Sekiranya ini belum harus berujung,
kuserahkan semua urusan ini
padaMu Ya Maha Perancang Skenario
atas apa yang telah tergaris
atas peta yang telah terancang sempurna
atas pergerakan hati dan pikiran segala makhluk
atas terbolak-baliknya rasa
dan atas takdir si Fulan itu

Tentang apa yang terjadi nanti
tentang apa yang akan dipertontonkan sang waktu
tentang apa yang telah termaktub di hari esok
dan tentang hikmah yang bersemayam
di balik peristiwa ini

kupasrah

6 Juli 2011
Masih tentang resahku, sayang.
Tentang bagaimana nanti jika kau temukan lagi jejak itu.
Tentang bagaimana nanti jika ingatan tentangnya menyentuh benakmu.
Tentang bagaimana matamu bergerak mencari sesuatu yang mungkin pernah tertinggal.
Tentang bagaimana desir jantungmu seiring kentalnya ingatan tentangnya.
Tentang bagaimana rendezvous di sepanjang jalan kenangan.
Tentang putaran kaset yang direwind kembali.
Aku ingin, aku rindu melihat tempat itu, tak tertahan...
Namun aku pun tak bisa menghalau galauku...
Bisakah aku?
:'(

Cupcake Pisang Kukus


Sabtu pagi yang mendung, di tengah kerjaan rumah yang sebenernya gak ada selesainyaaa, Luna melongok ke meja makan, gantian ke freezer, lalu dengan tangan memeluk guling kesayangan dan wajah cemberut, menghampiriku dan berkata, “Ma, kok mama belum beli biskuit buat Una sih? Mama lupa terus ah…!” ketusnya.

Aku yang sejak tadi sibuk dengan lipatan pakaian terdiam. Oh iya, cemilan di freezer udah abis dari kemarin…!

Bergegas ke dapur, ada pisang ambon satu sisir (untuk kue ini, aku cuma pake dua buah pisang). Ada keju cheddar sisa separuh batang di kulkas. Tepung, gula, telur dan baking powder lengkap.

Oke, Na, kita bikin cupcake aja yaa. Tapi berhubung mama lagi males pake oven, kita kukus aja. Gak ngurangin kelezatannya kok. Janji! :D


Sunday, June 03, 2012

kau tak akan pernah bisa menanggungnya

Aku tak bisa terima.

Kau masih bisa tersenyum dan menerima berkah hidupmu seakan-akan kau tidak punya dosa di masa lalu yang harus kau bayar tak cukup hanya dengan sisa hidupmu namun juga kau harus bawa mati penyesalan dan dosa dan semua yang telah kau lakukan dan semua airmata darah dan teriakan putus asaku yang dulu tak pernah kau hiraukan.

Aku ingin kau membayarnya tak hanya dengan derita berkepanjangan namun dengan ketiadaan kehampaan dan kekosongan hidupmu.

Tapi siapalah aku?
Apalah dayaku?

Kenyataannya kau sebegitu beruntung, diberikan kemudahan dan hak akan kepemilikanmu sekarang.

Maka dari itu,
Jaga baik-baik jarak yang sudah begitu baik kurentang ini.
Jangan ganggu aku lagi.

Atau aku bisa...

Dan kau tak akan pernah bisa menanggungnya.
Membayangkannya pun kau tak akan bisa.

Pegang kata-kataku ini.

Masih Kurangkah?

Belajar mengeja kata 'tidak' tanpa takut dipersalahkan.
Ah, mengapa sulit sekali bergerak mantap tanpa menoleh kepada sapaan trenyuh perihal masa lalu?

Ah, jika saja kau mengetahui seberapa keras usahaku untuk membangun dan berdiam menyemedi di dalam cangkang amanku, agar tak sesiapa bisa menyentuhku.

Ataukah itu hanya kamuflase?
Aku bahkan lupa kapan terakhir aku bisa semarah ini lagi.

Kukira sudah sejauh ini, sudah cukup kokoh tembok itu kubangun.
Sudah sejauh ini, seperti sudah ribuan mil jarak waktu terentang.
Kupikir sudah cukup daya upaya untuk membuat kapalku tenang tanpa riak tak penting dari masa lalu.

Apa hak mereka untuk mengguncang kapalku?
Mengapa mereka tega mengoyakku?
Cukup, hentikan!
Atau usahaku selama ini akan menjadi sia-sia.

Atau memang aku yang terlalu ringkih?

Atau,
Kubungkam saja?!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...