Wednesday, July 25, 2012


Kepalaku seperti dihantam kesadaran demi kesadaran yang sepertinya datang terlambat
Terdiam hingga mengecil di tumpukan roletto yang berisik di sekelilingku, mencari celah pembenaran dan kata-kata penghibur sok maklum namun omongkosong
Aku yang salah
Aku yang salah
Aku yang salah
Aku tak bisa mengembalikan yang sudah retak, aku tak mampu lagi mengukir senyum palsu
Aku sudah terlampau menyakiti sekelilingku, aku lah yang membuatmu seperti ini, aku lah yang menitikkan nila ke dalam susu, aku lah pencipta badai ini.
Aku palsu, ya aku palsu.
Dan aku sendiri pun tak tahu siapa.
Siapa sebenarnya diriku. Yang kutahu adalah aku palsu. Entah, bagian mana yang palsu. Bagian yang busuk, atau bagian yang munafik.

Ya, begitulah.

Saturday, July 07, 2012

aku menyayangimu, nak, apapun artinya itu



Seperti apa gerangan cintaku padamu, nak?

Seperti apa gerangan seharusnya cinta seorang ibu kepada anaknya?

Seperti apa gerangan seharusnya kuukir rasa untukmu agar kelak kau bisa menamainya “Cinta ibuku sepanjang masa, mengalir tak henti dan lelah sepanjang nafasnya berhembus”?

Seperti lagu yang selalu salah satu dari kalian dendangkan sementara aku sibuk berkutat dengan pakaian kotor atau cucian piring “...kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali , bagai sang surya menerangi dunia…”

Terlihat lebay bukan, nak? Untung tak jadi kubuat status di facebook, karena biasanya status lebay bin alay begitu bukannya ditanggapi, melainkan dicibir (untung tak ada button ‘unlike’, ‘dislike’ atau ‘unwanted’ di situ). Ah su’udzon ya aku nak?

Namun begitulah, nak, terkadang aku mencurigai diriku sendiri. Cintakah aku pada kalian? Cinta macam apa yang kupunya ini, karena sepertinya jauh dari ideal. Bagiku, selama ini, yang dinamakan cinta itu adalah kata-kata lembut tanpa amarah dan jawaban-jawaban tepat untuk setiap pertanyaan, atau pelukan hangat tatkala kalian memberantaki rumah, bukannya ledakan amarah atau kebawelanku, ya nak?
 
Lalu ketika itu, nak, seseorang datang menghampiriku. Sungguh aku tak mengenalnya. Tapi wajahnya terlihat ramah, matanya berbinar dan senyumnya cukup menyenangkan. Dia datang menghampiriku dan mengajukan beberapa pertanyaan padaku.

“Apakah ketika mereka terlelap, kau memiliki dorongan hasrat untuk memeluknya, menciumnya satu per satu, melindunginya, tak akan membiarkan seekorpun nyamuk menghisap darah mereka, atau dingin membuat tidur mereka terganggu?”

“Apakah ketika satu dari mereka sakit, kau terjaga sepanjang malam seraya berdoa sekiranya sakitnya tersalin ke tubuhmu sehingga kau saja yang menanggung sakitnya?”

“Apakah ketika mereka terlalu lama bermain di luar rumah, kau medadak berubah menjadi ibu terbawel di dunia, memanggil satu per satu mereka dengan nada paling cerewet dan menyebalkan, dan akhirnya mereka menurutimu dengan mimik kesal karena kau terlalu banyak omel?”

“Apakah ketika deras hujan turun ke bumi sementara mereka tak ada di dalam jangkauan penglihatanmu, kau terdekap rasa khawatir takut mereka basah kehujanan, lalu ketika mereka pulang kau bergegas mengambilkan handuk lalu dengan cerewet menyuruh mereka mandi lalu sesudahnya melumuri hampir seluruh tubuh mereka dengan minyak kayu putih sekira dingin terusir, lalu mereka berucap “Mama lebay!” dan kau hanya bisa menghela nafas?”

“Apakah ketika salah satu mereka jauh darimu, kau makan, namun sesulit menelan batu ketika kau teringat dia tak di situ makan makanan yang sama,lalu kau sangat bersedia untuk tak jadi melanjutkan makan, menyimpankan untuk mereka di lemari makan, dan dipenuhi lega ketika mereka melahapnya, bahkan ketika mereka terlupa bertanya padamu “mama sudah makan?” namun sama sekali tak masalah buatmu?”

“Apakah ketika temen-temannya datang ke rumah, menjemputnya bermain futsal di lapangan kompleks sebelah, kau siap dengan berbagai pertanyaan “Sudah shalat belum? Mainnya di mana? Pulang jam berapa? Pakai topi! Sebelum adzan maghrib harus sudah pulang ya! Hati-hati bersepeda! Jangan jajan sembarangan!” Lalu dengan wajah sebal dia menjawab dengan kalimat, “Iyaa maaa…!”

“Apakah sesekali pernah terlotar dari mulut mereka pernyataan “Kenapa sih mama bawel terus? Aku tuh sudah bisa jaga diri, ma, santai aja…” namun kau masih tak percaya dan menatapnya sangsi?”

Sepertinya masih banyak yang akan ditanyakannya, nak, namun mungkin karena dia tahu migrenku sedang kambuh, maka dia menghentikan pertanyaannya sampai di situ.
 
Dan kau tahu, nak, apa jawabanku atas semua pertanyaannya? “YA” Ya, semua kujawab dengan satu kata : YA.

 Dan dia pun berujar dengan sok tahu,”Kalau begitu, itulah sebenar-benar cinta. Tak perlulah kau menterjemahkannya ke dalam bahasa rumit, atau mencari terjemahannya di kamus apapun, atau menyelaraskannya ke lagu-lagu romantis. Cukuplah kau mengikuti perintah di kepalamu, mendengarkan nasihat nuranimu…”

Maka, nak, entahlah, apakah aku sudah pantas disebut ibu dalam artian sebenarnya. Aku takut, nak, takut sekali. Pernah kau dengar 'doa untuk orang tua'?  Salah satu dari kalian selalu mendengungkannya di setiap ba’da shalatnya “Ya Allah, sayangi kedua orang tuaku, sama seperti ketika mereka menyayangi hamba ketika kecil…” maka aku tak tahu, ‘sayang’seperti apa yang kupunya untuk kalian, atau pantaskah aku menerima doa itu, atau apakah aku sudah menyayangi kalian seperti seharusnya?

 
Bukankah kalau aku sayang kalian, tak akan kubiarkan salah satu dari kalian jauh dariku untuk menuntut ilmu jauh di sana? Tapi mereka semua bilang padaku, nak, itu baik untukmu, yang terbaik malah.

Sejatinya, aku paling malas, nak, mengikuti berbagai undangan seminar parenting. Selain tak punya banyak sisa waktu, aku pikir aku hanya membutuhkan suara hatiku, meniru kebiasaan menyayangi abah mamaku dulu terhadapku. Terserahlah apa kata teori, nak, aku hanya perlu binar manik matamu setiap mengambil keputusan harus bersikap seperti apa padamu. Maka tak perlu juga buku semacam 1001 cara mendidik anak yang baik, atau 1300 macam jawaban atas pertanyaan anak. Lebay ya, nak, mana ada buku semacam itu.

 Ya, sekali lagi, aku hanya perlu menatap binar matamu. Dan mungkin jarimu menyentuh wajahku.

Oh ya, tokoh ‘seseorang’ di atas itu fiktif, nak. Maka tak usahlah mencari tahu siapa dia, atau bertanya pada ayahmu, siapakah dia, aku tak mau dia berpikir aku mengobrol dengan orang lain tanpa sepengetahuannya. Itu murni karanganku. Bukankah penulis (penulis?) punya banyak karakter untuk diceritakan?

Yah, semoga kau selalu berada dalam perlindunganNya, nak. Dan sama seperti doa abah mamaku untukku dan kakak-kakakku dulu, aku pun memanjatkan doa yang sama untukmu.

Kau selalu dalam keadaan baik-baik saja, di manapun kau berada. Selalu diberi kemudahan dan kekuatan, jadi anak tangguh, cerdas, rendah hati dan penolong. Bakti pada agama, orang tuamu dan sekelilingmu.
Standar ya nak, terlalu banyak malah. Okelah,  kupersingkat saja doaku.

Agar kau mengetahui, aku mendoakanmu selalu, dan menyayangimu, apapun artinya ‘sayang’ itu bagimu. Itu saja.

Sunday, July 01, 2012

Itu Anak Lelakiku!


Melipat bajumu semalam anakku, tidak bisa tidak ingatanku terhempas ke masa kau tak bisa lepas dari dot berisi susu hangat.

Tidak bisa tidak terasa kembali buncah rasaku ketika melihatmu memakai seragam pertamamu, bersemangat dengan sepatu dan tas barumu, sementara aku menunggumu mengintipmu dari pinggir jendela sepanjang jam pelajaranmu di taman kanak-kanak, mengawasi mata penuh binarmu mengikuti pelajaran guru barumu.

Menjahit dan menguatkan satu per satu kancing bajumu, anakku, memastikannya tidak akan terpental jatuh menggelinding ketika kau mengenakan atau melepasnya buru-buru kelak, aku menitipkan bersamanya tetes demi tetes cintaku di setiap tarikan benang, agar kelak ketika kau merindukan rumahmu, kau bisa mengobatinya dengan menyusuri jejak benang itu.

Menggosok satu per satu bajumu anakku, kutitipkan sejumput doa di setiap panas yang tertinggal di situ, agar kelak ketika kau memakainya, kau dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin satu atau dua bentol bekas gigitan nyamuk atau dingin menggigit di tengah malam atau hawa gerah di siang bolong atau sedikit batuk dan masuk angin tak mengapa, nak, namun tak lantas membuatmu meneteskan airmata sesal akan keputusan mulia ini.

Memasukkan satu per satu bajumu ke dalam ransel, anakku, kutiupkan asa dan tak terputus dzikir agar kau selalu kekuatan dan ketabahan selayaknya memang dimiliki oleh anak lelaki, nak. Kubisikkan harap agar ketika kau duduk di dalam kelas barumu, kau memiliki rasa yang sama dengan ketika kau duduk di kelas pertamamu waktu TK dulu, antusias dan bersemangat khas dirimu, anakku, tak gentar sedikitpun akan lingkungan dan situasi baru di sekelilingmu, tak mematahkan citamu menjadi seorang da’i muda berbakat kelak, membuatku dengan bangga dan mantap berkata, “Itu anak lelakiku!”.

Dan hari ini, mengantarkanmu ke pondok pesantren nan bersahaja itu, anakku, tak perlulah kau saksikan airmataku meleleh tak terbendung ini di pundak ayahmu, di balik senyum dan dekapku ada bermilyar kata dan pesan yang tertelan tak sanggup kuretas karena begitu takut aku membuatmu gentar tertinggal di sana, merasa terbuang dan tersia-sia. Tidak, anakku, kau tidak terbuang di sana. Kau syuhada untuk agamamu, bagiku dan ayahmu dan adik-adikmu.

Dan detik ini, anakku, duduk sendiri di kamar kosongmu tiba-tiba terasa begitu suwung senyap, tidak bisa tidak rinduku menyeruak menyergap tanpa terbendung lagi,  dan seiring rasa yang tak bisa kuejawantahkan ke dalam untaian huruf kata dan kalimat ini dalam bahasa manapun anakku, aku berharap hawa dan kehangatan kamar ini bisa kau bawa ke tempatmu duduk sendiri juga di sana.

Segumpal bangga, anakku, akan dirimu, karena kau lah kelak orang yang berdiri paling depan shaf shalat di rumah kita, orang yang pertama dan tak putus doa di depan makamku dan makam ayahmu,menguntai amal jariyah-ku, kita,  anakku, di hadapan Tuhanmu, mengirim bait demi bait doa.

Kelak malam hari ketika tidurmu tak nyenyak anakku, ketika kau cari sosokku atau pintu kamarku, merindukan adik-adikmu dan renyah canda ayahmu, pandanglah keluar jendela, nak, dan ingat, selama kita berada di bawah langit yang sama, selama itu pula cinta dan doaku akan selalu berhembus bersama udara di sekelilingmu – karenanya aku memilihkan tempat tidurmu paling dekat dengan jendela, anakku.


Selamat belajar, anakku.

Jadi qurrota a’yun.
Kebanggaanku. Syuhadaku.
Generasi umat Rasulullah di barisan terdepan pembela kehormatan agama kita.
Kau bisa.

Lonely
The path you have chosen
A restless road
No turning back
One day you
Will find your light again
Don't you know
Don't let go
Be strong

Follow you heart
Let you love lead through the darkness
Back to a place you once knew
I believe, I believe, I believe
In you

Follow your dreams
Be yourself, an angel of kindness
There's nothing that you can not do
I believe, I believe, I believe
In you.

Tout seul
Tu t'en iras tout seul
Coeur ouvert
A L'univers
Poursuis ta quete
Sans regarder derriere
N'attends pas
Que le jour
Se leve

Suis ton etoile
Va jusqu'ou ton reve t'emporte
Un jour tu le toucheras
Si tu crois si tu crois si tu crois
En toi
Suis la lumiere
N'eteins pas la flamme que tu portes
Au fonds de toi souviens-toi
Que je crois que je crois que je crois
Que je crois
En toi

Someday I'll find you
Someday you'll find me too
And when I hold you close
I'll know that is true

Follow your heart
Let you love lead through the darkness
Back to a place you once knew
I believe, I believe, I believe in you

Follow your dreams
Be yourself, an angel of kindness
There's nothing that you can not do
I believe, I believe, I believe
In you.

--I believe In You--
Il Divo feat Celine

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...