Saturday, July 07, 2012

aku menyayangimu, nak, apapun artinya itu



Seperti apa gerangan cintaku padamu, nak?

Seperti apa gerangan seharusnya cinta seorang ibu kepada anaknya?

Seperti apa gerangan seharusnya kuukir rasa untukmu agar kelak kau bisa menamainya “Cinta ibuku sepanjang masa, mengalir tak henti dan lelah sepanjang nafasnya berhembus”?

Seperti lagu yang selalu salah satu dari kalian dendangkan sementara aku sibuk berkutat dengan pakaian kotor atau cucian piring “...kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali , bagai sang surya menerangi dunia…”

Terlihat lebay bukan, nak? Untung tak jadi kubuat status di facebook, karena biasanya status lebay bin alay begitu bukannya ditanggapi, melainkan dicibir (untung tak ada button ‘unlike’, ‘dislike’ atau ‘unwanted’ di situ). Ah su’udzon ya aku nak?

Namun begitulah, nak, terkadang aku mencurigai diriku sendiri. Cintakah aku pada kalian? Cinta macam apa yang kupunya ini, karena sepertinya jauh dari ideal. Bagiku, selama ini, yang dinamakan cinta itu adalah kata-kata lembut tanpa amarah dan jawaban-jawaban tepat untuk setiap pertanyaan, atau pelukan hangat tatkala kalian memberantaki rumah, bukannya ledakan amarah atau kebawelanku, ya nak?
 
Lalu ketika itu, nak, seseorang datang menghampiriku. Sungguh aku tak mengenalnya. Tapi wajahnya terlihat ramah, matanya berbinar dan senyumnya cukup menyenangkan. Dia datang menghampiriku dan mengajukan beberapa pertanyaan padaku.

“Apakah ketika mereka terlelap, kau memiliki dorongan hasrat untuk memeluknya, menciumnya satu per satu, melindunginya, tak akan membiarkan seekorpun nyamuk menghisap darah mereka, atau dingin membuat tidur mereka terganggu?”

“Apakah ketika satu dari mereka sakit, kau terjaga sepanjang malam seraya berdoa sekiranya sakitnya tersalin ke tubuhmu sehingga kau saja yang menanggung sakitnya?”

“Apakah ketika mereka terlalu lama bermain di luar rumah, kau medadak berubah menjadi ibu terbawel di dunia, memanggil satu per satu mereka dengan nada paling cerewet dan menyebalkan, dan akhirnya mereka menurutimu dengan mimik kesal karena kau terlalu banyak omel?”

“Apakah ketika deras hujan turun ke bumi sementara mereka tak ada di dalam jangkauan penglihatanmu, kau terdekap rasa khawatir takut mereka basah kehujanan, lalu ketika mereka pulang kau bergegas mengambilkan handuk lalu dengan cerewet menyuruh mereka mandi lalu sesudahnya melumuri hampir seluruh tubuh mereka dengan minyak kayu putih sekira dingin terusir, lalu mereka berucap “Mama lebay!” dan kau hanya bisa menghela nafas?”

“Apakah ketika salah satu mereka jauh darimu, kau makan, namun sesulit menelan batu ketika kau teringat dia tak di situ makan makanan yang sama,lalu kau sangat bersedia untuk tak jadi melanjutkan makan, menyimpankan untuk mereka di lemari makan, dan dipenuhi lega ketika mereka melahapnya, bahkan ketika mereka terlupa bertanya padamu “mama sudah makan?” namun sama sekali tak masalah buatmu?”

“Apakah ketika temen-temannya datang ke rumah, menjemputnya bermain futsal di lapangan kompleks sebelah, kau siap dengan berbagai pertanyaan “Sudah shalat belum? Mainnya di mana? Pulang jam berapa? Pakai topi! Sebelum adzan maghrib harus sudah pulang ya! Hati-hati bersepeda! Jangan jajan sembarangan!” Lalu dengan wajah sebal dia menjawab dengan kalimat, “Iyaa maaa…!”

“Apakah sesekali pernah terlotar dari mulut mereka pernyataan “Kenapa sih mama bawel terus? Aku tuh sudah bisa jaga diri, ma, santai aja…” namun kau masih tak percaya dan menatapnya sangsi?”

Sepertinya masih banyak yang akan ditanyakannya, nak, namun mungkin karena dia tahu migrenku sedang kambuh, maka dia menghentikan pertanyaannya sampai di situ.
 
Dan kau tahu, nak, apa jawabanku atas semua pertanyaannya? “YA” Ya, semua kujawab dengan satu kata : YA.

 Dan dia pun berujar dengan sok tahu,”Kalau begitu, itulah sebenar-benar cinta. Tak perlulah kau menterjemahkannya ke dalam bahasa rumit, atau mencari terjemahannya di kamus apapun, atau menyelaraskannya ke lagu-lagu romantis. Cukuplah kau mengikuti perintah di kepalamu, mendengarkan nasihat nuranimu…”

Maka, nak, entahlah, apakah aku sudah pantas disebut ibu dalam artian sebenarnya. Aku takut, nak, takut sekali. Pernah kau dengar 'doa untuk orang tua'?  Salah satu dari kalian selalu mendengungkannya di setiap ba’da shalatnya “Ya Allah, sayangi kedua orang tuaku, sama seperti ketika mereka menyayangi hamba ketika kecil…” maka aku tak tahu, ‘sayang’seperti apa yang kupunya untuk kalian, atau pantaskah aku menerima doa itu, atau apakah aku sudah menyayangi kalian seperti seharusnya?

 
Bukankah kalau aku sayang kalian, tak akan kubiarkan salah satu dari kalian jauh dariku untuk menuntut ilmu jauh di sana? Tapi mereka semua bilang padaku, nak, itu baik untukmu, yang terbaik malah.

Sejatinya, aku paling malas, nak, mengikuti berbagai undangan seminar parenting. Selain tak punya banyak sisa waktu, aku pikir aku hanya membutuhkan suara hatiku, meniru kebiasaan menyayangi abah mamaku dulu terhadapku. Terserahlah apa kata teori, nak, aku hanya perlu binar manik matamu setiap mengambil keputusan harus bersikap seperti apa padamu. Maka tak perlu juga buku semacam 1001 cara mendidik anak yang baik, atau 1300 macam jawaban atas pertanyaan anak. Lebay ya, nak, mana ada buku semacam itu.

 Ya, sekali lagi, aku hanya perlu menatap binar matamu. Dan mungkin jarimu menyentuh wajahku.

Oh ya, tokoh ‘seseorang’ di atas itu fiktif, nak. Maka tak usahlah mencari tahu siapa dia, atau bertanya pada ayahmu, siapakah dia, aku tak mau dia berpikir aku mengobrol dengan orang lain tanpa sepengetahuannya. Itu murni karanganku. Bukankah penulis (penulis?) punya banyak karakter untuk diceritakan?

Yah, semoga kau selalu berada dalam perlindunganNya, nak. Dan sama seperti doa abah mamaku untukku dan kakak-kakakku dulu, aku pun memanjatkan doa yang sama untukmu.

Kau selalu dalam keadaan baik-baik saja, di manapun kau berada. Selalu diberi kemudahan dan kekuatan, jadi anak tangguh, cerdas, rendah hati dan penolong. Bakti pada agama, orang tuamu dan sekelilingmu.
Standar ya nak, terlalu banyak malah. Okelah,  kupersingkat saja doaku.

Agar kau mengetahui, aku mendoakanmu selalu, dan menyayangimu, apapun artinya ‘sayang’ itu bagimu. Itu saja.

2 comments:

  1. Terharu mbaaaak T_T

    Mdh2an jika suatu hari sang anak membaca ini, dia tahu bahwa ibunya begitu sayang padanya. Aku yakin mbak adalah ibu yang terbaik di dunia baginya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waa... mbak mayya komen..asik asik...*lompat-lompat gaje*hehe...
      insyaAllah, mbak... insyaAllah...:)
      makasih sudah berkunjung yaa... sayah akan berkunjung balik jugaa...:)

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...