Friday, September 28, 2012

SMS yang masih tersimpan :)

Buka-buka file di handphone, ketemu note ini, sebelumnya disimpan di inbox SMS, tapi karena sayang dihapus, akhirnya dicopy paste lalu simpen di note. Sms dari ayah :)

  • ketika semburan kata-kataku telah menyayatmu perih hingga masih menggenang&masih terngiang/ketika mata dan wajahku telah megabaikanmu hingga kau merasa dihempas lebam sungsang/aku hanya bisa bilang,bahwa jauh di lubuk hatiku masih ada rasa sayang/aku tidak akan mampu membuang...

Wednesday, September 26, 2012

dalam doamu, ma, namaku disebut


Kemarin, tak seperti biasanya mama mengetuk pintu rumahku setelah sebelumnya berseru memanggil nama anakku Luna dan Jingga. Seketika Luna Jingga berlari menyongsong pintu depan dan membukanya.

Mamaku dengan tongkat di tangan kanannya berdiri di ambang pintu, tengah bersusah payah melangkah.
Segera kupegangi lengannya dan kutuntun masuk ke ruang tamu. Pelan, mama duduk di sofa. Pelan sekali. Maklum, lutut kanan mama memang bermasalah. Kata dokter sih kepadatan tulang mama sudah jauh berkurang, terutama di bagian persendian lutut kanan, sehingga mama sangat sangat kesulitan untuk menekuknya. Seminimal mungkin mama menghindari gerakan menekuk lutut, karena akibatnya akan luar biasa sakit… Bahkan untuk shalat pun mama harus sambil duduk selonjoran di ranjang atau rebahan.

Tuesday, September 25, 2012

nikmatnya jadi ibu!

Hari ini bener-bener jadi multitasking mom.
Emak merangkap perawat 2 pasien kecil. 


Yang satu jidatnya benjut, selain karena kejeduk daun pintu, di pelipisnya ada bisul yang udah hampir pecah. Merah hampir lebam. gak boleh tersentuh apapun ; Jingga nih.

Yang satu kupingnya kemasukan pasir pas lempar2an pasir ama adiknya. Akhirnya saya cuma kasih obat tetes telinga, berharap pasirnya keluar dengan sendirinya nanti ; nah yang ini, Luna.

Saturday, September 22, 2012

dia itu, abahku






abah, ka eli, puji kecil... he let me walk alone, but always keep watch on me...


Tuesday, September 18, 2012

Saya kaya, euy!


Friends, hari ini saya mendadak berfikir tentang esensi dari kata “kaya”. Seorang ustad ternama di negeri ini pernah berkata di akun twitternya, bahwasanya orang yang selalu mendengung-dengungkan KAYA HARTA sebagai sebuah kesuksesan biasanya orang yang kurang paham akan agama, menuhankan harta, tak pernah puas akan hasil yang dicapai. Seperti halnya meminum air laut, makin diminum makin haus.  Sumber kegelisahan.

Monday, September 17, 2012

Bagaimana Jika?


Bagaimana jika.

Ya, pertanyaan itu seringkali menjadi topik terhangat yang berkecamuk di dalam kepala tatkala sepi mendera, terasing dalam kesendirian, berjibaku dalam kesibukan rutinitas yang tidak habis-habisnya.

Bagaimana jika. Disertai tanda tanya besar di belakangnya.

?

Bagaimana jika dulu aku tak mengambil jalan itu? Bagaimana jika dulu aku meraih kesempatan itu? Bagaimana jika dulu aku tidakmenikah dengannya? Bagaimana jika dulu kuturuti saja saran ayahku untuk memilih jalan itu? Bagaimana jika… bagaimana jika…

Kupikir itu pertanyaan sia-sia, namun tak ayal akupun sering terjebak di dalam lingkaran pertanyaan-pertanyaan itu.

Aku memilih untuk tidak menjawab dan tidak mencoba untuk mencari tahu jawabannya. Terlalu wasting time. Terlalu naïf. Ini adalah tentang pilihan kita di masa lalu. ini adalah tentang takdir yang menyertai di belakangnya . ini adalah tentang hukum alam yang memang sudah seharusnya terjadi. kita memilih maka kita  sudah tahu konsekuensi dari pilihan itu. Kalaupun ternyata kelak kita mengetahui pilihan kita itu  salah, kita diperkenankan kok untuk memperbaikinya, karena hidup itu begitu baik, selalu menawarkan pilihan kepada kita.

Bagaimana jika.

Bagaimana jika dulu tidak begitu,melainkan begini? Bagaimana jika seandainya begini dan bukannya begitu? Hh, terlalu berspekulasi, habislah waktu, dan terkadang kita tidak memperdulikan sekeliling kita demi mengentaskan rasa ingin tahu itu. Kita ingin tahu bagaimana seandainya dulu kita membeli barang A, padahal yang kita beli barang B. apa yang kita dapat? Gak ada! Barang A gak dapet, barang B terbuang dan terlupakan karena kita terlalu sibuk berkutat dengan pertanyaan itu.

Sudahlah, kawan, berhentilah berjibaku dengan sesuatu yang sia-sia… hidup sudah demikian berbaik hati padamu dengan meminjamkan oksigen untuk kau hirup, dengan mengikhlaskan buminya kau pijak, dan memberikanmu segala kemudahan yang nyaris sempurna.

Hiruplah oksigen jatahmu, lalu hembuskan bersama desah syukur. Maka kau akan merasakan hidupmu sempurna.

Masih belum puas?

Lepaskan yang kau miliki, lalu kejar mimpi. Kejar sampai dapat. Jadikan nyata. Bukan hidup di dalamnya. Karena hidup dalam rimba mimpi dan angan, adalah sia-sia. Dan berhentilah bertanya, bagaimana jika…? :)

gambar diambil dari google

Sunday, September 16, 2012

Status Oh Status :)


 “Amsyoong deh hari ini, pasien gak brenti-brenti… Capeek… Belum istirahat… Belum lagi ngurusin krucil di rumah…”

Bisa ditebak, si pembuat status di salah satu social media ini profesinya berhubungan ama dunia medis. Ya iyalah, emang ada pasien di bengkel? Eh tapi suamiku kerja di bengkel, dia sebut itu trailer-trailer yang mangkal untuk diservis dengan nama pasien juga… hihihi…

Atau “Bagoos, gak bisa shopping deh, si Kriwil rewel di mall…”atau “galau itu adalah ketika siap-siap bobok, ada panggilan darurat di anu…anu..bla bla…”

 “Kerjaan kok menggerutu mulu. Gak bersyukur banget sih…” bisikku dalam hati.

Tetapi lalu aku terdiam. Aku pun manusia biasa yang punya keterbatasan. Aku pun sering mengeluh. Duluu sekali, kalau emosi sudah gak tertahan, facebook sering jadi alat pemuasku menumpahkan segalanya. Sampai-sampai suamiku berkomentar “kenapa ya facebook lebih dipercaya daripada suaminya sendiri…?” PLAK!! Berasa ditampar… Oh iya ya, ngapain juga coba, mengumumkan kesusahan kita? Gak ada juga kaan yang nawarin jadi pembokat gratis. Kalaupun ada yang komen, paling bernada prihatin, udah. Yang ada malah disyukurin, hehe…*parah nih su’udzonnya… astaghfirullah… Masih mengeluh juga, wajar lah… manusia gitu loh… tapi kata orang Banjar bilang “Gawian nang sudah dihakuni…” artinya “kerjaan yang kita sudah terima dengan ikhlas”. Yang pentiing, jangan di social media yaa, pesan suamiku… hehe…

Pekerjaan yang telah kupilih dan sudah kuketahui konsekuensinya ini, adalah (hanya) ibu rumah tangga (kalo boleh sebut ini profesi, hehe).  Allah sudah mengamanatiku suami yang luar biasa baik dan 3 anak yang cerdas, Alhamdulillah. Konsekuensiku? Capek. Repot. Kurang tidur. Persediaan sabar unlimited. Mesti kreatif mengolah makanan, biar gak jajan mulu, boros! Dll. Dll.

Aku pengen banget bilang ke temenku itu, “Nah elu digaji buat apa kalo gak buat melayani pasien? Udah tau konsekuensi jadi tenaga medis kan? Pasien banyak. Kurang tidur. Belum lagi ngurusin tetek bengek di rumah tangga. Anak. Dapur. Suami. Lah kalo gak mau ada pasien, berenti. Habis perkara…”

Teringat sosok kakak perempuanku, Eli. Wanita karier. Seorang istri juga. Ibu dari 4 anak yang masih kecil-kecil. Ajaibnya, dia berhasil memenej waktu dan energinya agar semua tanggungjawabnya itu tertangani dengan baik. Ya, pake asisten rumah tangga juga sih… namun bukan itu yang kulihat. Aku hanya melihat, anak-anaknya gak pernah kekurangan perhatian mamanya, lunch atau dinner berduaan suaminya pun sering. Dan itu bener-bener nilai plus plus bagiku. Hebaat!

Liburan lebaran kemarin, kak Eli cerita pengalamannya waktu pra jabatan. Ya, namanya pra jabatan, mesti nginep di asrama gitu kaan, otomatis dia ninggalin anak-anak dan suaminya di rumah untuk waktu yang agak lama. Hari-hari pertama, masih lancar. Anak-anaknya masih terkendali di bawah pengawasan sang nenek yang ‘dicarter’ kakak iparku, sementara kakak pra jabatan.

Seminggu berlalu tanpa kejadian apapun. Komunikasi lancar, tiap malam mereka berkomunikasi via telepon. Tiba-tiba kakak terima kabar dari rumah, si Bungsu, Abi, masuk UGD karena sesak nafas. Degg! Paniklah kak Eli. Gak bisa minta izin keluar, karena kabar itu dia terima jam 12 malam. suaminya gak kalah panik. Kata dokter, si Abi Cuma kecapekan. Ni anak memang aktifnya hiper. Kalo gak tidur, gak diem. Akhirnya kak Eli bisa tenang waktu Abi sudah dibolehkan pulang oleh dokter, walaupun gak bisa sepenuhnya mengusir galau dan khawatir.

Selesai kah ujian kakak? Beberapa hari setelah itu, bertepatan dengan suaminya dinas keluar kota, kak Eli dapat kabar lagi, si Dova, anak ketiganya, mengalami kecelakaan di sekolahnya! Darah segar mengucur deras dari batok kepalanya, akibat jatuh dari ketinggian yang lumayan dengan keras di halaman sekolahnya. rupanya si Dova mengkhayal jadi spiderman. Hadeeh…

Aku gak bisa bayangin, bagaimana perasaan kakak. Di tengah kondisi dia harus konsentrasi di pra jabatan, dia harus menahan perasaan karena khawatir akan kondisi anak-anaknya di rumah. Akhirnya dia pasrahkan semua kepada Sang Khalik. Ditumpahkannya segala resah dan gundah di tengah sujud panjangnya. Alhamdulillah, semua terlewati dengan baik. Tanpa banyak mengeluh dan penyesalan… tanpa curcol gak jelas di social media… tanpa omelan gaje di status BBM… hahaha…

Balik lagi ke perihal status. Untuk self reminder saja siih. Gak perlu lagi deh curcol gaje di social media, karena bukan gak mungkin ketika aku bercucol ria, bukannya prihatin yang didapet, malah cibiran dan komentar gak penting. Toh udah punya suami ini. Toh  udah punya Allah. Percaya deh, Allah itu sebaik-baik teman curhat! Suamiku itu sebaik-baik pendengar!

Pernah kaaan dengar kalimat bijak “berhati-hatilah dalam berkata-kata di social media… jempolmu, harimaumu…” hehehehe….

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...