Wednesday, October 17, 2012

Sebenarnya kau yang sekarang itulah, sebenar-benarnya kau


Malam ini aku terjebak (lagi) rindu padamu (yang dulu)
Air mata mengantarku ke memori yang (ternyata) tak pernah sempat kusam sedikitpun di kepalaku
Aku merindukan (celoteh)mu. Aku sangat merindukan (perhatian dan khawatir)mu (kalau-kalau kau telah  melukaiku seperti saat ini).

Kuamati (untuk yang kesekianribu kalinya) lagi jejak tinta yang pernah kau tinggalkan di sebuah buku lama.
kuperhatikan (lagi) huruf per huruf yang kau rangkai menjadi untaian bak anak sungai yang (pernah) membuatku hanyut jauh.


Pada akhirnya aku sampai pada sebuah titik kesadaran. Dan aku jengah karenanya.

Sebenarnya kau yang dulu itu memang tak pernah ada.
Sebenarnya kau yang dulu itu tak pernah nyata.
Sebenarnya kau yang dulu itu tak lebih dari sekedar serangkaian drama dan kau juga aku sedang ikut berakting di dalamnya.
Sebenarnya aku merindukan orang yang tak benar-benar kukira ada.
Sebenarnya kau yang sekarang itulah, sebenar-benarnya kau.
 
Lalu mengapa aku masih menangis?

Aku, tertawa dalam tangis, ketika akhirnya aku menyadari ketololanku.
Tahukah kau?

Sebenarnya beda antara cinta dan bodoh itu begitu tipis, setipis kulit ari.

…dan sekarang aku benar-benar tak bisa berhenti tertawa…

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...