Monday, February 18, 2013

Say No To MSG!


“Belikan mama bawang putih, bawang merah, asam jawa, sama gula 2 kilo ya,” pesan si mama pagi ini. “Oh iya, jangan lupa vetsin! Jangan lupa lagi lho! Yang seperempat ya!” ujarnya lagi.

Hah? Aku sempat terlongo sebentar. Vetsin seperempat kilo mau diapain? Mau jualan baso kah?  Padahal mama hanya tinggal sendiri di rumah. Masak ya seperlunya. Paling setengah panci kecil untuk sayur bayam atau sup ayam, cukup. Kenapa pula mesti beli vetsin a.k.a MSG sebanyak itu?




Ingin protes, tapi kuurungkan. Mamaku memang addict dengan vetsin. Bukan addict lagi sih, tapi beneran tersugesti dengan bubuk putih itu. Gak ada vetsin, PASTI (sengaja pakai capslock nih) masakan gak bakal enak. Dan itu mutlak. Di dapur mama, vetsin disimpan di botol bekas wadah creamer. Fantastis kan? Huh, kalau saja beliau tahu, sudah seumur Reza di dapurku vetsin gak pernah hadir lagi. Bukan apa-apa. Aku gak suka dengan rasanya yang bikin getir masakan.

Tapi kalau untuk mama sih, vetsin wajib hukumnya. Kadang kalau aku bikin sayur berlebih, aku kasih satu mangkuk ke beliau, pasti beliau cicipi, lalu berkomentar “pake vetsin gak nih?” aku yang malas ribut, menjawab dengan anggukan kepala (duh ya allah, maafkaaan…). Apa komentar beliau selanjutnya? “Oh,pantas enak… pake vetsin sih. Kalo masak jangan ketinggalan vetsin lho ya! Vetsin itu menaikkan rasa makanan.” Hah? Tangga kalee…
Padahal menyentuh vetsin saja gak pernah lagi!
Hehehe…

Dalam hal memasak sih, saya pede aja, pasti enak walaupun tanpa vetsin. Yang penting, jangan pelit bumbu. Ya, bumbu utama, masukin aja banyakin, seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kencur, kunyit, laos, dll dsb sebangsanya. Gak masalah sih, apalagi aku masaknya dibantu blender, gak capek-capek mengulek, jadi mau sebanyak apapun bumbu, gak masyalaaaah… dan aku yakin betul, gak ada yang bisa mengalahkan kesedapan bumbu alami dibandingkan MSG yang hanya bahan sintetis!

Kalaupun mau menambahkan sedikit kaldu instant, aku masih tolerir. Kaldu pun kalau bisa aku bikin sendiri, dengan catatan kalau lagi rajin dan waktunya mengizinkan juga bahan lengkap. Malah lebih enak lho! Dalam satu panci yang setengah penuh, masukin aja tuh ceker ayam, sayap ayam, bawang putih dan bawang bombay yang banyak, daun bawang, seledri, bubuk pala, kayumanis, cengkeh, garam, lada. Biarkan dia mendidih sampai berkurang sepertiganya. Dinginkan, masukin ke plastik-plastik kecil atau kontainer kecil, masukin freezer, udah deh, tinggal masukin ke masakan bilamana diperlukan. Dijamin yummi!

Kenapa aku gak suka banget sama MSG? padahal MUI sudah kasih stempel halal lho di bungkusnya, dengan catatan gunakan seperlunya saja. Nah, kalau sudah ada warning “seperlunya saja” itu kan, berarti kalau kebanyakan, jadinya gak baik. Yang ditakutkan itu adalah ketika kita pake “seperlunya” namun ternyata over dosis, gimana dong? Padahal kita aja gak tau, dosis “seperlunya” dan “jangan terlalu banyak” itu seberapa?

Kalau kata Wikipedia, MSG murni sendiri tidak mempunyai rasa yang enak jika tidak dikombinasikan dengan bau gurih yang sesuai.  Sebagai pemberi cita rasa dan dalam jumlah yang tepat, MSG memiliki kemampuan untuk memperkuat senyawa aktif rasa lainnya, menyeimbangkan, dan menyempurnakan rasa keseluruhan pada masakan tertentu. MSG tercampur dengan baik dengan daging, ikan, daging unggas, berbagai sayuran, saus, sup, dan marinade, serta meningkatkan kesukaan umum akan makanan tertentu seperti beef consommé (kaldu sapi khas Perancis). Namun seperti perasa dasar lain kecuali sukrosa, MSG menambah kesedapan hanya dalam kadar yang tepat. MSG yang berlebihan akan dengan cepat merusak rasa masakan. Meskipun kadar ini bervariasi pada berbagai jenis makanan, dalam sup bening, nilai kesedapan dengan cepat turun pada kadar lebih dari 1 g MSG per 100 ml.  Apalagi, ada interaksi antara MSG dengan garam (natrium klorida) dan bahan umami lain seperti nukleotida. Semuanya harus berada dalam kadar yang optimum untuk menghasilkan kelezatan maksimum. Dengan sifat-sifat ini, MSG dapat digunakan untuk mengurangi asupan garam (sodium), yang ikut menyebabkan timbulnya hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.

Memang kalau ditakar dalam jumlah tepat, menghasilkan makanan yang luar biasa enak. Tapi kan memang harus dikolaborasikan dengan bumbu-bumbu yang tepat dan dengan kadar yang tepat juga. Tidak mentang-mentang sudah pakai MSG, bumbu-bumbunya dikurangi. Jadi ingat mamang tukang baso atau mie ayam. Sebelum dia meracik hidangan di mangkuk saji, terlebih dulu mereka kasih MSG di dasar mangkuk. Kadang gak pake takaran alias sendok takar. Main tumpahin aja. Hiiihh, saya bergidik melihatnya, membayangkan rasa getir hidangan itu nantinya. Berbekal pengalaman itu, kalau saya pesan baso, pasti bilang lebih dulu ke mamangnya, jangan pakai MSG ya mang! Saya yakin kok, kalau memang masakannya enak, tanp MSG sekalipun pasti tetap enak!

Dari link ini, saya juga dapat fakta mengejutkan. Menurut Russell Blaylock, penulis buku Excitotoxins – The Taste That Kills, MSG adalah excitotoxin yaitu zat kimia yang merangsang dan dapat mematikan sel-sel otak. Blaylock menyatakan bahwa MSG dapat memperburuk gangguan saraf degeneratif seperti alzheimer, penyakit Parkinson, autisme serta ADD (attention deficit disorder). MSG juga meningkatkan risiko dan kecepatan pertumbuhan sel-sel kanker. Ketika konsumsi glutamat ditingkatkan, kanker tumbuh dengan cepat, dan kemudian ketika glutamat diblokir, secara dramatis pertumbuhan kanker melambat. Para peneliti telah melakukan beberapa eksperimen di mana mereka menggunakan pemblokir glutamat yang dikombinasi dengan pengobatan konvensional, seperti kemoterapi, dan hasilnya sangat baik. Pemblokiran glutamat secara signifikan meningkatkan efektivitas obat-obat anti kanker.

Berikut adalah beberapa efek samping dan gangguan spesifik yang berhubungan dengan MSG menurut Blaylock :

  • Kejang
  • Mual
  • Alergi
  • Ruam
  • Serangan asma
  • Sakit kepala
  • Mulut terasa kering
  • Hilang ingatan 


Reaksi terhadap MSG dapat terjadi kapan saja, dari mulai segera setelah mengkonsumsi MSG sampai beberapa hari kemudian. Anak-anak lebih rentan terhadap efek negatifnya dibandingkan orang dewasa.


Nahhh lho! Menilik perbandingan antara manfaat yang hanya sedikit bikin enak masakan dan efek samping mengerikan yang bisa saja timbul, akhirnya semakin mantaplah saya, untuk dengan lantang mengatakan : SAY NO TO MSG!

4 comments:

  1. aku udah ga pake MSG lagiii. cukup pakai, gula, garam tambahin udang kecepe, atau ngga pake teri

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip sip sip mommi windiii... bumil tu harus maem makanan syehaaat....:D

      Delete
  2. sy gak pernah pake vetsin.. utk penambah rasa biasanya sy pake gula pasir :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama maaak... banyakin bumbu juga :)

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...