Monday, March 25, 2013

tentang si bejo


“You can go through life and make new friends every year - every month practically - but there was never any substitute for those friendships of childhood that survive into adult years. Those are the ones in which we are bound to one another with hoops of steel.”



Alexander McCall Smith


image from here

Saya sedang kesal. Benar-benar kesal. Padahal kalo lagi hamil, perasaan kesal seharusnya diblacklist dari hati dan pikiran saya. Gak boleh marah-marah sampe rasanya mau meledak. Gak boleh bête berat ama orang sampai rasanya mau nabokin tu orang pake kipas angin di depan saya sekarang. Gak boleh terlampau benci sama orang sampai rasanya pengen mengutuk dia jadi kodok yang walaupun dicium sama bidadari manapun gak bakalan balik ganteng kayak pangeran karena emang aslinya dia gak ganteng-ganteng banget, nyebelin malah.




Astaghfirullahal adzim…


Sebentar, saya menarik nafas dulu. Dalam-dalam. Paru-paru saya seperti kekurangan oksigen kalau lagi emosi, sampai nyeri kepala ini. Hirup lewat hidung, hembus lewat mulut. Fiuuhhh… *pingsan sendiri  gegara nyium bau tak sedap entah darimana*


Gegaranya sepele. Seorang sahabat sejak kecil suami saya (katakanlah namanya bejo) lancang memberi nomer handphone suami saya ke seseorang. Siapakah seseorang ituh? Manager rumah produksi yang pengen ngajakin suami saya casting kah? Atau direktur sebuah PT yang pengen ngajakin suami saya kerjasama kah? Bukaan… kalau itu  mah, saya pasti gak akan sekesal ini.


Seseorang itu (yang selanjutnya akan saya sebut sebagai si ‘dia’) adalah orang yang saya gak pengen dia hadir dalam kehidupan kami. Seseorang dari masa lalu yang pernah dengan sangat tega dan sampai hati menyakiti saya, suami saya dan anak-anak saya, padahal waktu itu dia statusnya adalah sahabat karib suami saya.


Gak usahlah saya ceritain detilnya, bagaimana perihnya hati saya ketika peristiwa itu terjadi.  Yang pasti, saya memang sudah memutuskan untuk selamanya melupakan orang itu. Dendamkah saya? Entahlah, saya gak tau persis definisi dendam. Yang pasti, saya hanya berkeinginan untuk melupakan peristiwa itu, termasuk orang yang sudah bikin saya semaput saking sakit hatinya.Memaafkankah saya? Entah, saya juga kurang faham apa arti memaafkan. Yang pasti, saya bersedia untuk meredam amarah saya, dan tidak berkeinginan untuk membalasnya sampai kapanpun, karena saya berkeyakinan Tuhan Maha Tahu dan tidak pernah tidur. Dia Maha Tahu balasan seperti apa yang paling pantas. Saya hanya berharap, dengan usaha saya melupakan peristiwa itu, urusan saya di akhirat kelak akan menjadi jauh lebih mudah.


Kembali ke bejo. Seperti yang saya bilang sebelumnya, Bejo itu juga salah satu sahabat suami saya. Dia tahu detil peristiwa itu dari cerita suami saya. Ya iyalah, lha wong si bejo pun mengenal si ‘dia’ pembuat keonaran di masa lalu itu, makanya suami saya dengan lempengnya cerita sama si bejo. Sahabat gitu loh!


Nah suatu ketika, si ‘dia’ yang entah dalam rangka apa berkunjung ke kota kecil kami. Saya gak tau persis siapa yang memulai, yang pasti si ‘dia’ berhasil mendapatkan nomer hp suami saya, dari si bejo! Bayangkan! Si bejo kasih nomer hp suami saya ke orang yang dia tahu persis pernah dengan sengaja menyakiti kami sekeluarga! Punya hak apa si bejo itu ngasih nomer suami saya? Sejak kapan dia statusnya berubah dari sahabat yang seharusnya sangat amat menghargai privasi suami saya, jadi contact personnya suami saya, yang kalau orang pengen tahu tentang suami saya, dia dengan soktoynya jadi jubir suami saya? Apalgi si ‘dia’ bukan mahram suami saya, atau keluarga saya!


Selanjutnya? Si ‘dia’ dengan tenangnya menelepon suami saya dan bilang pengen mampir ke rumah kami! Hah! Berani-beraninya! Di percakapan via telepon itu juga dia mengakui, si bejo yang kasih nomer suami saya ke dia. Ya Allah, sahabat macam apa si bejo ini? Kenapa dia berani menyebarkan nomer suami saya ke sembarang orang? Kenapa gak sekalian dia tulis nomer hp suami saya di status semua jejaring social seperti facebook atau twitter? Saya benar-benar marah, sampai gemetar sekujur tubuh ini…


Bukan hanya karena flashback peristiwa itu bermunculan kembali di kepala saya seakan-akan menertawakan kelemahan saya yang tenggelam dalam emosi, namun juga karena ketidakpekaan si bejo akan perasaan saya dan suami saya! Padahal sahabat, Bok!  Saya seperti kembali terseret dalam kubangan airmata, merasakan kembali perihnya hati saya beberapa tahun silam, membuka kembali luka yang sudah diam-diam saya sembuhkan sendiri…


Dan benarlah, si dia berhasil menemukan alamat kami, dan benar-benar bertamu. Bagaimana dengan saya? Saya gak menemuinya. Saya mengurung diri di kamar. Saya takut emosi saya membakar saya hidup-hidup lalu dengan tak terkendali menumpahkan sumpah serapah saya di depan si dia. Tidak, saya tidak bersedia menjadi serendah itu. Saya memilih diam dan bersembunyi. Saya gak kuasa menatap kembali matanya yang pernah menyakiti saya sedemikian rupa.


Suami sayalah yang dengan besar hati seperti biasanya menemuiya. Dan tahukah kalian, sahabat? Dia datang bertamu bukan untuk minta maaf atas peristiwa yang lalu. Berkeinginan keras untuk menemui saya pun tidak! Setelah suami saya biilang, ‘istriku lagi gak enak badan, gak bisa keluar nemuin kamu…’, dia pun hanya mengangguk santai. Dia datang bersama temannya, untuk menawarkan bisnis MLM! BISNIS MLM, sodara-sodara!!!


Saya jadi bertanya-tanya, dari apakah hatinya terbuat? Kenapa dia seperti gak punya perasaan samasekali? Gak peka samasekali? Atau jangan-jangan, dia malah gak punya hati? Entah…

Saya bukanlah orang yang gila kehormatan atau permintan maaf. Saya juga gak suka emosi seperti ini. Saya gak suka saya dan keluarga saya diganggu seperti ini. Emosi saya gak stabil selama berhari-hari setelahnya. Migren yang memang sudah langganan singgah di kepala saya, menjadi semakin betah dan gak mau pergi.

Baiklah, saya lupakan si dia yang memang gak punya hati itu, dengan catatan segede gaban yang saya kasih ke suami saya : SAYA GAK MAU LAGI ORANG ITU MENGINJAKKAN KAKINYA DI RUMAH SAYA! Titik!


Oke… oke… selesai marah-marahnya.


Rasa kesal dan sesal saya sekarang bersisa kepada si bejo. Ya, bejo. Si bejo yang ngakunya sahabat suami saya dengan embernya memberi nomer suami saya ke sembarang orang tanpa seizin suami saya. Si bejo yang ikut-ikutan gak punya kepekaan pada perasaan sahabatnya sendiri. Si bejo yang hati nuraninya tergadai gegara ingin disebut sok pahlawan yg tahu segalanya.

Sebenarnya apa sih arti persahabatan itu? Sebenarnya orang macam apa yang pantas kita beri predikat sebagai sahabat?

Ya, sampai sekarang saya masih merasakan kekesalan itu. Serupa ampas sisa perasan airmata saya. Serupa sampah yang sejatinya dibuang jauh-jauh lalu lupakan saja. Saya hanya tak percaya, arti persahabatan bias dengan mudah tergadai hanya gegara rayuan. Saya hanya tak percaya, kesetiaan bisa dengan gampang merubah menjadi khianat tatkala jarak memisahkan. Dan saya tak percaya pula, si bejo itu, masih pantas diberi predikat sebagai sahabat.

Above all other things, the one thing that I found to benefit a person most in this world and the Hereafter is a suitable brother (friend).

~Sufyān al-Thawrī~



image from here




No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...