Monday, April 08, 2013

Sebuah Review ~ Cerita Di Balik Noda

Judul
:
Cerita di Balik Noda
Pengarang
:
ISBN
:
9789799105257
KPG
:
901130619
Ukuran
:
200 x 135 mm
Halaman
:
248 halaman
Harga
:
Rp 40,000


Noda.

Sesiapapun yang membaca atau mendengar kata ini, pasti mengernyitkan dahi tanda  tidak suka dan terpikir “ya harus dibersihkan segera, gak pakai nanti!”

Terlebih untuk ibu dari 3 anak semacam saya, yang 2 di antaranya masih balita, noda adalah musuh yang paling akrab sekaligus paling dibenci. Betapa tidak, hampir setiap hari saya bergumul dengan noda. Di pakaian, di lantai, di lampit, di seprei, di piring, di bantal, di dinding, walaah… mulai dari noda makanan, cokelat, crayon, spidol, pensil, pup, susu, malah terkadang bedak dan lipgloss saya pun turut menjadi korban. Ampun ampun deh…


Suatu ketika, salah satu teman blogger saya Windi Teguh mempromosikan sebuah buku di media sosial. Mata saya tertumbuk kepada sebuah nama : Fira Basuki. Wow, melihat nama penulisnya saja, saya sudah tahu, ini buku jaminan mutu, karena memang begitu adanya kalau kita melihat karya-karyanya sebelum ini. Dan yang menambah perhatian saya adalah ketika melihat view covernya yang minimalis dengan judul unik "Cerita di Balik Noda"

Wow, noda? Itu kan temen saya banget, hehe…

Perhatian saya kian bertambah ketika membaca beberapa review perihal buku ini. Ya, ternyata buku ini cukup memperoleh animo bagus dari banyak ibu-ibu macam saya! Wah, wajib baca nih, batin saya. Maka mulailah saya mengumpulkan informasi seputar buku ini. Sampai akhirnya saya berhasil mendapatkan lalu membacanya sampai habis!

Suka. Itu kata pertama yang terlintas di kepala. Ya, seperti biasa, tulisan-tulisan yang diramu oleh Mbak Fira benar-benar mampu menggugah keingintahuan saya sampai halaman terakhir. Dalam tempo  yang sesingkat-singkatnya beberapa jam saja (diselingi masak, beberes, menyuapi sampai membersihkan rumah yang selalu kembali berantakan oleh anak-anak balita saya), buku ini saya khatamkan. Bahasanya sederhana dan mudah dimengerti, mengalir, seperti kalau kamu mendengar penulisnya bercerita langsung di depanmu. Ya, saya bukan tipe yang suka dengan karya yang bahasanya terlampau tinggi dan mbulet. Bingung saya dibuatnya, jadi gak menikmati deh. Apalagi kalau bacanya pakai diselingi rengekan anak yang pengen minta pipis, makan, atau hanya minta diperhatikan.

Inspiratif. Itu kata kedua untuk buku ini. Dari 42 judul cerita – dengan 38 penulis berbeda yang ditulis ulang oleh Mbak Fira Basuki, dan 4 tulisan asli Mbak Fira sendiri – dalam buku ini mengisahkan segudang hikmah dari setitik noda yang terkesan mengganggu dan sepele. Berbagai kisah mengalir ke dalam jiwa saya, dan beberapa di antaranya berhasil membuat perasaan saya campur aduk antara haru, sedih, senang dan terpana.

Seperti salah satu kisah di halaman 17 yang memiliki judul Foto. Kalimat awalnya menarik perhatian saya :

Seperti apakah bentuk perhatian dan cinta?

Kisah apik yang menceritakan sebuah pasangan suami isteri yang telah menempuh samudera rumah tangga selama 2 tahun dan dikaruniai seorang anak berusia 6 bulan. Dalam rentang waktu 2 tahun, Agung, sang suami, tak henti berusaha mewujudkan rumah tangga yang ‘layak’ untuk isteri dan anaknya, tak berkekurangan suatu apapun.  Diceritakan pula Rina yang selalu mengeluh akan sifat suaminya yang terkesan cuek dan jauh dari romantis, karena sebagian besar waktunya dihabiskan di luar rumah untuk bekerja. “Supaya keuangan rumah tangga kita meningkat dan sejahtera” , itulah yang kerap Agung katakan pada Rina.

Ya, bekerja dan selalu bekerja dan berusaha mewujudkan rumah tangga yang ‘layak’. “Sebenarnya layak untuk siapa, sepertinya aku  hanya bagian dari rencana hidup Agung saja, dan benarkah Agung mencintaiku?” batin Rina. Yang ada hanyalah Rina yang selalu menelan pil pahit suaminya tak seromantis suami teman-temannya, bahwa suaminya tak selalu ada untuk sekedar mengucapkan “I love you, Sayang” atau mengirim karangan bunga seperti kebanyakan suami-suami di luar sana. Dan itu membuat Rina merasa tidak seberuntung teman-temannya, bahkan sempat mencurigai suaminya tatkala suaminya pergi untuk  sebuah perjalanan dinas ke luar kota.

Ya, semudah itu prasangka bermain. Ingatan akan almarhum bapak mertua saya kembali merasuk ke otak saya. Mendiang Bapak yang waktu di sepanjang hidupnya  tersita untuk bekerja dan bekerja demi memenuhi kebutuhan anak isterinya, sehingga waktu untuk sekedar bermain dan mengungkapkan rasa sayang pada keluarganya hampir tak ada. Pulang ke rumah dalam keadaan payah lelah, lantas membuat sosok Bapak menjadi seperti dingin tanpa kalimat-kalimat sapaan sayang pada anak-isteri beliau. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah Bapak memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan rasa melalui bahasa verbal. Bapak lebih suka membuktikannya melalui tindakan nyata, yaitu bekerja dan kebutuhan anak isterinya terpenuhi!

Sesungguhnya ibu dan bapak sungguh saling mencintai, sama seperti Rina dan Agung. Hanya saja implementasi masing-masihg memang berbeda dalam mengejawantahkan rasa cinta. Rina yang inginnya suaminya berlaku romantis dengan pulang membawakan bunga atau ucapan-ucapan manis, Agung dengan sikap kakunya dan sepucuk foto di saku -- yang akhirnya Rina temukan saat Agung tergolek tak berdaya di ranjang rumah sakit --  yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi untuk menghalau kangen. Ya, foto Rina dan Bintang, anak mereka berdua, dengan tulisan “Untuk Rina dan Bintang, akan kuberikan segalanya…”

Pesan dari cerita ini adalah ketika kau tersandung prasangka akan pasanganmu, maka bersihkanlah noda itu dan buang jauh-jauh dari pikiranmu. Cinta tak hanya sebatas kata-kata mesra dan onggokan karangan bunga wangi, namun juga perlu pembuktian nyata. Pandangi matanya lalu temukan kembali penyebab kau jatuh cinta dan bersedia mengikat janji dengannya. Jangan menunggu sampai pasanganmu tergolek lemah tanpa daya atau malah sampai dia tak ada lagi di sisimu untuk menyadari akan besarnya cintanya padamu.

Ya, cerita ini sangat menginspirasi saya bagaimana memandang sebuah hubungan dari kacamata yang berbeda. Ke 41 cerita lainnya pun tak kalah menginspirasi. Berbagai cerita yang begitu akrab dengan kejadian sehari-hari seorang ibu seperti saya, siap untuk menemani istirahat kamu dengan secangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng! 

Jadi, jangan pernah remehkan noda. Karena kita tak akan pernah mengira, cerita dan hikmah apa yang ada di baliknya.

2 comments:

  1. oiya kisah ini juga menyentuh banget. AKu pikir endingnya si Agung meninggal, ternyata ngga. Co cweet.

    Una sama Jingga jangan main Noda ya, nanati ibunya ternoda, wkkwwkkw #kabur

    ReplyDelete
    Replies
    1. ho'oh, td ayahnya jg baca, dikirain endingnya si Agung 'lewat'...:)
      ah Una ama Jingga mah uda biasa ama noda tanpa membuat emaknya ternoda, halahh

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...