Friday, April 12, 2013

Stop Complaining, Make Something...!


“If you can channel the best part of you that is bigger than yourself, where it’s not about your ego and not about getting ahead, then you can have fun and you aren’t jealous of others. You see other people's talent as another branch of your own. You can keep it rooted in joy. Life is long and there are plenty of opportunities to make mistakes. The point of it all is to learn.”  ~ Ethan Hawke

2 hari ini saya disibukkan dengan pesanan kue dari temannya kakak. Mulai dari fruit pie yang bikinnya mesti satu-satu dan telaten, sampai pudding cokelat-marie-keju. Alhamdulillah, semua pesanan sudah nyampe di tempat.

Senang? Iya dong. Puas? So far, saya puas. Karena ini adalah pesanan pie perdana buat saya. Biasanya pada pesen pudding, brownis , cupcake atau kue ultah saja. Alhamdulillah, untuk first trial, sukses euy…!


Capek? BIG YES. Apalagi waktu menata pie satu-satu lalu masukin ke mika kue satu-satu juga, sendirian pula, anak-anak balita menunggu dengan wajah gak sabar sembari merengek “mama, punya Jingga sama Lubna manaaa…”, huwaaaah rasanya pengen nangis gak sabar. Pengen banget ada yang mijitin bahu. Pengen banget ada yang ngajakin ngobrol. Pengen banget ada yang ngurusin duo balita ini. Pengen banget ada yang bantuin mengemas pie. Pengen banget ada yang bantuin marutin keju di atas pudding. Tapi kenyataannya : gak ada. Pak ayah mesti kerja pagi. Minta tolong sama ibuk, gak mungkin. Jejeritan nyuruh Lubna pegangin mikser juga gak mungkin.

Akhirnya terima saja nasib. Kerjain satu-satu dan pelan-pelan. Sampai bagian mengemas, sudah 10 kemasan, eh ternyata lupa naro kertas cup di bawah pie-nya. Buka lagi, bongkar lagi, ulang lagi dari nol (eleuh kayak di SPBU aja ya). Pengen ngomel, ngomel ama siapa? Tembok dapur?

Pikiran di kepala langsung mengembara ke temen-temen yang profesinya keren-keren. Ada yang jadi guru, ada yang jadi dokter, ada yang jadi konsultan bangunan, ada yang cuma ibu rumah tangga biasa namun punya asisten rumah tangga yang siap mengerjakan pekerjaan rumah dari A sampe Z, ampe ada yang jadi enterpreuner sukses dan kaya raya. Sementara saya di sini masih berkutat dengan duo balita yang belum mandi dan bau kecut, mencoba menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sekaligus merampungkan pesanan pelanggan tanpa bantuan sesiapapun. Mmh ayah sih bantuin, bantu belanja dan bantu doa..:D

Bahkan untuk menulis saja saya sulit mesti nyari dan nyuri waktu di antara kekacauan pekerjaan rumah tangga yang seperti gak ada habisnya.

Namun sekelebat ide mampir di kepala saya. Bahwa saya --lah yang-- punya kesempatan ini. Ya, kesempatan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga asli dengan perentilan yang gak habis-habisnya, dan saya tau sekali, gak semua orang berkesempatan seperti saya.

@felixsiauw mengeluh yang menjadikanmu susah? | atau karena susah engkau mengeluh? | sesungguhnya keduanya sama-sama bencana

Seperti saya gak berkesempatan mencicipi profesi lain yang memang belum tentu bisa saya jalani dengan baik. Dan seperti saya yang gak sekali dua kali ngomel kelelahan dan menatap iri mereka para working woman, mereka pun pasti sering menatap iri saya yang bisa dengan leluasa bermain dan menghabiskan waktu dengan anak-anak.  Namun gak lantas bikin saya boleh berbangga dengan apa yang saya miliki dan tidak mereka miliki dong ya… Gak baik. Hehe…

Kalau nyontek quote Jawa-nya Pak Ayah sih “Sawang sinawang”. Kalau bahasa normalnya “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau”. Ya, senangnya membanding-bandingkan. Padahal belum tentu apa yang mereka pilih itu bisa memberikan mereka kebahagiaan lahir dan batin. Ya, selalu ada dua kutub berbeda dalam setiap pilihan, positif dan negatif. Selalu ada bobot yang variatif karena pembawa beban yang berbeda, sekali lagi teori relativitas berlaku. Halah ngomong opo tho yoo…

Kesempatan yang sebenarnya sungguh sangat berharga buat sebagian orang, namun kita miiliki dengan utuh, bukankah cukup alasan untuk kita gak mengeluh lagi? Masih protes dengan kondisi kita sekarang? Bukankah ini buah dari pilihan-pilihan yang kita buat di masa lalu? jadi jalani saja. Jadi ibu yang baik. Jadi istri yang baik. Jadi perawat yang baik. Jadi guru yang baik. Jadi bankir yang baik. Jadi dokter yang baik. Karena itu memang pilihan kita!

Jika kita tidak menikmati pilihan kita, coba lihat ke diri sendiri, pasti kita telah membuat keputusan yang salah, karena pilihan yang benar seharusnya membuat kita nyaman. Membandingkan pilihan sendiri dengan pilihan orang lain itu buang energi dan emosi karena kita toh tidak tahu apa latar belakang pilihan orang lain. Menilai orang lain itu hanya pengalihan atau pelarian dari keadaan diri yang tak puas terhadap pilihan yang telah dilakukan. ~Lusiana Trisnasari

Kalau kata demasip sih, syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah… Kalau masih gak suka? Ya, ubah dong :)

gambar dari sini

Sebenarnya ni saya mau ngomongin apa yah?

17 comments:

  1. boleh donk di kirimin ke bandung kuenya :P

    ReplyDelete
  2. Setuju mak, intinya bersyukur :)
    hadeuuuhhhh ngiler aja nih lihat foto2 kue disini, kalo dekat aku jg mau pesan Pie nya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat mak *halah gak kreatip pisan yak jawabannya :)
      boleh order mak, untuk brownisnya, hehe *sekalian promosi*

      Delete
  3. setuju mak :)

    wah punya usaha makanan? keren ih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih orderan, maaak, doakeeeuun biar terlaksana, aamiin...:)

      Delete
  4. "Sawang sinawang' itu bener banget Mbak
    Saat saya berkutat dengan pekerjaan di kantor yang ada dalam bayangan saya jadi ibu rumah tangga dengan anak2 yang lucu :)

    Semangat ya Mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, saya juga envy ama working woman (sometimes kalo udah mumet ama kerjaan RT yang gak ada abisnya), hehehe...
      makasih ya mbak :)

      Delete
  5. kunjungan pertama mohon kerja samanya gan.....
    follow sukses mohon polback ya.. :)

    jadi laper ngliat gambar kuennya agan....

    ReplyDelete
  6. kalo mengeluh terus malah jadinya gak bergerak2 ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat, mbak...:)
      memilih artinya berdamai dengan segala konsekuensinya :)

      Delete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. nrimo ing pandum ya syng...,tulisannya kian menggigit nih si acil...:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah kira-kira begituh, sayang :D
      nyamuuuk kaleee menggigit...^^

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...