Wednesday, May 29, 2013

Agar Tidak Terlalu Merugi


Pemakaman Gayamsari - Semarang
 “Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua – Soe Hok Gie

(Catatan Seorang Demonstran, h. 96)” 



Lepas  dua pekan lalu kami diberikan kesempatan menginjakkan kaki di Semarang, kota kelahiran suami saya. Berbeda dengan mudik lebaran terakhir kemarin, tujuan utama dari trip ini adalah untuk takziah ke makam Bapak. Ya, seperti sudah saya ceritakan di sini, Bapak berpulang beberapa waktu yang lalu.

Agak berbeda pula rasa yang membuncah kemudian, saat mata ibuk bersirobok dengan sosok anak lanangnya di depan pintu. Seketika bangkit dan memeluk erat, dan nyatalah tak terelakkan, airmata tumpah di sana. Kaget, karena kami memang merahasiakan kepulangan kali ini. Pilu, karena kepulangan kali ini kami tak menemukan sosok Bapak seperti biasanya.

berbeda tanpa sosok Bapak


Kepulangan kali ini agak sedikit ‘berbeda’ lagi, karena sejak awal keberangkatan, perjalanan diwarnai dengan beberapa berita kematian. Yang pertama, kematian Uje, ustadz terkenal di negeri ini. Lalu beberapa kabar kematian lain di Semarang, yang ini tentang kecelakaan beruntun yang terjadi di beberapa titik jalan raya yang sesaat sebelumnya kami lewati. Lalu tentu saja, kematian Bapak.

Pemakaman Gayamsari - Semarang

Beberapa di antaranya mati di usia muda. Terbayangkan kah?

Ya, begitulah nyatanya skenarionya. Maut mengintai di mana-mana. Ada yang lolos, ada yang kena. Seperti halnya daun kering yang tak terelakkan jatuh melayang ke hamparan tanah.

Seseorang pernah berkata, kalau kelahiran adalah hidup, hidup adalah hidup, maka kematian juga adalah hidup. Ya, dengan dimensi yang berbeda tentunya. Karenanya saya tak heran ketika suami saya menemui salah satu sahabatnya yang memiliki kemampuan ‘melihat’ dimensi lain, dia ‘melihat’ betapa almarhum Bapak sedang mengamati suami saya dari kejauhan dengan wajah terlihat senang dan lega.  Sempat tak percaya dengan perkataannya, namun si sahabat berujar “Aku gak maksa kamu untuk percaya penglihatanku kok…”

Karenanya ketika ada yang bilang, mereka yang beruntung adalah mereka yang sudah mati, dan mereka yang sial adalah mereka yang ditinggalkan, mungkin karena itu tadi, mereka yang sudah mati kemungkinan memiliki kemampuan untuk memantau mereka yang ditinggalkan –sesekali-- , sedangkan mereka yang ditinggal hanya puas dengan mentakziahi makam.

Prasasti Pertempuran 5 Hari di Semarang ~ Samping Gedung Lawang Sewu

Jadi ingat dengan quote Pramoedya Ananta Toer ; “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Jadi agar mereka yang tertinggal di dunia ini tak merasa terlalu rugi karena tak bisa menengok si mati, mari menulis… Menulislah, menulis apa saja. Dengan kertas dan pensil kah, di diary kah, di blog kah, di mana saja, untuk mereka yang tertinggal kelak. 

Maka kau tidak akan merasa terlalu rugi…:)

image from Google

10 comments:

  1. Semoga beliau mendapatkan tempat yang layak ya Mbk.

    Amien

    ReplyDelete
    Replies
    1. allahumma aamiin... terimakasih atas doa, kunjungan dan komennya ya mas :)

      salam kenal..

      Delete
  2. menulis itu buat sy seperti meninggalkan warisan catatan sejarah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul, mak, dulu saya suka nulis di mana-mana, gak bisa lihat diary atau agenda nganggur, pasti ditulisin :D
      sekarang sudah ada blog, alhamdulillah, mudah2an bisa dinikmati orang-orang sekeliling kelak :) insyaAllah

      Delete
  3. so inspiring..

    pertama mengingatkan tentang kematian
    kedua, mengingatkan tentang pentingnya menulis...makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, ini self reminder juga mas ^^

      Delete
  4. Mbak Puji bagus banget... terharu deh :')
    emang bener ya kita harus menulis, ya walaupun nggak semua orang beruntung bisa diterbitkan sama publisher dan dikenang sama seluruh dunia, seenggaknya kita meninggalkan 'sesuatu' buat anak cucu kita supaya mereka ingat terus sama kita aish :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe makasih yaa...
      sebenarnya rada khawatir, gimana kalau kelak blogger gak bisa dibuka, hiks, gimana inii... apa diprint satu-satu aja kali ya ^^

      Delete
  5. setiap penulis akan mati.
    hanya karyanyalah yang abadi.
    maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.

    (Ali bin Abi Tholib)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya, dan teruskanlah 'proyek' itu, suamikuuuuh.....^^

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...