Tuesday, June 25, 2013

Antara Mamaknya Si Rama dan Buang Sial di Eropa



Akhir-akhir ini agak malas jalan pagi, nak. Mungkin karena dipicu kebiasaan mama dan ayah yang hobi begadang, ngopi sembari ngobrol baca buku, browsing, makan,…. Jadi kangen masa-masa hamil kakakmu Jingga dulu. Kakak Reza masih SD, nak, masih bisa diandalkan jagain kakak Lubna di rumah, jadi mama dan ayah bisa kabur tengah malam hanya untuk sekedar nyari kopi atau pecel lele, lalu mengobrol sampai jam 3 pagi. Sekarang, cuma ada kedua kakak gadismu, mereka belum bisa jaga diri sendiri, kalau bangun tengah malam harus langsung dipegang atau diusap punggungnya sampai tertidur lagi.


Sebenarnya enak juga lho jalan pagi itu, selepas shalat subuh, udara masih benar-benar segar dan bersih, berpapasan dengan mereka yang baru pulang dari langgar, berpapasan dengan mbah jualan kue, dan berpapasan dengan bis-bis besar penjemput karyawan batubara. Tanpa sandal, a.k.a telanjang kaki.

Ya, awalnya terasa aneh gitu, menapakkan kaki di jalanan aspal yang dingin dan berembun, sesekali menginjak pasir dan rumput di tepi jalan, atau kerikil-kerikil. Berasa aneh dan telapak kaki jadi geringgingan. Sempat gak kuat juga, sih, geringgingannya bikin susah menapak. Tapi ayahmu itu orangnya ngeyel, tangan mama digandeng dan disuruh tetap jalan walau pelan.

Berikut ini beberapa keuntungan atau manfaat kesehatan yang bisa dilakukan dengan berjalan tanpa menggunakan alas kaki, seperti dikutip dari Lifemojo, Sabtu (13/8/2011) yaitu: 

1. Pada musim panas, berjalan tanpa alas kaki bisa menjadi efek pendinginan bagi tubuh jika dilakuakn di atas rumput hijau saat pagi hari. 

2. Berjalan tanpa alas kaki bisa meningkatkan fungsi sirkulasi karena mengaktifkan ootot-otot di kaki yang nantinya membantu memompa darah kembali ke jantung. 

3. Mencegah terjadinya pengumpulan darah di kaki, mengurangi stres pada sistem kardiovaskular secara menyeluruh dan mengurangi tekanan darah serta masalah pada pembuluh darah vena.

 4. Berjalan tanpa alas kaki memberikan efek relaksasi pada kaki yang lelah. 

5. Membantu meluruskan jari-jari kaki, mencegah perubahan bentuk kaki (deformitas), mencegah masalah pada kaki datar serta meningkatkan kekuatan fleksor. 

6. Memberikan kesempatan untuk membangun kontak langsung dengan alam sehingga menghilangkan ketegangan pikiran akibat tekanan sehari-hari, tubuh menjadi rileks, meremajakan pikiran serta meningkatkan energi tubuh. 

Sumber : http://health.detik.com/read/2011/08/13/160903/1703061/766/jalan-telanjang-kaki-dan-manfaatnya

Sama halnya seperti kakak-kakakmu dulu sewaktu masih bayi, nak, sentuhan langsung  di beberapa titik tubuh termasuk telapak kaki itu tak pernah luput dari pijatan lembut, karena konon sentuhan berupa pemijatan dapat memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh juga ke otak. Pemijatan pada bayi juga dapat merangsang sistem motorik dan sensorik pada bayi untuk membentuk kecerdasan emosi, interpersonal, intrapersonal, dan kecerdasan lainnya. Wow banget kan?

Membaca artikel kesehatan di atas, teringat isu kenaikan BBM beberapa hari terakhir ini. Sebenarnya sih buka isu lagi yah nak, lha wong harga BBM memang sudah naik. Kata mereka, ini bukan kenaikan, melainkan penghapusan subsidi, karena nyatanya yang menikmati subsidi itu hanya orang kaya. Hanya, kata mereka, nak. Yah mama memang tak terlalu mengerti perihal biaya produksi, biaya eksplorasi minyak bumi dan sebagainya. Yang mama mengerti cuma mamang sayur langganan mama yang setiap hari singgah di depan rumah itu pakenya motor. Tukang ayam potong dan tahu tempe yang tiap hari mengantarkan ayam ke pasar pun pake motor. Apakah mereka itu juga yang disebut-sebut termasuk golongan orang kaya? Tidak bisakah mereka ini yang dimengerti, bukannya malah sebaliknya?

Kemarin sore, nak, iseng duduk di teras mamaknya si Rama, tetangga kita, yang ngontrak rumah petak sederhana dari kayu itu. Kebetulan bapaknya si Rama, sedang sibuk menyiapkan pancing dan kail. Sementara mamaknya si Rama, menyiapkan bekal sang suami.

“Mau mancing kah, bapaknya Rama?” tanya mama, yang dijawab dengan anggukan kepala dan senyum oleh mereka.

“Jauh?”

“Yah lumayan mbak, ada kalo 30 menit perjalanan pake motor,” jawab mamaknya Rama sembari menunjuk motor butut suaminya.

“Waah, apalagi bensin lagi larang ya, mbak, gak sayang kah?” gumamku lagi.

“Lha iwak juga larang luar biasa je, mbak, di pasar… Ni lagi ngidam kepengen iwak haruan panggang, jadi bapaknya nyarikan iwaknya ke sungai daerah  sana…” jawab mamaknya Rama sembari menyerahkan bekal untuk suaminya.

Glek…

Iya, akibat BBM naik, harga iwak di pasar dan mamang sayur pun jadi ikutan naik. Berbanding lurus. Bukan hanya itu, beras, bawang, cabe, gula, telur, semua ikut naik. Memangnya pemerintah pikir tukang sayur dan ikan itu ngangkut hasil kebun dan sungai itu pakai gerobag atau becak? Lantas tukang becak dan gerobag gak butuh ongkos untuk sekolah anak-anaknya, gitu? Nah ongkos masuk sekolah juga ikut naik tahun ini, bukan? Lalu bagaimana dengan mereka yang berencana mudik di lebaran yang sebentar lagi ini, dengan harga tiket membubung tak terkendali?  Semuanya seperti sebuah skenario yang sengaja dijalankan bersamaan.

Halo orang kaya, apa kabar?  Di sini kami tumbang tumbalik menghidupi keluarga!

Sepertinya tidak akan terlalu terasa, mengeluarkan sedikit berlebih uang kertas demi beberapa ekor iwak haruan, tanpa harus susah payah memancing di sungai demi menghemat uang. Untuk membeli sebuah tas seharga sebuah jaguar di Eropa pun dianggap sekedar ‘buang sial’ saja. Duh…

Duhai, nak… sepertinya ada yang harus memberitahu mereka -- pemerintah itu -- , untuk melepaskan sepatu mahal bermerk mereka, meninggalkan mobil-mobil dinas mewah mereka lalu berjalan bertelanjang kaki sekali-sekali, bersentuhan langsung dengan alam, agar aliran darah ke otak menjadi lebih lancar, dan kecerdasan emosi, interpersonal, intrapersonal sedikit bertambah.

Merasakan kasarnya aspal, dinginnya embun, sakitnya terinjak kerikil tajam, sesekali melewati area becek, bahkan sesekali terluka oleh setitik beling di tengah lembutnya rumput, nampaknya sepadan, agar entitas sabda Rasulullah berikut lebih terpahami : 

 “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal; air, padang rumput dan api (energi/barang tambang)” (HR Abu Dawud, Ahmad)


Ah, kapan ya nak, ayah ngajakin mama jalan pagi lagi?

gambar dipinjam dari sini

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...