Monday, June 10, 2013

bukan untuk merayakan apapun



“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku” (H.R. Muslim)


Mencintaimu, suamiku, adalah seperti embun selepas hujan, terkadang bersembunyi mengintip malu di rimbun dedaunan, namun terasa hadirnya oleh sejuknya.

Mencintaimu, suamiku, adalah bagaimana cara memandang hidup dari sisi berlawanan, yang terkadang mematahkan jalan pikiranku, dan nyatanya kau (hampir) selalu benar, dan itu tak lantas membuatmu merasa paling benar lalu kita terberai.


Mencintaimu, suamiku, adalah bagaimana belajar berbagi tanpa mengurangi jatah masing-masing lalu menjadi sempit, namun justru membuatnya kian besar dan lapang.

Mencintaimu, suamiku, adalah sebuah usahaku tanpa henti, untuk terus mempelajarimu, memahamimu,  mengenalimu, mendeskripsikanmu dengan bahasa sederhanaku agar otak dan hatiku berjalan sinkron.

Mencintaimu, suamiku, adalah ketika aku harus memahami aku bukanlah satu-satunya prioritasmu tanpa kau bermaksud mengenyampingkanku, namun kau sebagai imam adalah keutamaanku, dan nyatanya kita memang lebih kaya daripada sekedar memiliki satu sama lain.

Mencintaimu, suamiku, adalah ketika aku belajar mengendalikan gejolak yang melompat-lompat ingin keluar melalui verbal tanpa pikir panjang, dan memahami bahwa kau pun sedang mempelajari hal yang sama, karena kita sama-sama tahu, kita jauh lebih besar daripada sekedar masalah tak bisa membayar utang atau gossip tetangga tentang gaya hidup sederhana kita, atau orang luar yang ingin mencoba mengoyak apa yang sudah  kita rajut.

Mencintaimu, suamiku, adalah ketika kita terjebak di persimpangan perbedaan namun tak lantas membuat kita mengambil jalan berbeda karenanya. Adalah ketika kita berdiskusi panjang jalan mana baiknya tanpa mengenyampingkan pendapat satu sama lain. Adalah ketika kita memutuskan untuk terus saja, berbalik arah, atau berhenti sejenak sembari  menunggu terbukanya jalan lain.

Mencintaimu, suamiku, adalah ketika belajar membuka hati ketika kritikmu tersampaikan, bukan bermaksud untuk menjatuhkan, melainkan menjalankan janji awal ; saling mengingatkan.

Mencintaimu, suamiku, adalah belajar tak berbesar kepala ketika untaian kalimat cinta tak terucap verbal melainkan melalui lelaku, lalu tak lantas merasa jumawa ketika kau tak menangkupku di dapur sumur kasur sebagai sebuah kewajiban, dan caramu membuat bidadari surga cemburu padaku dengan menutup sebagian besar lahirku dari pandangan khalayak.

Mencintaimu, suamiku, adalah ketika aku belajar menertawai kesedihan dan sensitifitasku akan segala sesuatu yang menimpa hatiku, karena nyatanya aku memilikimu sebagai anugerah tak ternilai yang tak sepadan jika dibandingkan dengan airmata galauku.

Mencintaimu adalah bagaimana belajar menjalankan rumahtangga layaknya cinta Ali dan Fatimah dalam kepasrahan kepadaNya. Pernahkah kau mendengar cerita betapa Fatimah memarahi Ali ketika Ali pulang, menemukan pintu rumah dalam keadaan terkunci sementara Fatimah pulas tertidur di dalam, lalu Ali memilih untuk tidur di serambi masjid nan dingin dan berdebu, karena tak ingin mengganggu tidur Fatimah? Sungguh aku tak ingin menyamakan kebaikanmu dengan kemuliaan Ali, namun kau memang lebih memilih menungguku bangun untuk sekedar menikmati kopi sembari mengobrol daripada membangunkanku.

Sengaja kuposting tulisan ini sehari sebelum hari kelahiranmu, suamiku, karena sejatinya kita memang sepakat untuk tidak merayakan apapun di dalam rumah ini. Hanya sebagai pengingat diri ini  dan kita. Hanya sebagai kontemplasi diriku, sudah pantaskah aku mengemban predikat istri dari seorang imam rumahtangga sepertimu. Ya, kita adalah kekurangan dan sudah sepakat untuk melengkapi, dan jika ketika berlebihan kita sudah sepakat untuk membagi.


Bukan dari tulang ubun ia dicipta, sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki, karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
Tetapi dari rusuk kiri, dekat ke hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi

Jika cinta adalah matematika, maka yang mencintai kita akan mengalikan kebahagiaan sampai tak hingga, membagi kesedihan hingga tak berarti, menambah keyakinan hingga utuh, dan mengurang keraguan hingga habis

~ Salim A Fillah~


gambar dari sini

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...