Wednesday, June 19, 2013

Cerita Untuk Semesta : Cetak Biru


Jumat, 15 Maret 2013




Ini adalah tentang dia yang kerutan di ujung-ujung mata dan bibirnya yang kerap membentuk senyum itu berulang-ulang berhasil membuatku kembali jatuh cinta lagi dan lagi di setiap harinya.


Ini adalah tentang dia yang selalu menyempatkan diri untuk memelukku di setiap subuh menjelang, nak. Bukan sekedar pelukan. Namun pelukan erat.




Ini adalah tentang dia yang setiap pagi mengenakan sepatu safety -- yang selalu dalam keadaan kurang bersih dan aku dilarang untuk membersihkannya, alasannya “sia-sia, dek, kan nanti kotor lagi…” padahal dia hanya tak ingin membiarkanku lelah -- dan melangkah terburu-buru ke arah bis jemputan karena terlalu lama memeluk dan mencium berpamitan pada istri dan anak-anak perempuannya.


Ini adalah tentang dia yang selalu menyediakan bahu untukku bersandar di saat kangen kakakmu Reza.




Ini adalah tentang dia yang hobi sibuk mengoceh sementara aku baru melemparkan satu kalimat obrolan.




Ini adalah tentang dia yang kerapkali diam-diam menggapai jemariku lalu mengecupnya ketika kita berempat berdesakan di atas motor matic itu.




Ini adalah tentang dia yang ketika lehernya ‘tengeng’ tak bisa digerakkan apalagi menoleh, malah beringsut dengan susah payah mendekatiku untuk memelukku, padahal bisa saja aku yang mendekati dan memeluknya.




Ini adalah tentang dia yang selalu memberiku ruang dan waktu untukku menulis segala ocehan tak penting di blog-ku, dan memperingatkan sesiapapun yang mendekat dan berpotensi menggangguku melakukan aktivitas itu.




Ini adalah tentang dia yang tak pernah protes ketika di tengah malam buta aku menyeretnya ke dapur untuk menemaniku merebus mie instant karena kelaparan, pun ketika mengamatiku dan mengajakku mengobrol sembari menemaniku makan, tak sedikitpun komentar semacam  “nanti tambah gemuk lho, ma!” terlontar dari bibirnya.




Ini adalah tentang dia yang kerap lupa password akun dan PIN ATMnya, dan menugaskanku untuk mengganti dan mengingatnya dengan baik.




Ini adalah tentang dia yang begitu susah dibangunkan setiap pagi, namun anehnya setiap diguncang lembut badannya, dia menyahut pelan dan lembut seperti saat dalam keadaan terjaga, namun tak jua terjaga.



Ini adalah tentang dia yang tak pernah lupa mengirimkan SMS pemberitahuan bahwa dia sudah tiba di workshop raksasa itu, dan selanjutnya SMS itu berisi peringatan agar tak lupa shalat dan makan.




Membosankan kah nak?




Herannya, itu menjadi semacam candu untukku, nak. Barangkali memang harus begitu, nak. Bosan, sesekali mungkin. Namun bukankah pernikahan itu serupa ikatan yang berpotensi membosankan kedua belah pihak? Bagaimana tidak?


Bayangkan nak, setiap malam kau tidur dengan orang yang sama, terjaga dan melihat orang yang sama, setiap hari melayani orang yang sama, berbicara tentang segala macam misteri hidup dengan orang yang sama pula. 




Namun itulah ayahmu, nak. Dia membungkus hatiku dengan selaput kasih sayang dan sifat pengalahnya. Tak sudi dibiarkannya sesiapapun menyakiti dan meremukkanku.


Dan percayalah, nak, kau hanya perlu mematrinya di ingatanmu sebagai cetak biru dirimu kelak, atau siapapun calon suamimu kelak.


Ayahmu.



No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...