Friday, June 07, 2013

padahal sebagian aku adalah kamu



Entah mengapa aku selalu bersedia mendengarkanmu,
padahal lebih dari separuh omonganmu berisi racun membinasakan hati.

Entah mengapa (sepertinya) kau masih membutuhkanku dan aku tak bisa tidak mendekatimu, tak bisa beranjak jauh, padahal ada semacam belati di punggung setiap kita yang siap kita hunus kepada satu sama lain.


Sering hati memberi perintah kepada otak untuk menjaga jarak denganmu, bahkan kadang lebih parah, menyakitimu sampai ke dalam, mengulitimu sehabis-habisnya, sakit sesakit-sakitnya,
agar kau tahu seperti apa rasanya luka parah di dalam.

Entah mengapa aku tak bisa, lalu kubiarkan bisa itu mengalir meracuniku sampai ke nadi terkecil di hatiku.

Entah mengapa kusembunyikan airmataku lalu kubalut lukaku, kusembuhkan tanpa sepengetahuanmu, lalu menampilkan senyum palsu pun menjadi keahlian tak  terelakkan.

Mengapa. Ya, mengapa. Pertanyaan tanpa tanda tanya yang selalu tak usai berkusut masai di kepala, tak sedia memberi jeda kepada otak untuk memberi jawaban paling masuk akal pada jerit hati yang tak henti berdarah.

Rangkai demi rangkai jawaban semu kuciptakan, memberi maklum pada tingkah polah tak berhati-mu padaku, namun tak ada satupun yang memuaskan hati.

Ketika materi dan tingginya kedudukan yang menjadi berhalamu kau gadang-gadangkan di pelupuk mata dan berdengung di gendang telingaku, aku yang tak pernah bisa memenuhi mimpimu semenjak sesaat aku hadir dalam hidupmu, telah berubah menjadi musuh sejati yang tak akan pernah sejalan dengan jalan pikiran dan kehendakmu.

Maka genderang perang telah bergaung.

Mengapa?
Padahal sebagian aku adalah kamu.



*kontemplasi di tengah kecamuk hati*

image from google

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...