Tuesday, July 16, 2013

saatnya jadi orang dewasa!


Bismillah…

Baru memasuki hari ke-6 Ramadhan, namun begitu bertubi ujian yang begitu menggoda untuk lemah iman dan merusak rencana yang sudah tersusun rapi. Entah apakah karena ini Ramadhan, jadi ujian kecil pun menjadi tampak besar dan kami lebay dalam menghadapinya.

Entah, kali ini saya merasa ‘sendirian’. Sendiri di sini maksud saya adalah ‘hanya saya dan keluarga kecil saya ; saya, abang dan anak-anak saja’. Sendiri dalam mengurai kekusutan benang permasalahan. Sendiri bertahan untuk tidak roboh. Sendiri mencoba tetap berkeyakinan kami lebih’besar’ daripada masalah. Sendiri dengan keyakinan kami mengambil keputusan yang (kami anggap) benar. Sendiri dengan keyakinan cukuplah Allah sebaik-baik penolong.


Terkadang bisa juga merasa benar-benar sendiri dalam artian sebenarnya. Sekali lagi saya belajar memantapkan hati untuk tidak terlalu jauh tenggelam dalam kegalauan dan dengan mudah menangis seperti yang sudah-sudah. Saya mencoba untuk menerima bahwasanya inilah realita yang sebenarnya. Realita bahwa ini memang permasalahan normal ‘orang-orang dewasa’. Dan saya pun (ternyata) sudah dewasa. Bukan lagi anak kecil yang selalu mengandalkan orang-orang terdekat untuk menyelesaikannya, sedangkan saya cuma memerhatikan dari jauh lalu melanjutkan membaca novel Enid Blyton. Ya, kadang saya terkejut betapa masa kecil saya sudah lama berlalu dan sekarang saya berada dalam fase dewasa dengan seabrek permasalahan orang dewasa juga!

Entah mengapa bisa seperti itu. apakah karena selama hidup saya (hampir) selalu bertemu dengan kemudahan-kemudahan lalu akhirnya terkaget-kaget dengan realita ini. Atau dengan keberadaan abang yang selalu menghandle semua urusan teknis rumah tangga, sehingga saya terbuai olehnya. Ya, saya mengerti abang memang selalu ada untuk ‘pasang badan’ untuk saya, sekira saya tidak tersakiti, terlelahi dan terbebani, karena sayangnya yang luar biasa untuk saya. Dan uniknya hal itu menular kepada anak sulung saya, Reza. Pernah suatu kali saya dan abang menjenguknya di pondok pesantren, dan waktu itu jadwal pembayaran SPPnya. Karena ruangan ustadz-nya cukup jauh, Reza melarang saya untuk ikut serta ke ruangan ustadznya, sembari bilang “Udah, mama di sini aja, capek lho ma, ke sana, mama kan lagi hamil, biar Reza sama ayah yang ke sana…”. Dan ternyata saya sedikit terbuai dengan kenyamanan-kenyamanan itu.

Ah, mungkin saya memang sedang lebay. Sebenarnya ini permasalahan biasa. Pertentangan (yang berujung ancaman menakutkan perihal penyakit mematikan yang bisa timbul kepada bayi) dengan bu bidan yang ingin memvaksin TT saya dan mengimunisasi bayi saya kelak sementara saya dan abang sudah berkomitmen untuk tidak mencemari janin dengan zat kimia apapun selama hamil, ini hal biasa, tidak perlu membuat saya gelisah di penghujung malam karena dihantui ketakutan-ketakutan absurd kan?

Juga tentang seseorang yang awalnya berkomitmen untuk membantu meringankan beban kami merenovasi rumah, ternyata itu hanya isapan jempol, itu juga hal biasa. Ya, biasa kan? Persoalan orang (yang sudah) dewasa. Marah saja tak apa-apa, asal tidak sampai hangus sendiri dan menghanguskan sekeliling -- untungnya saya memang bukan tipe orang yang senang memperlihatkan dan mengumumkan kemarahan dengan melabrak orang yang sudah mengecewakan saya, karena saya terbiasa memilih diam dan menenggelamkan diri dalam pikiran-pikiran saya sendiri. Demikian juga dengan  persoalan si janin yang terus saja berputar-putar di dalam perut saya, sampai terasa sesak dan melelahkan, juga hal biasa. Atau persoalan saya yang resah gelisah gundah gulana dalam menghadapi persalinan kelak, juga sepertinya hal biasa… persoalan orang dewasa! Tidak perlu lebay sampai galau dan menangis lah, Puji!

Saat ini saya belajar untuk tidak menghitung-hitung masalah. Ya, baru mau belajar sebenarnya. Menggantinya dengan mengabsen nikmat-nikmat yang sudah Allah beri kepada saya dan keluarga saya. Dan sungguh itu akan menjadi absen yang sangat panjang…


Ya, cukuplah Allah Azza wa Jalla sebagai (satu-satunya) penolong.

gambar dipinjam dari sini

6 comments:

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...