Monday, July 01, 2013

tentang sebuah tempat bernama dapur




Seperti biasa, bercengkerama dengan sahabat-sahabat setia di tempat rahasia yang sama, pojok tersembunyi tempat berbagi semangat dan ambisi berkarya pada awalnya, dan selalu berujung lelah dan kebosanan pada akhirnya.

Sebuah tempat bernama dapur.


Dan sahabat setia itu bernama panci, kompor, penggorengan, bawang, piring kotor, beserta kroni-kroninya.
Dari sini, berbagai aroma merebak, berbagai rasa tercipta. Berbicara mengenai aroma kopi yang digodog agar lebih terasa kentalnya, tentang aroma sambal terasi, sampai rebak sedap brownis yang baru saja matang.

Bosan. Ya, aku sedang bosan berada di ruang lingkup ini. Aku ingin teman baru, aku ingin tempat baru, aku ingin suasana baru. Tak hanya bergaul dengan panci gosong dan bergumul dengan piring kotor.

Sesekali boleh juga menyapa jalan raya penuh hiruk pikuk karyawan yang berangkat-pulang bekerja. Sesekali ingin juga bercengkerama dengan kesibukan di tengah tumpukan kertas laporan. Sesekali ingin juga menatap kedip monitor komputer dengan sejuta deadline.

Entahlah, aku tak bisa menimbang dengan pasti, selelah apa pekerjaan itu dibanding keruwetan dapur dan hidupku. Apakah sama lelahnya dengan mencuci seprei bau pesing? Apakah sama membosankannya menyapu lantai penuh remah roti? Atau justru lebih menyenangkan karena bertemu banyak orang dibanding sepinya memandangi deru putaran mesin cuci atau menunggu nasi matang di magic com? Atau bahkan jauuh lebih menggairahkan karena bisa berfashionista dibanding meladeni balita-balita yang merengek minta perhatian?

Duhai, aku bosan merayapi waktuku. Aku lelah dengan repetisi ini.

Ah, mungkin saja, ya mungkin. Mungkin saja, ini bisa reda dengan sebuah hibernasi berupa pelukan. Ya, hanya pelukan...

:’( 

gambar dipinjam dari sini

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...