Monday, August 26, 2013

Jadi, Biarkan Saja Mereka Tertawa dan Bahagia Saat Ini!

Hari Minggu kemarin jadi hari yang ‘sibuk’ buat anak-anak saya dan anak-anak tetangga saya. Mengapa? Ada acara 17 Agustusan! Hiyaa, telat yah booook…


Gak apa-apa deh, masih Agustus ini kaan, yang penting anak-anak senang dan bakalan jadi cerita ntar kalo dia sudah besar. Lihat saja ekspresi-ekspresi lucu dan excited mereka yang berhasil saya abadikan kemarin. 




Ready to balap karung. Wajah tegang dan penuh tekad!



Pantang menyerah, bangkit lagi setelah jatuh!


Mengatur siasat. Serius banget!

Lomba joget... Lihat saja gayanya!

Mulai dari yang malu-malu joget sampai penuh semangat jogetnya...


hap!

ayoooh abisin kerupuknyaaa...!





Horreeeeee!!! akhirnya sampe jugaaa...............!!!


Saya belajar banyak dari anak-anak ini. Ini bener-bener acara yang didesain sangat sederhana, dengan fasilitas lomba yang seadanya, dengan hadiah yang sederhana pula. Tapi lihat saja ekspresi mereka! belum tentu dalam keseharian kita bisa lihat ekspresi itu di wajah mereka, lho. Apalagi di tengah-tengah pusaran tekanan tanggung jawab dari orang tua yang diletakkan di bahu mereka.

Lihat saja wajah mereka saat pulang sekolah. Lihat saja wajah mereka saat mereka lupa mengerjakan PR atau saat akan bertemu guru killer di sekolah. Lihat saja wajah mereka saat nilai ulangan gak seperti yang diharapkan orang tua. Udah kayak besok mau kiamat saja. Susaaah banget diajakin bercanda, bahkan bikin bibirnya tersenyum pun gak bisa, yang ada ngambek dan marah-marah! Jadii, saat ini, di momen ini, biarkan saja mereka menikmati tawa dan kegembiraan itu...:)

Ah, jadi inget jaman sekolah iniih. Saya pernah bela-belain gak masuk sekolah dengan alasan sakit perut demi gak ketemu seorang guru kesenian yang mengharuskan anak murid menghafalkan not balok lagu-lagu wajib, hahaha... Dan emang bener, kalau saya berhadapan dengan beliau dan disuruh memainkan musik, entah darimana rasa mules, pusing dengan pandangan mata berkunang-kunang itu datang, dan langsung sembuh kalo saya berhasil balik ke tempat duduk dengan selamat sentosa. Maaf yah, buuu... Hihihih...

Karenanya, sekarang saya gak ingin anak-anak saya mengalami hal serupa. Seperti ayah mereka selalu bilang ke anak-anak (terutama si kakak Reza), ayah dan mama gak perlu nilai dengan angka fantastis di sekolah. Ayah dan mama hanya ingin melihat Reza, Lubna dan Jingga tumbuh sebagaimana mestinya, dengan akhlak dan ilmu agama yang baik. Kalaupun dianugerahi kemudahan dalam menyerap ilmu tinggi, maka jadikanlah itu manfaat untuk sekeliling. Untuk umat. Untuk agama.

Allahumma aamiin.

Oh ya, kemarin dapat note bagus banget dan touchy ini dari fanpage Bapak Ustadz Mohammad Fauzil Adhim... 


Cintai Anakmu untuk Selamanya


Kelak ketika usiamu semakin tua dan tanganmu tak lagi mampu menguati tubuhmu, apakah yang paling engkau harapkan dari anakmu? Kelak ketika suaramu tak lagi sanggup menyampaikan kehendakmu dengan suara jelas dan lantang, apakah yang paling engkau harapkan dari anakmu?

Kelak, andaikata uangmu sanggup untuk menggaji 10 pembantu untuk melayanimu, tetapi layanan paling VIP pun tak meneduhkan hatimu, maka apakah yang paling engkau nantikan dari anakmu? Kehadirannya? Ataukah pembantu dan perlengkapan yang dikirimkannya untukmu? Atau pembantu hanya meringankan tugasnya mengurusi rumah, sementara ia sendirilah yang mengusapmu dan menyeka keringatmu...

Apakah yang paling engkau nantikan dari anak-anakmu jika pelayanan terbaik di penerbangan first class pun telah hambar bagimu? Apakah yang paling engkau rindui dari anakmu jika sahabatmu telah pergi menjauh, karena mati atau karena uzur yang tak mereka kehendaki?

Saat kawan bicara semakin sedikit jumlahnya, apakah yang paling berharga bagimu dari anak-anakmu? Adakah anakmu akan berkenan mengusap air liur yang mengotori mulutmu ataukah mereka akan sigap memanggilkan pembantu untuk melakukannya? Di saat gemerlap dunia tak lagi mampu menarik hatimu, sementara badanmu tak lagi bugar seperti dulu, apakah yang paling harapkan terucap dari lisan anakmu? Tentang sejumput rindu kepadamu meski hampir tiap hari bertemu, ataukah ucapan yang ia tiru darimu tentang teramat sempitnya waktu, meski hanya sekedar untuk duduk di sampingmu di hari Minggu? Padahal itu adalah hari liburnya dia.

Kelak, adakah masa bagimu untuk berbincang hangat dengannya di pagi sore hari, lalu ia ambilkan untukmu air wudhu ketika azan terdengar? Ataukah kelak ia akan fasih mengucapkan kalimat agar engkau memahami kesibukannya, sebagaimana dulu ia sering dengar darimu saat ia kecil?

Apakah yang sebenarnya engkau cari?

Atas segala harapan dan kerinduanmu tentang anak-anak di saat tuamu, apakah yang telah engkau lakukan? Ataukah saat berharga untuk anak kita terlewat begitu saja? Tak ada yang berkesan bagi mereka, kecuali saat bercanda dengan pembantu. Sebab, mereka inilah yang amat terasa ketulusannya bagi anak-anak...

Anak-anak telah terlelap tidur... Dan aku tak tahu, apa yang paling membekas dalam diri mereka tentang kata dan tindakan orangtuanya... Anak-anak telah terlelap.... Dan mataku sembab bersebab tak mampu menjawab pertanyaanku sendiri, "Orangtua macam apakah aku?"



Masa kecil anak-anak itu tak lama. Sesudah berlalu masa dimana ia selalu merindukanmu, ia akan kuat menapakkan kaki sendiri menyusuri dunia. Pada saatnya kita akan tua, rentah dan sesudah itu berpindah ke alam barzakh. Maka, apakah arti masa kecil anak-anak itu bagimu?

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi... Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita. Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta. Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama. 

Adakah itu termasuk kita? Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala. 

Inilah hari ketika kita tak dapat membela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat? Dan dunia ini adalah ladangnya... 

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati. Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa 'Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. Tapi Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi. 

Allah Ta'ala berfirman:
"والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين" 

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath-Thuur, 52: 21). 

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini? Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi. Termasuk kitakah? 

Adakah kita benar-benar mencintai anak kita? Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat? Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Tapi adakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat? 

Tengoklah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya? 

Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai? 

Maka, cintai anakmu untuk selamanya! Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala. Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang. Masa yang tak bertepi. 


Tengah malam yang sunyi, sementara kerisauan untuk menjawab pertanyaan tentang diri sendiri sedang bergemuruh, "Orangtua seperti apakah aku?" 

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...