Sunday, September 15, 2013

Cerita Untuk Semesta : Muhammad Gaza Maulana


Sudah 10 hari usiamu, nak. Selama 10 hari  ini, mama, ayah dan kakak-kakakmu memanggilmu dengan sebutan Dek Gaza. Ya, Gaza. Kami suka sekali dengan nama itu, nak… semenjak beberapa saat setelah kau lahir,  nama itu sudah mama bisikkan ke telingamu. Assalamu’alaykum, Gaza…



10 hari yang lalu, titik di mana penantian kita semua berakhir. 9 bulan lamanya kami menantimu, melalui berbagai hal, pahit, manis, senang, airmata, gundah, galau, semua campur aduk. Mengingat momen  galau ketika kami menyadari kau hadir di dalam sana untuk pertama kalinya. Mengingat saat-saat di mana kau mengajarkan kami apa arti ikhlas akan kehendak Allah. Mengingat betapa kau mengajari kami untuk bijak (baca : mengangguk, senyum dan diam) kepada mereka dengan komentar miring “Hamil lagi?” bukan “Lagi hamil?” yang jelas-jelas punya makna berbeda. Mengingat betapa kau mengajari kami untuk terus berani menatap dan berjalan ke depan sesulit apapun medannya, karena memang semua akan indah pada waktunya, sesuai dengan janji Allah.

Mengingat momen 10 hari yang lalu, rasanya baru kemarin, nak. Ya, hari Kamis itu, 5 September 2013 semenjak subuh (malah semenjak sehari sebelumnya) mama sudah merasakan sinyal-sinyal kedatanganmu, seperti sudah mama ceritakan di sini, mama, ayah dan kakak-kakakmu sempat membawamu berjalan-jalan. Beranjak siang, mama mengirim SMS ke bu bidan, agar beliau mampir sebentar ke rumah untuk memeriksa mama. Ya, mama dan ayah memutuskan untuk gentle birthing di rumah saja, selama tidak ada keluhan dan proses bisa berjalan normal, mama ingin prosesnya berjalan santai di rumah, bisa sembari mengawasi kakak-kakakmu juga. Pembukaan 2, ujar bu bidan. Aah, masih harus menunggu agak lama ternyata…

Siang itu mama masih SMSan dengan beberapa teman dan sahabat. Siapa lagi kalau bukan Om Jo, tapi kali ini gak ada kalimat bercanda atau saling meledek seperti biasanya. Yang ada hanya untaian doa dan kalimat pembangkit semangat. Bunda Eky, sahabat dari dunia maya itupun tak lepas memantau keadaan mama melalui SMS, nak. Bahkan beliau sempat bikin status di facebook, memohonkan doa untuk mama dan keselamatanmu. Komentar yang bermunculan di status itu sungguh bikin mama terharu dan benar-benar speechless. Banyak doa untuk kita, nak… Jazakillah untuk bunda Eky… entah kapan, pengen banget ketemu beliau untuk bilang terimakasih secara live :D Oh ya, mama pun sempat posting tulisan ini, nak, di antara jeda kontraksi. Hebat yaah, mamamu ini *plak.

Mohon bantu doa buat sahabat saya mbak Puji Kurnia Hamzah yg sedang proses melahirkan,sdh kontraksi per 10 menit. Berharap skali ada di sana mendampingi, apa daya terpisah pulau. Allahumma yassir walaa tu'assir. Mudahkan Ya Allah.. — with Puji Kurnia Hamzah.
Top of Form
Unlike ·  · Share
You and 15 others like this.
Rahma Alkhadr Rahimah Aamiiin Ya Allah engkau maha melihat , maha mendengar ya sammi' ul Bashir ... laa hawlaa wa laa quwwata illa billah Aamiiin
Indri Indra Aamiin
Elona Melo Tomeala Arief kabar terakhir gimana ky? semoga lancar ya, sukses iMDnya..ASI-nya lancar, ibu dan bayi sehat tak kurang suatu apapun, amiin.
Eky Ummu Wildan Blm ada mak. Mgkn dah lair kali. Perkiraanku sih subuh. Aamiin doanya. Makasih mak
Vyta Ummina Thariiq-Syahida emg dimana mak?
Eky Ummu Wildan Di kalimantan mak Vyt. Td smpt sms dah tambah kenceng. Debay lg nyiapin utk kluar 
Eky Ummu Wildan Alhamdulillah sdh lahir td pas adzan isya', bayi laki2 putra keempat mb Puji. ASI lancar jaya. And no jahitan! Alhamdulillah. Trima kasih atas doa mentemen semua 
Puji Kurnia Hamzah alhamdulillah.. syukron atas doanya teman2 semua..*peluk mbak Eky trus salaman satu2 sama yg lain* 
Vyta Ummina Thariiq-Syahida SubhanAllah...barakAllahu mb puji. mantap,no jahitan

Jd inget ngelahirin 2 anak,dua kali dijahit. Utk yg ketiga nanti insyaAllah mau gentle sepenuhnya. Aamiin
Eky Ummu Wildan Dua org di atasku ini bener2 dah, busui yg eksis! Abis lairan dah bs ol. Mak Vyt jg tu kpn hr abis lairan dah bs jalan2 dumay,hihi... Keren yak emak2 skrg 
Mega Indah Tomeala Arief Barokalloh mba Puji Kurnia Hamzah, semoga menjadi anak yang sholeh, cerdas dan sehat yaaa.. :))
Elona Melo Tomeala Arief @eky: keren ya mamak2 sekarang. malah temenku Live Tweet saat mau melahirkan. Stop di bukaan 7-8 hihihih.

@mba puji: semoga jadi anak sholeh/ sholehah, jadi jundi yg taat pada Robbnya, mudah merawat dan mendidiknya hingga besar nanti. asi lancar jaya terus, aamiin Allohumaa amiin.

Bottom of Form
  *cuplikan status Bunda Eky beserta komentar teman-teman... jazakumullah khairan katsira, teman-teman...*


Baiklah, masih pembukaan 2, masih banyak waktu, pikir mama saat itu. sembari mengurusi kedua kakakmu, mama mengingatkan ayah untuk tidak pergi kemanapun kalau tidak penting banget. Oke, anak-anak sudah makan, ayah dan mama juga (ayah beliin nasi campur pake lauk ayam goreng siang itu, enaaak banget, ludes gak bersisa, hehe). Dapur bersih, anak-anak siap-siap bobo siang, nyalain mp3 murrotal, stand by di depan laptop deh si ayah. Mama rebahan di samping ayah sembari tetap pegang handphone untuk SMS dan update berita terbaru di internet (jiaaahhh). Kalau kontraksi datang, mama pegang tangan ayah sembari merapal shalawat.


Pukul 4 sore kakak-kakakmu bangun, nak. Kontraksi masih datang dan pergi, sakitnya pun bertambah secara signifikan (halah). Ayah tanya, perlu panggil bidan kah? Mama bilang, nanti saja. Karena bu bidan sempat berpesan, pembukaan akan semakin sempurna kalau kontraksinya berlangsung setidaknya 3 kali dalam waktu 10 menit. Nah, ini masih sekitar 5 menit sekali. Itupun hanya berlangsung sekitar 20-30 detik saja (wooo, 20 detik saja rasanya lama sekaliiih). Selama kontraksi, nak, mama berusaha menyugesti diri sendiri, ini gak sakit, ini gak sakit, ini gak akan bisa bikin mama menyerah, ini hanya sakit karena kejepit (entah kejepit apa, dan entah darimana datangnya kalimat aneh ini di kepala), dan mama gak akan biarkan rasa sakit ini menguasai pikiran mama. Jadi sembari menggenggam tangan ayah, mama baca shalawat sembari geleng-geleng kepala,  menolak dikuasai rasa sakit itu, dan itu berhasil, nak, mama bisa melaluinya tanpa teriak atau mengaduh.

Pukul 5 sore, mama minta ayah menyiapkan alas tempat tidur untuk mama bersalin nanti. Mama sempat mandi, BAB, bolak balik pipis, nyiapin perlengkapanmu di dekat kasur, pokoknya dalam keadaan siap siaga deh, nak. Mama pikir, kalau mama gak mandi, nanti kamu gak mau dekat mama deh untuk menyusu…:) Hanya selera makan yang sudah hilang sama sekali. Gak bisa makan apapun, ayah bikinin susu dan siapin cemilan di samping mama, setelah sebelumnya menyuapi mama 2 sendok makan sari kurma. Biar kuat ngeden, kata ayah.

Menjelang pukul 6 sore, sakitnya semakin bertambah, nak… berkali kali lipat rasanya. Mama yang tadinya sudah wangi dan bersih setelah mandi, mulai berkeringat dingin lagi. Di tengah jeda rasa sakit, sempat mengirim SMS ke bu bidan, agar beliau segera ke rumah kita selepas maghrib. Mama sudah gak kuat… ayah pun mulai terlihat panik.

“Ade takuut…” bisik mama pada ayah saat itu.

Saat ayah tanya, takut apa, mama hanya menjawab “takut gak bisa ngeden…”

Ah, nak, seandainya saja mama memiliki huruf dan kata yang dimiliki seluruh dunia, mama yakin tak akan ada yang bisa mewakili proses menghadirkanmu ke dunia saat itu.

Tak terwakilkan dengan kalimat apapun, karena nikmat sakitnya memang tak bisa tersalin kepada sesiapapun, pun orang terdekat… hanya genggaman tangan ayahmu dan desis dzikir yang berusaha mama lafalkan di tengah gelombang maha dahsyat itu.

Mama temukan di tengah proses itu, nak, kuasa Allah berikut rahasiaNya, yang rupanya hanya bisa diketahui saat berada di tengah pusaran gelombang itu. Ya, misteri mengapa setiap wanita ditakdirkan untuk mengandung dan melahirkan setiap jiwa di dunia ini. Misteri mengapa mereka begitu kuat dan secara ajaib menginginkan proses itu berulang kepada mereka lagi, padahal di beberapa saat sebelumnya gelombang itu hampir saja memutuskan selembar benang tipis bernama nyawa.

Mama katakan itu sakit yang ironis, nak. Mengapa? Kamu HARUS merasakan sakit itu untuk kemudian bisa lepas darinya. Kamu tidak bisa menghindar, setakut apapun kamu, karena memang tak ada sebutir obat atau suntikan apapun yang bisa menghalaunya, alih-alih mengurangi sakitnya. Tidak bisa nak. Kamu harus menghadapinya. Karena kamu sudah bersedia menghadapinya. Kamu HARUS melalui gelombang sakit berikut kenyataan bahwa betapa nyawamu hanya serupa benang tipis yang suatu saat bisa saja putus tetiba. Kamu HARUS melewati fase betapa urat syarafmu putus akibat kontraksi untuk bisa melepaskan diri dari cengkeraman maut secepatnya.

Namun kuasa Allah ADA di dalamnya, nak. Bahwa memang Dia tidak membiarkanmu merasakannya terus-menerus di rentang waktu panjang pembukaan jalan lahir itu, nak. Bahwa memang Dia mengizinkanmu beristirahat sejenak di jeda antara kontraksi itu. Bahwa memang Dia menyuruhmu untuk ingat padaNya dan berdzikir selagi rasa sakit itu mengendap sekejap. Bahwa memang Dia ADA di tengah gelombang sakit maupun di antara jeda itu, dan terasa sedang memelukmu saat itu.

Ya, peristiwa setelah maghrib itu berjalan cepat sekali, nak… saat bu bidan datang, sudah pembukaan 8 ternyata. Sudah dekat! Sebentar lagi kita bertemu! Ajaib, bu bidan meminta asistennya mempersiapkan baju dan semua perlengkapanmu. Popok, lampin, bedak, minyak telon,… padahal kau belum keluar.

“Sudah kelihatan kepalanya, pujiii… ayo, dorong yang kuat yaa…” perintah bu bidan. Mama kehilangan energi, nak… mama hanya bisa menggeleng lemah “gak bisa bu…gak kuat…” desis mama saat itu. dan genggaman tangan ayahmu semakin erat saat itu. “Ade bisa… abang tau ade bisa…” bisik ayah.

“Kalau belum kuat, gih miring ke kiri…” perintah bu bidan lagi. Konon dengan  memiringkan tubuh ke sebelah kiri, dorongan bayi akan semakin kuat dan sakitnya semakin menjadi. Benarlah, nak, gelombang itu seperti cengkeraman raksasa yang menyelubungi mama. SubhanAllah, kamu begitu kuat mendorong, nak! Masih belum kuat mengedan, mama minta ayahmu memegang perut mama dan merapalkan Al-fatihah.

Ajaib, nak, ajaib… MasyaAllah, gelombang itu semakin kuat, doronganmu semakin menjadi, dan dengan dua kali mengedan, kau membebaskan diri dari dalam sana. Kamu keluar, nak. Kita berhasil! Seketika sakitnya hilang, nak. Seketika itu juga… Maha Besar Allah… Maha Besar Allah…

Beberapa menit setelah lahir :)

Beberapa detik setelah kehadiranmu, nak, berkumandanglah adzan Isya di masjid dan mushola, lantang dan nyaring, seperti sudah diatur untuk mengadzanimu sekaligus mengumumkan kehadiranmu ke dunia! Allah Maha Besar… Allah Maha Besar…!

Demi menyaksikan tubuh bersihmu di gendongan bu bidan, ayah memeluk dan mencium mama, lalu dengan air mata berlinang ayah berbisik “subhanallah…subhanallaah…”

Malam itu kamu membawa sejuta kebahagiaan di dalam rumah ini, nak. Anggota tubuhmu lengkap, matamu bersinar terang, kulitmu putih bersih, hidungmu bangir, ah anak lanangku, Gaza, jadi anak shalih ya nak… seperti doa ayahmu yang dituliskannya ini…

Ya Allah, Ya Wahhab, jadikan anak kami sosok yang shalih, hafidz, alim, faqih, mujahid dan kelak Kau masukkan ke dalam golongan barisan syuhada.

Ya Allah, Ya Kariim, bekali dia dengan iman sekokoh karang, taat segegas elang, dan rahmat sederas hujan.

Ya Allah, Ya Wajiid, jadikan dia lebih berbangga menjadi berilmu dibanding berharta, berilmu bukan sekedar mencari tahu melainkan untuk memberikan jawaban atas berbagai tantangan kehidupan.

Ya Allah, Ya Khalik, jadikan dia, Muhammad Gaza Maulana, layaknya pohon yang baik, akarnya teguh, cabangnya ke langit dan memberikan buah yang baik di setiap musim.

Aamiin, ya mujibassailin…



Ya, kini, semestamu bukan lagi semesta rahim, nak, melainkan bersama kami, di tengah-tengah keluarga yang menantikan dan menyayangimu… Dan kita akan terus bercerita, sampai tak mampu lagi bercerita, untuk semesta…

13 comments:

  1. Selamat datang dan semoga menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.

    Saya mewakili keluarga Jember, mengucapkan selamat untuk kelahirannya. #Turut Bahagia...

    ReplyDelete
    Replies
    1. syukron jazilan doanya yaa, kakak Imam Sujaswanto :)
      jazakumullah khairan katsiran...:)

      Delete
  2. Barakallahu. Welcome dek Gazaa. Let's rock the world. Moga jd anak soleh. Selamat ya mommy puji :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiii Mommi Windi... salam sayang juga buat dek Tara yaa :*

      Delete
  3. Selamat ya Mba :) Dedeknya NgGemesin banget... Sehat selalu buat De Gaza :)

    Mampir2 juga ke Blog sy ya Mba hehe :) http://bloglombamenulis.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasiih mbak Retno, jazakillah :)
      segera ke tkp, hehe..

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Subhanallah....Tgl 5 Sept 2013 Gaza lahir, disaat yg sama kami mensyukuri ulang tahun pertama putra kami, Naufal :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. whaa... barakallah yaah kakak Naufal...:)) 5 September yang penuh berkah, aamiin...

      Delete
  6. waah, lahiran di rumah yah?

    Selamat mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah mak, alhamdulillah lancar :) syukron yah..

      Delete
  7. semoga, ya, Mbak. Semoga menjadi anak yg sholeh. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. jazakillah khairan katsira, mak :) allahumma aamiin..

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...