Wednesday, September 25, 2013

Dia hanya… tidak biasa

Kemarin, di sela ke-hectic-an mengurusi baby Gaza dan dua kakaknya, saya menyempatkan blogwalking sebentar melalui hp. Yaa tepatnya sembari menyusui (buat saya membaca artikel melalui hp itu beda dengan di laptop, kalo pake hp biasanya saya bisa lebih konsen baca, karena walaupun ada beberapa tab yang terbuka saya gak tergoda membuka tab lain yang sepertinya lebih menarik, jadi harus membaca satu postingan sampai kelar dulu baru deh buka yang lain, selain itu kan sayang juga biaya GPRS-nya kalo saya gak baca sampe tuntas, hehe)…

Beberapa di antaranya ada kisah-kisah mengharukan perihal peristiwa melahirkan dan kesibukan sebelum dan sesudahnya. Kalau saya bacanya sebelum Gaza lahir, kemungkinan saya bakalan ikutan mules dan kontraksi, karena mereka menceritakannya begitu detil dan benar-benar bikin terharu, merasakan betapa saya juga 20 hari yang lalu mengalami hal yang sama seperti yang mereka ceritakan itu. mulai dari pembukaan awal sampai akhir, kontraksi yang datang dan pergi, sakitnya yang semakin menjadi, sampai akhrnya si bayi berhasil keluar dan happy ending lah cerita itu.


Teringat dengan postingan saya sebelumnya di sini perihal peristiwa lahiran Gaza, ternyata saya melupakan satu hal. Ya, satu hal yang gak kalah penting dangan peristiwa lahiran itu sendiri. Yaitu siapa yang berada di samping saya saat itu mulai dari awal sampai akhir, sampai detik saya nulis ini yang kalau gak ada dia saya gak tau bisa atau enggak.

Di postingan teman-teman blogger, mereka cerita betapa ibu kandung atau ibu mertua mereka ikut hectic dengan peristiwa lahiran anak atau menantu mereka. mendampingi mulai dari awal sampai akhir, mengurusi mereka dan bayi mereka dari awal nifas sampai akhir, mengurusi perentilan-perentilan yang gak penting – terkadang menjijikkan —seperti pup, pipis dan mandi sesaat setelah melahirkan…

Ya, saya terharu membaca itu semua, karena saya gak bisa mengalami itu. ibu mertua saya jauh di Semarang. Ibu kandung saya pun sudah sepuh yang kalau hanya untuk berjalan saja sudah sangat susah untuk menghela diri sendiri. Gak, saya gak iri kok. Mmh, yah oke okee, sirik sedikit deh, gak apa-apa yaah. Karena di manapun di muka bumi ini, kalau ada seseorang yang paling mengerti betapa sakitnya melahirkan itu, betapa lelahnya badan ini setelahnya, betapa gak bisanya berdiri atau hanya untuk duduk dan menyusui, apalagi untuk mandi, pipis dan pup, atau betapa sulitnya mengurusi bayi sementara kita untuk berjalan saja masih susah karena kondisi yang belum fit setelah melahirkan, ya, dia adalah ibu.

Ya iyalah, apalagi ibu saya kan anaknya ada enam, ibu mertua saya anaknya empat, pasti tahu sekali rasanya. Namun apa boleh dikata, saya gak bisa mengalami yang (beberapa) teman-teman blogger saya alami… tapi saya pikir-pikir lagi (lebih kepada menghibur diri saja sih), kalaupun mereka berada dekat dan dalam kondisi sehat, apa ya saya tega meminta mereka mengurusi saya dan bayi saya? Betapa durhakanya saya dan suami saya kalau kami meminta mereka mengurusi kami, sementara mereka sudah lelah dengan kami berpuluh tahun yang lalu, eh sekarang malah meminta mereka mengurusi cucu pulak?

Jadi kalau ada beberapa teman yang berkeluh kesah mengenai dirinya yang gak bisa me time lagi selepas punya anak, gak bisa nulis lagi, bahkan untuk pegang laptop atau hp saja susah banget cari waktunya, gak bisa dandan rapi untuk suami seperti sebelum melahirkan, gak bisa jalan-jalan dan shoping prentilan gak penting namun menyenangkan, gak bisa tidur nyenyak karena harus sebentar-sebentar bangun untuk ganti popok dan menyusui, gak sempat baca buku atau nonton film favorit, dll dsb, saya sangat memahami… punya anak satu saja itu sudah sangat melelahkan, apalagi lebih dari itu, apalagi kalau gak punya asisten rumah tangga, apalagi kalau harus kerja juga, huibaatt kalau saya bilang mah, mereka itu!

Teringat salah satu kisah sahabat Nabi, Umar bin Khatab, yang pernah dishare salah satu teman saya di facebook, link sumbernya ada di sini:


 Alkisah suatu hari seorang seorang sahabat mendatangi bertengkar dengan Istrinya, dia merasa gundah akan keadaan dirinya, dan berniat mendatangi Khalifah Umar Bin Khatab untuk mengadukan permasalahannya, dengan gontai dia berjalan menuju rumah khalifah Umar, setiba di rumah Khalifah Umar langkahnya terhenti, di depan pintu dia mendengar Khalifah umar sedang di “omeli” habis-habisan oleh seorang wanita, yang kemudian dia kenali adalah Istri Khalifah Umar, dan karena pintu rumah Khalifah sedikit terbuka, dia melihat Khalifah sangat menyedihkan, tak melawan hanya diam saja, seketika itu niatnya untuk mengadu pada Khalifah Umar terhenti. Dan saat dia berbalik arah hendak pulang, sebuah panggilan dari dalam rumah menghentikan langkahnya.

“Wahai, Fulan bin Fulan, ada apa gerangan dirimu” Kata Khalifah.

“Tidak Khalifah, saya lihat anda sedang sibuk, lebih baik saya tunda saja kunjungan saya” kata si Fulan
Seketika Khalifah berdiri membuka pintu, dan menarik tangan orang tersebut masuk, kata Khalifah
“Aku sudah berjanji menjadi Khalifah dan siap menerima pengaduan dari rakyatku kapanpun, ayo masuklah” kata sang Khalifah ramah.
Dengan canggung laki-laki itu memasuki bertipe RTSS (Rumah Teramat Sangat Sederhana) milik khalifah Umar Bin Khatab. Kemudian duduklah dia di depan Khalifah Umar, setelah menikmati hidangan sekedarnya, Khalifah Umar mulai bertanya kepadaNya…
“Ada apa gerangan yang membuatmu kemari wahai Fulan, katakan padaku, permasalahan apa yang engkau hadapi” kata Khalifah Umar
Seketika itu wajah si Fulan berubah merah, dia malu, atas masalah yang hendak dia adukan.
Khalifah yang melihat gelagat ini terdiam dan menunggu dengan sabar, kemudian menepuk-nepuk bahu si fulan, setelah itu, menanyakan kembali pertanyaan yang sama.
Hingga tiga kali barulah si Fulan menjawab dengan canggung.
“Khalifah Umar masalahku tak sebesar apa yang kau hadapi, aku melihatmu tadi di omeli Istrimu sedemikian rupa dan engkau hanya diam saja, tak marah, ataupun menegurmya, bagaimana engkau mampu berbuat demikian? “
Khalifah tersenyum sejenak kemudian, dia melihat ke arah si Fulan,mengajaknya berputar melihat sekeliling rumahnya, kemudian mengajak si Fulan duduk kembali.
Kata Khalifah kemudian, “Kamu lihat rumahku teramat sangat sederhana, jangankan pembantu, untuk kebutuhan sehari-hari saja kadang aku tak mampu memberikannya pada Istriku, dan aku sama sekali tidak bisa membantu meringankan pekerjaannya karena kesibukanku sebagai Khalifah.


Tahukah kamu seberapa berat beban yang harus dia tanggung, setelah dia membersihkan seisi rumah sendiri, memasak untuk diriku, merawat danmendidik anak-anakku.


Semua dia lakukan sendiri karena saya tidak bisa membayar pembantu untuk meringankan bebannya, padahal semua itu adalah tugas saya. Memuliakan seorang istri di dalam rumahnya adalah tugas suami. Tapi saya terlalu miskin menggaji pembantu sehingga dia harus mengerjakan semua sendiri. Untuk itu hanya sekedar di omeli saja kenapa saya harus marah, demi melihat pengorbanannya kepada keluarga.

Hiks… airmata saya mengalir waktu membaca postingan di atas. Teringat suami saya, yang ketika saya kontraksi berat dia selalu ada di samping saya, yang ketika dia pamit untuk shalat di mushola saja saya bilangin “jangan lama-lama…” dengan nada berkeluh kesah, yang ketika saya berjuang mengeluarkan Gaza saya remas jemarinya yang hanya dia yang tahu sakitnya seperti apa remasan saya itu, yang ketika Gaza sudah lahir dia pula yang mengurusi saya mulai dari pipis, mandi, mencuci pakaian saya dan anak-anak, yang ketika saya hanya haus saja saya panggil untuk mengambilkan minum, yang saya pengen makan ini, pengen makan itu, sementara saya hanya bisa tergolek di tempat tidur, atau yang pas saya resah gundah belum melahirkan pun sempat-sempatnya membelikan saya setumpuk buku, atau pas saya kelaperan tengah malam juga rela keluar beliin saya pecel lele, atau yang selalu menghabiskan masakan saya padahal kadang rasanya gak karuan...

Tidak, saya tidak ingin bilang suami saya seperti sosok Umar bin Khatab yang mendekati kesempurnaan seorang suami. Tidak pula saya ingin memujinya berlebihan. Namun seperti yang pernah saya bilang, suami saya, bukan orang luar biasa, bukan pula orang biasa.

Dia hanya… tidak biasa.


Dan saya hanya ingin bilang padanya, hari ini, saya merasa saya seberuntung istri Khalifah Umar….:)

Buktinya, saya masih bisa menulis ini, kan? :D






4 comments:

  1. Replies
    1. aaaiisshh tante Julia komen euy... nulis yuk nuliis... makasih yaa :)

      Delete
  2. Beruntung budhe yg satu ini bisa menjadi orang yg pandai bersyukur... Barakallah dengan keluarga bahagianya ya... ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin... semoga tetap istiqomah yah Om... doa yang sama untuk keluarga Aisya juga, aamiin..^_^

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...