Wednesday, October 30, 2013

Namanya Alma Aini Hakim

Namanya Alma. Usianya 7 tahun. Ya, masih anak-anak.

Pagi ini, selepas shalat subuh, sembari menyusui Gaza saya membaca berita tentang hilangnya anak ini dari share salah seorang teman saya di facebook. Alma menghilang Sabtu tempo hari di areal monas Jakarta, di suatu sore yang ramai. Bersama tantenya, kemungkinan dia ingin bersenang senang. Saya gak tau pasti ada apa di areal monas di sore hari. Saya pernah berada di sana beberapa tahun yang lalu. Dan terakhir saya melihat julang monas ketika saya dan suami serta anak-anak menginjakkan kaki di Gambir setelah perjalanan panjang dari Semarang.


Yesterday

Anak saya, Alma Aini Hakim, hilang sejak sabtu sore kemarin (25 Oktober 2013) saat sedang diajak jalan2 oleh tantenya di Monas. Ia hilang dalam keramaian orang dan sampai saat ini masih belum ditemukan. Saat itu ia mengenakan kaos kuning bergaris dan celana legging berwarna ungu. Seluruh satpol PP yang ada di Monas sudah dikerahkan untuk mencari Alma saat diketahui hilang waktu itu tapi hasilnya tetap nihil. Berita kehilangannya sudah dilaporkan ke Polsek Gambir dan sudah diberitakan juga di radio-radio. Bila ada diantara anda ada yang melihat anak saya ini, tolong segera menghubungi saya di nomor 021-99802696.

Dan hari ini, 29 Oktober 2013 adalah bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang kedelapan tahun. Saya, Roy Julian, ayah yang sedang berduka karena kehilangan anaknya ini, memohon kepada anda, sekali lagi saya katakan, saya memohon kepada anda semua untuk mendo'akan Alma, semoga ia berhasil kami temukan dalam keadaan sehat wal'afiat tanpa kurang suatu apapun. Terimakasih.

Alma

Seketika ingatan saya terlempar ke peristiwa beberapa tahun silam, waktu kakak Reza pernah ‘hilang’ dari jangkauan penglihatan saya di tempat yang benar-benar ramai orang. Ya, kakak Reza saat itu berumur sekitar 2 tahun. Saya bersama kakak dan ibu saya sedang ingin makan siang di sebuah mall besar di Jakarta. Nama mall itu, mall Taman Anggrek. Siang itu food court Taman Anggrek sangat penuh pengunjung. Sepertinya penghuni apartemen sekitar situ tumplek di tempat itu untuk makan siang.

Reza kecil gak mau digandeng neneknya, ibu saya. Sedangkan saya sibuk membawa baki berisi makanan siap santap, sembari mencari-cari meja kosong untuk kami. Saya mewanti-wanti Reza untuk mengikuti saya, karena saya gak bisa gandeng tangannya.

Sesampainya di sebuah meja kosong, di pojok food court, saya meletakkan baki berisi makanan tadi dengan lega, lalu berbalik untuk menggendong Reza duduk di kursi. Loh, Reza tak tampak di samping mama saya atau di manapun. Saya mengedarkan pandangan ke segala arah, tidak terlihat juga anak saya itu. ya, di tengah lautan orang, anak sekecil Reza kan gak mungkin terlihat.

Saya mulai panik. Saya tanya ke mama dan kakak saya, kakak dan mama malah bingung “tadi ada di samping mama kok…” kata mama ikut panik. Ya, siapa yang gak panik coba??

Saya dan kakak pun bergegas berlari ke tempat saya tadi membeli makanan, namun Reza masih tak tampak. Setiap ada anak kecil seumuran Reza, saya pegang dan saya balikkan badannya. Tentu saja yang saya lakukan itu bodoh sekali, karena saya hafal betul pakaina yang Reza pakai saat itu. entah mengapa saya melakukan hal itu. panik dan stress melanda saya.

Setelah beberapa saat, dengan peluh membanjir di sekujur tubuh saya, saya mendengar sebuah percakapan : “Mana orang tuanya, Pak?” dan ketika saya mengikuti asal suara, terlihatlah anak saya, Reza, dalam gendongan seorang security. Subhanallah, saya segera menyongsongnya dan bilang ke security, bahwa itu adalah anak saya! Seketika itu juga saya gendong dan peluk Reza kecil…

Ya, saya beruntung saat itu. Allah masih sayang sama saya…

Kembali ke cerita Alma.  Kemungkinan besar, teman saya yang ngeshare berita itu sama sekali tidak mengenal keluarga Alma. Namun di dunia maya apalagi media social semacam facebook, berita semacam itu lekas sekali meluas. saya melihat betapa foto Alma yang disebar oleh sang ayah, sudah berulang kali dishare oleh banyak temannya. Dan seperti jaring laba-laba, sharing berita tadi dishare ulang lagi oleh banyak teman mereka. seketika berita Alma hilang menyebar luas.

Saya sempat berpikir, kan sudah banyak yang ngeshare berita itu. lalu untuk apa saya ikut ngeshare, secara saya gak berteman apalagi kenal dengan ayahnya Alma.

Sesaat kemudian saya seperti tersadar. MasyaAllah, untuk berbuat kebaikan semudah menyentuh layar ponsel saja saya masih berpikir, apalagi kalau pakai usaha berat? Tanpa buang waktu, berita itu pun saya share ulang.

Maafkan saya, Alma, mungkin usaha ini tidak tampak berarti untuk menemukan keberadaanmu. Namun saya yakin, mereka yang membaca berita ini, pasti membisikkan sebait doa untukmu, di manapun kamu berada.

Maafkan saya, ayah dan ibu Alma, hanya itu yang bisa saya lakukan sehubungan dengan hilangnya Alma. Beserta tulisan ini yang saya buat setelah menunggu anak bayi saya tidur lelap. Maafkan saya, karena hanya bait doa selepas shalat yang bisa saya panjatkan.

Saya pun seorang ibu. Saya nyaris pernah kehilangan anak saya. Perasaan yang tidak bisa terlukis dengan kalimat apapun. Namun yakinlah, ibu dan ayah Alma, doa orang tua untuk anaknya, adalah satu dari banyak sekali doa yang Allah selalu ijabbah. Dan Allah, adalah sebaik-baik penjaga. Bersabarlah, karena Allah bersama orang-orang sabar. Jangan pernah menyerah menemukan Alma.

Saya dan segenap teman-teman yang ikut menyebarkan berita kehilangan ini akan terus mengikuti berita dari ayah dan ibu Alma. Dan berdoa, kabar baik akan segera datang. Allahumma aamiin…


Al faatihah untukmu, Alma Aini Hakim

Jangan pernah menunda untuk melakukan kebaikan, sekecil apapun itu :)

Sunday, October 27, 2013

sepenggal narasi sebagai pengingat


credit

Teman, apa sarapanmu hari ini? Setangkup roti bersemir mentega dan selai kacang seperti kesukaanku, kah, atau semangkuk mie goreng dengan ceplokan telur setengah matang dengan irisan bawang goreng di atasnya?
Pernahkah kau bayangkan sarapan saudara kita di Gaza Palestina? Seperti apa gerangan pagi mereka? Seperti apa gerangan pagi mereka setelah menari di dalam mimpi buruk ketakutan dan kehilangan yang ternyata bukan sekedar mimpi? Seperti apa gerangan sarapan mereka ; segenggam granat di tangan kah, atau sepucuk laras senjata siaga, atau kitab suci Al Quran yang biasa mereka baca di tengah kepasrahan, berlatar belakang tembok penuh lubang bekas tembakan?

Maka bersyukurlah atas apa yang ada di atas meja makanmu, atau di dalam tas kecil merah sederhanamu, atau di dalam kantong plastikmu saat ini.

Thursday, October 24, 2013

Nostalgi(L)a Bersama Cinnamon Cake a.k.a Butter Cake

Wokeeey, hari ini pengen ngeshare resep butter cake. Jadi ceritanya mupeng banget ngeliat foto cinnamon cake-nya Dee Lestari di instagram. Sepertinya soft dan enak banget. Jadi inget jaman SD dulu, kalau mama saya pergi ke yasinan atau arisan gitu, saya selalu pesen minta bawain “kue bolu”. Nah, ternyata “kue bolu” yang saya maksud jaman dulu itu ya cinnamon cake a.k.a butter cake ini. Aah, jadi nostalgila nih saya. Biasanya dulu kue ini dipotong dadu gitu, trus dikasih hiasan butter cream atasnya, lalu dikasih cerry merah, lalu diletakin di papercup. Wuiih, saya suka banget kalo mama bawa kue ini. Secara mama saya gak pernah bikin beginian dulu... hihihi...


Wednesday, October 23, 2013

Cerita Tentang Cake Mangga

Bismillah…

Ah, blogging lagi, semoga tulisan ini bisa selesai deeh *ngelirik Gaza yang lagi bobok nyenyak*. Dari kemarin-kemarin kangen pengen nulis, tapi apalah daya, saya hanya emak-emak biasa yang mencoba untuk membagi sama rata waktunya untuk keluarga, urusan perentilan rumah tangga yang gak abis-abisnya, dan sepertinya hanya bersisa sedikiiiit saja untuk diri sendiri *mulay deh curcolnya*

Blogwalking sebentar-sebentar sembari nyusuin Gaza, bikin saya gateel pengen nulis. Apalagi semakin ke sini saya semakin tertarik dengan dunia fotografi, yang walaupun masih amatiiiiiir banget banget, saya pengen belajar gitu dengan gadget yang saya punya, dan saya sekarang sedang takjub-takjubnya dengan food photography di grup foodblogger. Aiiih keren-keren euy fotonya.

Tuesday, October 01, 2013

aku masih bisa mendengar

Adalah tentang aku,

Mungkin memang benar aku gagap, mungkin memang benar aku terbata.
Kesulitan mengeja kata, kalimat, merangkai menjadikannya semudah menyampaikan, namun ternyata sulit.  Ya, ternyata sulit.

Kalau kau ingin tahu, begitu sulit untuk membuat isi kepala, isi hati dan isi kalimat yang kumuntahkan itu sinkron. Memikirkan angka satu, membatin angka dua, sejenak kemudian mengeluarkan muncratan angka tiga, empat, lima dan ratusan angka lainnya, kecuali angka satu dan dua. Tidak seperti orang-orang normal kebanyakan, aku kerap harus berjibaku dulu sebelum berkata-kata.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...