Thursday, November 07, 2013

Journey Part #2 - Latepost - Kangen Semarang


Bismillah…
Jadi ceritanya lagi kangen Semarang. Eciyee, modus kah biar pak ayah baca? :D 





Teringat postingan saya tentang mudik yang belum semuanya saya ceritain di sini, akhirnya saya tulis ini, sekaligus mengejawantahkan kerinduan yang sangat ini #eeaa eeaa eeaaaaa.



Kangen ibuk. Masakan ibuk sih tepatnya, hahaha. Di Semarang, saya gak pernah beberapa jam saja (kecuali saat tidur) kelaparan. Ibuk selalu menyediakan makanan buat mantu kesayangannya ini. Eh ciyus… setiap pagi kalau ibuk mau belanja, atau malam sebelumnya (mungkin karena ibuk hafal kebiasaan mantunya ini yang bangunnya siang, hehe) ibuk selalu nanya “Ntar mau dimasakin apa, mbak?” dan daya imajinasi saya berterbangan liar ke segala macam kuliner khas Semarang yang kalo di Kalimantan saya gak pernah nemu atau bikin. Untung ya saya lagi hamil, jadi kalo makan banyak dan minta bikinin ini itu dikabulin. Modus kayaknya nama tengah saya deh, hahaha. Dasar mantu gak tau diri. Plak plak! 


Pecel ini rasanyaaa... pedes banget :D


Paling jos gandos tuh waktu ibuk masak ikan mangut asap khas Semarang. Saya gak bisa jaim kalo ibuk masak yang ini. Saya gak sanggup. Saya… saya… saya sukkaaaa banget. Huwaaa… puedesnya ampun, tapi entah kenapa yah, nasi di piring saya selalu abis gak bersisa kalau ibuk masak ini. Hahaha…

Ikan mangut asap ini punya kembaran di Kalimantan Selatan. Pernah dengar ketupat Kandangan gak? Rasanya nyaris sama, karena bumbu-bumbunya juga 80 persen sama. Bedanya terletak di ikan yang dipakai. Kalau untuk ketupat Kandangan, biasanya pakai ikan haruan atau tauman segar yang dipanggang terlebih dulu, lalu dicemplungin ke kuah. Nah kalau ikan mangut ya pakenya ikan asap atau ikan pe. Jelas beda. Satu lagi perbedaan yang bikin saya ampun-ampun gak sanggup menolak adalah penggunaan cabe yang buanyaaak sekali di kuah santannya.

Di Kalimantan Selatan ini gak ada ikan asap. Jadi ya saya harus nunggu mudik dulu baru bisa makan masakan ini. Hiks…



Mural yang bertebaran di tembok-tembok pinggir jalan


Gereja Blenduk Kota Lama Semarang


Saya juga kangen jejalanan sama anak-anak dan pak ayah. Kangen bangunan-bangunan tua yang asli peninggalan jaman dulu yang masih berdiri tegak. Menurut saya bangunan peniggalan zaman dulu itu punya sejuta kisah yang mengundang tanya dan penasaran. Secara jaman sekolah dulu saya paling gak suka pelajaran sejarah. Halah, malah sekarang tertarik sama sejarah. Etapi coba aja saya disodorin buku sejarah lagi, baru baca beberapa halaman udah ngantuk kali yah, hehe.




Sejarah memang paling asyik dipelajari langsung di tempat. Seperti sejarah bangunan Lawang Sewu yang sejak dulu mengundang rasa penasaran setiap kali melewatinya, saya dan pak ayah memutuskan untuk mampir sejenak di salah satu situs peninggalan Belanda zaman dulu. Satu hal yang bikin saya misuh-misuh adalah, percaya atau tidak, pak ayah yang asli Semarang malah belum pernah menginjakkan kaki di sini! Huh, memalukan syekali. Kan jadi gak bisa nge-guide saya.

Kalau kata Mas Wiki, Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebutWilhelminaplein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).



Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
Lorong dan pintu-pintunya yang mengundang rasa penasaran

Kebetulan saat kami di sana ada even Expo Semarang 2013. Waktu itu saya lagi hamil Gaza. Dengan membawa perut buncit dan dua gadis balita, saya menguatkan diri untuk menyeret pak ayah untuk menyusuri bangunan tua ini. Ah, apa mungkin karena waktu itu ada even yang bikin orang-orang tumpah ruah di seluruh area bangunan ya, jadi aura sejarah (dan mistis)nya gak terlalu terasa. Iya, ada pertunjukan live music dan pameran gitu juga.


Live Music dan pameran di Lawang Sewu

Tapi tak mengapa deh, yang penting rasa penasaran itu sudah berhasil saya bunuh *halah. Nantikan kami datang lagi ya Lawang Sewu, hehe…

Kangen berwisata kuliner. Kangen menelusuri jalan-jalan semarang yang gak seperti kota-kota besar lain yang padat penduduk dan jalan rayanya macet di mana-mana. Semarang kota yang santai, gak hiruk pikuk seperti kota lain. Dan saya suka ini, secara saya paling gak betah berjibaku dengan kemacetan. Hehe…




Lokasi wisata Sidomukti Ungaran Semarang

Tetapi saya sadar sesadar-sadarnya, gak bisa sesegera mungkin menuruti kata hati. Sekangen-kangennya hati ini, tetap gak bisa sakpenak udhel ayah kan, melesat ke sana. Gaza masih kecil sekali. Traveling itu memang paling enak kalau anak-anak minimal sudah bisa jalan. Yah secapek-capeknya mereka kalau jalan kan masih bisa bilang kalau lapar, haus atau mau pipis. Semoga dimudahkan saja deh.

Tempo hari pak ayah beliin saya gethuk goreng, jajanan khas Semarang yang ternyata di sini ada yang jual! Yeaayy!!


Tapi biasa kaan, saya gitu loh, cemilan segitu mah lewat tenggorokan abis tuh udah deh, gak berasa kenyang. Buat saya, cemilan adalah booster paling manjur untuk bikin ASI melimpah. Gak ada cemilan, sama dengan hampa. Hahaha. Tapi karena gak gape bikin getuk, akhirnya tadi pagi saya njajal bikin wingko babat, jajanan khas Semarang yang kalau kita ke sana gak pernah gek beli langsung di produsennya. Saya lupa tepatnya alamat produsen yang memang masih home industry ini. Yang saya ingat adalah kalau kita berada di radius 50 meter saja sudah tercium wangi wingko yang baru matang, merebak memenuhi udara di sekitar perumahan itu.



Sedikit browsing-browsing, akhirnya nemu juga resep wingko keju yang sepertinya mantaps. Gimana gak mantap, secara saya pecinta keju. Keju hampir gak pernah absen mengisi kulkas. Buat saya, cemilan apapun (dalam bentuk kue basah seperti wingko, brownis, atau cake) kalau dikasih parutan keju itu rasanya endyang bambang gimana gitu, hihi. Saya nemu resep ini di grup NCC, salah satu member memposting resep wingko ini sekitar satu bulan yang lalu.  Matur nuwun yaa buat empunya resep... Saya lupa namanya soale. Resep ini sempat saya simpan di notepad hape, akhirnya jadilah hari ini eksekusi. 


Sepertinya loyang yang saya pakai ini agak terlalu kecil, hasilnya wingkonya agak tebal. Tapi gak apa-apa, karena dari segi rasa, ini wingko dapet banget. Pas di lidah. Manisnya pas, cenderung gurih karena ada kejunya. Seharusnya dipanggang ulang di teflon ya, biar ada sensasi gosongnya sedikit. Tapi sekali lagi, untuk first trial, wingko ini endes bembess… hehe.




Oiya, sedikit tips asal dari saya, kalau ngemil wingko ini sebaiknya sediain minuman yang gak terlalu manis ya, karena tone rasanya memang cenderung agak manis dan gurih, dan kandungan kelapa parutnya yang padat, bikin seret tenggorokan. Kalo saya sih cukup pake teh es yang gak terlalu manis atau air dingin biasa.

Nah, jadi, kapan kita ke Semarang lagi, ayaaaah?

4 comments:

  1. Buset dah, bikin ngiler ini sore sore. Bagi-bagi dong Mbk... Hehe.. #BusungLapar

    ReplyDelete
  2. aaaaaaaaaaaaaaa..... kangen tahu gimbal simpang lima... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe ayuk mak kita wiskul di Semarang, tahun depan tapi, ahaha...

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...