Wednesday, November 20, 2013

Masuk Neraka Siapa Takut # Jangan Tunda Lagi..

Saya tanya murid.

"Kalo ada cewek cantik, sholihah, pintar, kaya, baik hati, muda, dan berprestasi, kamu mau ga sama dia?"

"Mau, pak!" Jawabnya.

"Tapi cuma ada kepalanya doang. Tetap mau?"

"Ya nggak lah Pak! Hantu kali..."

"Begitulah keindahan Islam jika dipahami sebagian-sebagian. Ia malah menakutkan." Tutup saya.

Dia mengangguk-angguk

***

Saya tanya murid lain.

"Kalau ada cewek cantik, sholehah, pintar, kaya, dan baik hati. Kamu mau? Tenang, badannya lengkap kok."

"Mau Pak!"

"Tapi kumisan. Kamu tetap mau?"

"Ya nggak lah Pak!"

"Begitulah, jika Islam yang sempurna ini ditambah2 dengan sesuatu yang tidak semestinya, kecantikannya hilang. Jadinya malah menyeramkan

Abay Abu Hamzah
***



Setelah kemarin seharian hujan deras, alhamdulillah pagi ini cerah banget. Mumpung dong yaa, pagi ini saya belanja ke pasar euy, sama Jingga pula. Gaza ditinggal? Ya enggak dong, sama ayahnya. Itu juga ketika saya tinggal doski dalam keadaan bobok. So, waktunya belanja. Yah, tahulah, bagi wanita belanja itu seperti piknik batin. Me time. Ngelepas stress. Walaupun yang dibeli gak bisa lepas dari urusan dapur dan perut, hahaha…


Pasar di kota kecil saya itu gak jauh banget sih dari rumah, yaa sekitaran 10 menit kalau pake motor, 1 jam kalau pake sepeda onthel, 3 jam kalo jalan kaki, 3 hari 3 malam kalau ngesot <---- jangan percaya analisa ngaco ini yah. Saya memilih yang pertama. Hehe… Adrenalin banget kalau ke pasar bawa motor sendiri. Biasanya diantar pak ayah. Udah beberapa bulan terakhir saya gak bawa motor sendiri, secara mulai usia kehamilan 7 bulan sampe masa nifas berakhir, urusan ke pasar saya serahin ke pak ayah.

Nah, di pasar tadi, ada kejadian gak biasa. Begitu saya dan Jingga markirin motor, turun dan berjalan ke arah tukang ikan, beberapa pasang mata mengikuti langkah kami. Yaa biasalah, emak sensi seperti saya kalau dipandangin begitu langsung gimanaa gitu. Oh iya, mereka terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang sedang duduk-duduk santai sembari ngopi-ngopi sambil maem gorengan gitu.

Ilustrasi ngeliatinnya mereka itu tuh kayak gini nih ; mereka lagi asyik ngobrol gitu kan, trus begitu saya melintas, mereka langsung berhenti ngobrol dan memandangi saya seperti dari kepala saya ini tumbuh tanduk atau dari belakang saya tumbuh ekor gitu.

Saya langsung ngeliatin pakaian saya dan Jingga, gak kok, gak ada yang salah. Abis itu saya perhatikan lagi mereka satu-satu. Ya, ibu-ibu itu memang ‘agak beda’ dari saya. Err… maksudnya dari segi pakaian. Kalo wajah ya jelas beda, Cyiin. Hehe… Ibu-ibunya, sebagian berhijab, sebagian enggak. Yang berhijab, hijabnya gaul gitu, kalo kata pak ayah, hijab menerawang dan kurang bahan, hehehe… Cepat-cepat saya gamit Jingga dan berlalu dari kerumunan orang-orang yang lagi duduk-duduk di warteg tersebut.

Ini memang kejadian yang sudah seriing sekali saya temui di berbagai tempat dan peristiwa. Orang-orang yang saya temui, seperti heran dengan apa yang saya pakai. Mereka memandangi saya dari atas sampai bawah, balik ke atas lagi. Kalau saja pandangan mata mereka seperti pisau, udah sobek-sobek aja kali yah sayanya *tsaah.

Barangkali teman-teman penasaran, seperti apa sih penampilan saya tadi pagi? Iyap, saya pake hijab, jilbab, dan khimar. Itu saja. Tapi tampak begitu aneh di mata mereka. Hiks…

Begini lah saya sehari-hari... termasuk saat pergi ke pasar
tadi pagi 

Saya nyaman-nyaman aja sih kalo pakai pakaian tertutup begini...
Lebih aman dan jelas gak bakalan takut item karena kepanasan hahaha...

Hijab, jilbab, kerudung dan khimar. Apa bedanya? Sering kali kita (termasuk saya) salah dalam penyebutan keempat benda tersebut. Sekarang duduk yang rapi, bu guru jelasin satu-satu *benerin kacamata*.

Hijab – Setiap Jilbab adalah Hijab, tetapi tidak semua hijab itu jilbab, sebagaimana yg tampak. Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu. Hijab menurut Al Quran artinya penutup secara umum, bisa brupa tirai pembatas, kelambu, papan pembatas, dan pembatas atau aling-aling lainnya. Memang terkadang kata hijab dimakudkan untuk makna jilbab.

Adapun makna lain dari hijab adalah sesuatu yg mnutupi atau menghalangi dirinya. Hijab biasa juga digunakan sebagai pembatas interaksi saat sedang syuro. Pernah lihat ada yg rapat dgn menggunakan Hijab?

-      dalam hal berpakaian syar’i, saya menterjemahkan hijab sebagai pakaian rumah yang sebaiknya kita pakai sebelum memakai jilbab atau gamis yah bahasa gampangnya. Pakaian rumah ini bisa saja berupa daster atau baby doll yang biasa dipakai di rumah.

Jilbab – Jilbab ialah pakaian yang longgar dan dijulurkan ke seluruh tubuh hingga mendekati tanah sehingga tidak membentuk lekuk tubuh. Hal ini tertuang dlm perintah Allah dalam AlQuran surat Al-Ahzab ayat 59 "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka...". Secara terminologi, dalam kamus yang dianggap standar dalam Bahasa Arab, Jilbab berarti selendang, atau pakaian lebar yang dipakai wanita untuk menutupi kepada, dada dan bagian belakang tubuhnya.

Dapat kita ambil kesimpulan bahwa jilbab pada umumnya adalah pakaian yang lebar, longgar dan menutupi seluruh bagian tubuh. Sebagaimana disimpulkan oleh Al Qurthuby: "Jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh." Kecuali Wajah dan telapak tangan. Adapun #jilbab dalam surat Al-Ahzab (33) : 59, sebenarnya adalah baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.

Nah, jilbab inilah yang sering kita sebut gamis atau pakaian longgar dan lebar.

Khimar – Khimar menutupi kepala, leher dan menjulur hingga menutupi dada wanita dari belakang maupun dari depan (termasuk menutupi tulang selangka). Khimar ini tidak Khimar merupakan pakaian atas atau penutup kepala. Desain pakaian ini yaitu menutupi kepala, leher dan menjulur hingga menutupi dada wanita dari belakang maupun dari depan (termasuk menutupi tulang selangka).

Khimar ini tidak diikatkan ke leher seperti kerudung, karena jika hal tersebut dilakukan, maka akan memperjelas bentuk lekuk dada dari wanita. Jadi khimar harus menjulur lurus kebawah dari kepala ke seluruh dada tertutupi. Khimar seringkali disebut kerudung, tapi sebenarnya berbeda. Perintah Khimar terdapat dalam QS An-Nur ayat 31. Khimar adalah apa yang dapat menutupi kepala, leher dan dada tanpa menutupi muka.

Ini nih yang sering kita sebut jilbab atau kerudung, padahal sebutan yang benar adalah khimar. Khimar yang benar menurut syari’at Islam adalah yang menjulur dari kepala sampai dada. kalau saya, lebih nyaman pakai khimar instant yang lebar dan bahannya gak terlalu tipis, secara saya masih menyusui Gaza, jadi kalau Gaza minta nenen di mana saja dan kapanpun, saya langsung bisa kasih ASI tanpa repot nyari tempat menyusui. Tinggal masukin Gaza ke dalam khimar, sodorin nen, beres deh.

Kerudung – Kerudung hampir mirip dengan Khimar , namun kerudung tidak dianjurkan dalam Islam, karena desain kerudung cuma sebagai penutup kepala saja. Kerudung yang hanya sebagai penutup kepala, tidak sepanjang khimar yang mampu menutupi dada wanita sekaligus. Kerudung hanya menutup kepala atau leher saja, akan tetapi bentuk lekuk tubuh pada bagian leher dan dada masih terlihat.

Nah kalau ini, sependek pengetahuan saya ya kerudung itu seperti lapisan dalam khimar, yang bentuknya hanya sampai leher saja. Saya jarang sekali pakai ini, kalopun pakai pun gak terlihat karena tertutup khimar.


Sekian penjelasan bu guru. Sudah jelas belum? Tanya-o. hehe…

Sepulangnya saya dari pasar, saya ngadu ke pak ayah. “Yah, apa mama seaneh itu ya, kok mereka ngeliatinnya begitu banget sih?”

Pak ayah nyahut “Begitu aja apa begitu banget?” *gemes gak tuh ? -.-“ *

“Mama nih su’udzon aja sama orang. Siapa tau mereka ngeliatin Jingga, bukan mama…” *gemes kuadrat*

“Atau ibu-ibu itu pengen berpenampilan seperti mama tapi gak pede…” *ketjup ayah*

Lho lha kenapa bisa gak pede yah? Padahal kan itu tuh ya identitasnya kita sebagai Muslim tho? Kadang saya heran, sodara-sodiri kita sesama muslim sebegitu heran dan asingnya melihat sodara-sodiri-nya berpakaian syar’i. Contoh nih, sering pak ayah pake baju gamis untuk shalat, atau pake celana cingkrang yang memperlihatkan mata kaki, dan pakai peci, lengkap dengan jenggot. Ealah, dikata dandan kek teroris *sambit yang bilang pakek talenan*. Malu kah dengan identitas kita sebagai Muslim? Gak pede kah dengan apa yang Allah perintahkan?

Jadi inget dengan salah satu judul buku kami di rumah : “I’m Muslim, Don’t Panic!” hahaha…

Padahal sih saya gak perlu heran segitunya, dulu sebelum saya berpakaian syar’i seperti sekarang, saya ya hampir terjebak dalam pemikiran seperti kebanyakan mereka. Nanti lah kalau sudah siap, saya pasti pake pakaian syar’i kok. Nanti deh kalau anak-anak udah gede dan gak riweh nyusuin lagi. Nanti deh kalau saya udah agak tua’an dikit, biar gak dikata gak gaul. Nanti deh nunggu hidayah datang dulu, pasti gak pake lama, langsung menutup aurat. Nanti deh… Nanti deh…

Ealaah, Allah aja gak nunggu nanti lho kasih kita rejeki. Lihat saja meja makanmu, selalu ada yang bisa dimakan, walaupun itu cuma selembar taplak meja, hehehe.. Allah gak nunggu nanti lhoo kasih kita oksigen untuk bernafas. Bayangin aja kalau Allah menunda memberi kita semua oksigen, bisa nyesek klepek-klepek gak bisa nafas, kan? Allah juga gak nunggu nanti-nanti lhooo ketika memang sudah waktunya malaikat maut menjemput. 

Astaghfirullah… Saya sadari dulu saya juga seperti mereka. Saya gak takut gimana kalau seandainya saya dijemput malaikat maut dalam keadaan tidak menutup aurat. Saya gak takut gimana kalau seandainya saya mati dalam keadaan hina di mata Allah… :’(

Padahal jelas, berpakaian syar’i itu adalah perintah Allah yang jelaaas banget termaktub di dalam Al Qur’an.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Ahzab – 59)

Lihatlah betapa agama Islam ini begitu indah yah, kita kaum wanita begitu dihormati dan ditinggikan derajatnya dengan adanya perintah menutup aurat, agar gak diganggu. Eeeh masih ada saja yang menganggap perintah itu sebagai diskriminasi. Pernah baca gak sih, tentang kisah wanita-wanita dari kaum Anshar, yang bersegera – tanpa menunda-nunda – merobek kain  gorden rumah mereka untuk dijadikan jilbab ketika ayat tentang hijab turun sehingga dikisahkan wanita-wanita Anshar keluar dan seakan-akan di atas kepala mereka bertengger burung gagak hitam karena pakaian yang mereka kenakan. 

Mereka gak menunggu membeli khimar yang gaul dulu, atau membeli aksesoris unyu-unyu dulu untuk bersegera memasang khimar. Kenapa kita masih senang menunda-nunda untuk segera menutup aurat, banyak pertimbangan. Kalau masih menimbang-nimbang tentang perintah Allah ini, tidak takutkah nanti di hari akhir ketika dihisab? Tidak takutkah nanti masuk neraka?!

Surat An-Nur ayat 31:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau  ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki mereka, atau putera saudara-saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan –pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Pak ayah pernah bilang begini sama saya, “Ma, kalau di dunia saja begini hawa panasnya bikin kita ngos-ngosan, gimana nanti di neraka? Hiks, saya langsung pengen nangis saking takutnya….

Juga sahabat gaje saya, si Jo, pernah cerita betapa jari tangannya sakit luar biasa setelah kesundut paku panas. Trus dia bilang ke saya “Ya Allah, kesundut paku panas yang kecil aja sakitnya begini banget ya, palagi kalo kena setrika bolak-balik di neraka?” *langsung nyesek dan banyak-banyak istighfar*


Astaghfirullah… beneran, saya takut sekali masuk neraka!

6 comments:

  1. Semoga artikel ini banyak di baca oleh para wanita yang sedang ragu mnggunakan hijab ya Mba.

    Salam,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...terimakasih sudah berkunjung dan doanya ya :)

      Delete
  2. alhamdulillah, terimakasih sudah berkenan berpartisipasi,
    artikel sudah resmi terdaftar sebagai peserta..
    salam santun dari Makassar :-)

    ReplyDelete
  3. Haha.. komentarnya pak ayah bikin ngakak... :)
    Mbak, soal menutup aurat ini, sampe sekarang juga masih jadi PR beratku. Thanks sudah mengingatkan, ya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. komentar yang bikin gemes ya mbak? hihihi...
      iyaa, masih belajar juga nih menyempurnakan. semoga istiqomah ya mbaak...:)

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...