Monday, November 25, 2013

Perihal Anak Lanangku






“Dan sungguh, telah Kami Berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami Perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tua-nya. lbunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku Beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. ( Q.S. 31 : 12-15)



***
“Reza masuk pesantren? Ih, kok tega? Anakku aja lulus SD masih disuapin kalo makan, trus abis mandi bajunya masih harus disiapin. Udah gitu sering sakit, aku gak tega kalo usia segitu dimasukin pesantren!”


“Hah? Masak sih? Dimas dong kadang masih tidur sama aku, masih suka bangun kesiangan, kalo gak aku nih,  mamanya,  yang bangunin dia gak mau bangun. Dasi pun harus mamanya yang pasangin… manja banget dia…”


“Gak takut ya Ji, ntar Reza merasa seperti anak terbuang, kamu masukin dia ke ponpes? Gak takut dia cemburu sama adik-adiknya yang dapet kasih sayang ayah mamanya?”


“Eh kamu gak takut ya, di pondok Reza bisa terjangkit penyakit dari teman-temannya yang kamu sendiri gak tau mereka asalnya dari mana dan gimana latar belakang mereka? pernah loh aku dengar cerita, anaknya kutuan dan korengan sepulang dari pondok,kan pakaian mereka ketuker-tuker gitu, kalo gak pinjem-pinjeman, Ji, makanya ketularan…”


Deg… komentar-kometar miring semacam itu berseliweran masuk telinga saya, lalu merembes langsung ke hati seperti air es yang mengalir dan membekukan. Gak bisa seperti ayah yang kalau dikomentarin gitu bisa lempeng dan ngejawab dengan santai sembari guyon “Anak lanang memang harus begitu… kalau perlu dibelikan sayap biar dia bisa terbang tinggi…”


“Enak ya, punya anak banyak, kalo udah males ngurusin lempar aja ke ponpes, biar gak repot…”


Ini lagi, benar-benar bikin saya down. Secara anak-anak memang nantinya akan dimasukkan ke pondok pesantren semua. Ah, entah saya kuat atau enggak pisah sama bocah-bocah itu. Pisah sama Reza aja begini banget kangennya. Belum lagi kalau saya harus menghadapi komentar-komentar macam itu.


Sekitar setahunan yang lalu, saya masih suka mbatek dengan komentar-komentar bernada gak percaya cenderung menyalahkan itu. berulang kali saya kontempelasi, apa saya bukan ibu yang baik, yang sayang sama anaknya ya, kok ya saya tega ‘membuang’ anak sendiri ke pondok pesantren sederhana itu? apa saya gak punya naluri keibuan ya, kok ya bisa…” Kalo boleh saya bilang, saat-saat itu sedih memang nama tengah saya, hiks.


Menghadapi orang-orang dengan komentar gak enak ini memang perlu energi banget, apalagi buat saya yang gampang sekali down dan moody. Oh ya, saya juga orangnya introvert. Saya gak suka ngomong banyak ke orang-orang secara live. Err… bukan gak suka sih, tapi lebih ke gak jago dalam hal bersilat lidah. Kadang saya cuma senyum, terlihat (sok) bijak padahal saya emang pada dasarnya gak siap untuk beradu argument secara langsung gitu, berhadap-hadapan atau ngobrol via telepon. Tanya saja suami saya, saya seperti apa kalau harus beradu argumen. Pertama gagap, kedua nangis, ketiga nyahut tapi emosi, hiks. Dan itu benar-benar bikin capek.


Gak jarang, emosi gampang banget menyala di kala lelah mendera dan anak-anak menuntut banyak dari saya. Sudah kelelahan mengurusi rumah, suami dan anak-anak, eh datang pula suara-suara miring itu.


Terkadang malah energi untuk menjawab komentar-komentar itu lebih besar ketimbang energi untuk mengatasi perasaan sedih dan kangen saya sendiri ketika terpisah dengan Reza. Ya itu tadi, karena saya memang gak terlalu ahli dalam hal berbicara, apalagi sama orang yang baru dikenal, hadeeh saya gagap. Entah, saya selalu merasa selalu ada jeda yang sunyi ketika saya dan orang yang gak akrab sama saya itu (terpaksa harus) ngobrol, dan saya merasa harus mengisi kekosongan itu, DAN itu yang saya gak bisa.


Beda sama suami saya yang kalo kata orang Jawa “grapyak” alias senang bicara, bahkan kepada orang-orang yang baru dikenal sekalipun. Jadi ketika kamu menemukan saya bisa mengobrol dengan nyaman dengan orang, hanya ada dua kemungkinan : saya memang akrab dengan orang itu, atau di samping saya ada suami saya. Hehe.


Biasanya setelah menghadapi mereka-mereka, saya berasa capek banget. Orang yang jadi tumpuan saya saat down itu ya hanya suami saya. Gak mungkin saya mengadu atau mengeluh kangen Reza kepada ibu atau kakak-kakak saya. Yang ada malah saya dipojokin gegara nekad mengirim anak ke ‘tempat itu’ – itu sebutan kebanyakan orang kepada pondok pesantren sederhana Reza sekarang. Gak jarang air mata saya tumpah ruah di pelukan ayahnya. Kalau sudahselesai, biasanya migrain saya kumat.


Dan tentunya selain itu, obat paling mujarab adalah dengan bersungkur di atas sajadah, mengadu pada Sang Bijak tentang beban hati saya ini. Di saat-saat seperti ini, saya gak peduli mau saya gagap atau enggak, saya ngadu ke Allah ya seperti saya mengadu ke suami saya, orang terdekat dalam hidup saya. Biasanya setelah itu saya jauuuh lebih lega dan akhirnya bisa tidur nyenyak.




Memutuskan memasukkan Reza ke pondok bukan tanpa pertimbangan. Di usia 12 tahun kehidupannya, Reza memasuki masa-masa di mana rasa keingintahuannya semakin membengkak dan tak terbendung. Terkadang dia gak puas dengan jawaban-jawaban dari saya atau ayahnya. Terkadang dia lebih suka mencari sendiri jawabannya di luar penglihatan saya, dan ketika dia berada di luar jangkauan saya, di situlah saya panik, saya gak bisa kontrol emosi dan menata kata-kata. Gak jarang pula dia seperti ingin mengetes mamanya, mendadak kehilangan pendengarannya kalau dipanggil, mendadak gak suka masakan mamanya, mendadak ingin seperti teman-temannya yang punya gadget ini itu, mendadak kalau disuruh shalat susah banget, mendadak jadi musuh besar adik-adiknya karena jahil. Subhanallah, memang gak gampang ya menjadi orang tua itu…


Paniknya saya itu ya lama-lama menjadi omelan dan amarah. Terkadang dalam situasi lelah dan banyak pikiran, berbenturan dengan Reza yang memang dalam masa peralihan, saya gak berkutik melawan gelombang amarah di dada. seringkali saya menyesal sekali kenapa saya gak bisa lebih mengendalikan diri. Bukan salahnya ketika Reza belum bisa membedakan dan memilah. Namanya juga belum, berarti memang nanti ada masanya. Saya saja yang gak sabar.


Jangan tanya saya sebesar apa rasa sayang saya ke Reza. Tanyalah suami saya, betapa saya jadi lemes gak bertenaga atau malah pegal di seluruh badan seperti habis kerja rodi, setelah saya marah-marah. Di  setiap kata yang saya ucapkan, di saat yang sama pula saya seperti menikam hati saya sendiri. Rasanya sakit tak tertahan.


Sebenarnya ide untuk memasukkan Reza di ponpes sudah ada semenjak dia duduk di kelas 5 SD. Malah dia sendiri yang kepingin masuk ponpes setelah mendengar sepupunya juga mau masuk ke ponpes. Eh malah si sepupu gak jadi, Reza yang melaju. Sebelumnya saya gak pernah berpikir untuk menyekolahkan Reza di tempat yang berlokasi jauh dari daerah tempat saya tinggal. Memasukkan anak ke ponpes awalnya seperti momok buat saya. Bukan, bukan karena saya gak percaya kemampuan anak saya beradaptasi dengan lingkungannya atau apatis dengan lingkungan barunya. Ini masalah hati saya sendiri. Saya gak yakin bisa mengatasi rindu saya. Saya gak yakin saya bisa berdiri di depan anak saya dan memeluknya dan memberinya semangat tanpa saya menangis tersedu. Saya paling benci ditinggal. Dan saya paling benci kalau harus berhadapan dengan situasi perpisahan (siapa yang enggak sih?).


 Tidak segampang yang dibayangkan loh ya. Tapi juga bukan tidak mungkin terjalani. Awalnya mengantarkan Reza melihat-lihat lingkungan pondok tempat dia tinggal kelak, tak terbantahkan betapa pilu hati saya membayangkan anak lelaki sulung saya tinggal di situ, setiap hari, sehari 24 jam, dari subuh sampai malam, sampai subuh lagi, sepanjang satu semester tanpa boleh pulang ke rumah, jauh dari jangkauan penglihatan saya, dengan uang saku seadanya (gak boleh berlebihan) yang harus cukup untuk jangka waktu tertentu, gak boleh bawa handphone juga, ah ya Allah, ibu macam apa saya ini, batin saya perih.


Namun seperti yang dipesankan ayahnya, saya gak boleh sedikitpun terlihat ragu di depan mata anak kami. Maka dengan sekuat hati saya berkata pada anak saya “Oalah, yang begini sih Reza pasti bisa. Di sini kayaknya jauh lebih enak daripada di rumah deh. Bisa ketemu sepuasnya sama teman-teman tanpa ada mama yang ngomelin ya yaah…” dan disambut anggukan mantap si ayah. Begitu juga ketika pertama kali kami bertemu ustadz pimpinan pondok untuk pertama kali. Dengan penuh keyakinan saya berkata di depan ustadz dan Reza “Reza ini anak yang kuat dan tegar loh, Ust, dia semangat banget mau masuk pondok ini…” serr…, hati saya sedikit demi sedikit sobek.


Ternyata itu works banget! Reza yang pada awalnya sempat down dan ragu, setelah mendengar saya berkata seperti itu, saya bisa dengan jelas melihat binar yang perlahan menyala di kedua matanya. Semangat mulai tumbuh di hatinya. Untungnya dia gak bisa melihat ke dalam hati mamanya yang sobek sedikit demi sedikit ya, hehehe…


Saya ingat sekali, dulu, ketika mendiang abah menyekolahkan anak-anak beliau (kakak-kakak saya) ke Yogyakarta, mama saya sempat protes dan menangis gak rela. Mama bilang, abah gak sayang sama anak-anaknya, abah mau menjauhkan mama dari anak-anak. Itu cerita mama saya loh, hehe… tapi apa kata abah? “Oh, jadi mun sayang lawan anak, anak kada disekolahakan kah? Jadi mun sayang wan anak, anak dikapit haja di katiak… mun sayang wan anak tu anak disekolahkan. Handak kah kada, anak jadi orang?! Anak sasar beganal, kita saasar betuha. Mun kita sudah kadada lagi, jadi apa anak mun kada sekolah?!” hehe, apa yah artinya?


 Ya, akhirnya dengan hati terseok-seok awalnya, saya berhasil mengatasi hati saya sendiri setiap kali bertemu Reza saat menengoknya. Jangan tanya suami saya betapa saya selalu menangis ketika duduk sendirian di dalam kamar Reza, suwung dan sunyi kamar itu membuat airmata saya gampang sekali menganak sungai. Menulis kalimat kangen di keyboard laptop saja bisa sukses bikin saya tersedu.


Namun tidak ada yang tidak terbayar kalau kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Reza sekarang sungguh berbeda dengan Reza yang dulu. Mandirinya dia sekarang, sungguh jauuuuh sekali dengan saya di usia dia sekarang ini. Saya dulu, di usia Reza, jangankan mencuci pakaian sendiri, mie rebus aja masih minta bikinin ibu saya. Naah si Reza, kalau pulang libur nih, mau bawa pakaian seransel, ya dia cuci sendiri, kalau tidak saya suruh pakai mesin cuci, ya dia pakai cara tradisional ala santri pondok : rendam di air deterjen, kucek dikit, bilas, jemur deh.  Kadang saya yang ribut, nyuci begitu tuh gak bersih, wangi doang tapi masih ada nodanya. Eeh malah diomelin ayah “Mama ni piye jal, ini nih anak lanang, mau bajunya kotor, mau bajunya bau, mau bajunya bernoda dan gak bisa hilang, biasa aja kale... Lha Rezanya aja cuek kok, mama yang repot!” atau kalau saya bawel begitu ngeliat bajunya kusut gak disetrika, udah deh kompak Reza dan ayahnya koor “Mamaaaa….! Berisiiiik….!!!”


Mau makan? Gak ada suaranya, tiba-tiba sudah siap sepiring mie goreng lengkap dengan telur rebus dan cincangan seledri di atasnya, buat dia sendiri dan kedua adiknya, hahaha… mau tambah uang saku? Ngerumput dulu di halaman sampai bersih. Gak jarang nih di rumah terdengar suara protesnya kalau ayahnya pas ngaji salah tajwid atau adiknya salah baca doa. Gak tau apa artinya percakapan dalam bahasa Arab? Tanya-o sama Reza. Malah diajakin ngobrol kali sama dia pake bahasa Arab. Khaifa khaluk? Ahlan wa sahlan. Sobahul khair. Hahaha. Adzan berkumandang di mushola? Gak pake diingetin, langsung ambil sarung trus ngacir ke mushola. See? Anak ponpes gitu looh, hehehe….


Yaa gak jarang siih masih suka iseng gangguin adiknya sampai ngambek. Tapi bukan anak-anak kaan kalau mereka gak bertengkar tapi gak lama setelahnya mereka bercanda lagi, hahaha…   


Namun masih saja, melambai penuh semangat pada Reza setiap kali kami pulang menengoknya, membalikkan badan dan nyeesss, hati saya kayak digodam. Ah, begini banget ya punya anak lelaki… dekat dimarahin, jauh dikangenin.. hehehe… jadi pesan saya kepada kalian, peluklah mereka ketika mereka masih berada dalam jangkauanmu, selagi mereka masih seperti spons yang bisa menyerap semua kata-kata sayangmu, ketika tangan mereka masih bisa dengan ringan memeluk lehermu dengan erat, rekam semua jejakmu dengan mereka di dalam tulisan dan dokumentasi, maka ketika kau berada di posisi saya sekarang ini, akan jauh lebih mudah mengobati kangen itu.


Selesaikah perjuangan saya dan suami? Tidak dong. Masih ada tetangga, kawan kanan kiri, saudara handai taulan yang masih harus kami hadapi ketika mereka mencecar kami dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas <-- alhamdulillah sudah bisa senyum dan tutup mulut rapat-rapat kalau menghadapi yang beginian, hehehe.  Dan masih ada 3 anak lagi yang harus kami tempa, karena nantinya (insyaAllah) akan mengikuti jejak kakaknya. Bukankah kelak, di akhirat kita akan dimintai pertanggungjawaban perihal bagaimana kita mendidik dan membesarkan titipan bernama anak?


Lubna dan Jingga sekarang sudah mulai menyukai suasana pondok pesantren Reza. Di saat mereka harus berpisah dan melambaikan tangan kepada kakak tersayangnya, Lubna selalu berujar “Nanti Una mau sekolah di ponpes sama kakak Reza ya ma…, enak sih kan sekolahnya dekat sama asrama, pakek jilbab dan banyak teman…” aiih mak serrr rasanya hati saya. Takjub, anak sekecil itu sudah punya keinginan begitu kuat. Tinggal sayanya saja kali yaa yang harus memupuk (lagi) kekuatan untuk melepaskan anak-anak untuk mendapat pendidikan agama.


Menjadi mujahid dan mujahiddah. Menjadi corong dakwah di kemudian hari, entah saat itu kami, orang tuanya, masih bisa menyaksikan atau tidak. Menjadi pendoa bagi kedua orang tuanya kelak. Menjadi penegak berdirinya syari’at Islam di muka bumi. Allahumma aamiin…



InsyaAllah, tidak ada air mata saya yang terbuang sia-sia di setiap membisikkan bait doa untuk anak ini… menjadi anak yang tangguh, kuat, penuh kesabaran dalam menghadapi apapun ujiannya, penuh ketaqwaan di dalam mengarungi desakan gelombang, penuh kerendahan hati ketika berkecukupan, iman yang kuat dan kebersahajaan dalam mengarungi samudera hidup.





33 comments:

  1. Saya juga kepengen Mak, kalau punya anak nanti SMPnya di ponpes saja.. :) Dari dulu memang dekat dg lingkungan ponpes sih.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo maak... jangan ragu, insyaAllah pilihan yang tepat. tapi harus cermat juga yaa memilih ponpesnya :)

      Delete
  2. *peluk mbak puji. asli saya misek-misek mbacanya mbak.. bisa kebayang kok betapa beratnya berpisah sementara dari si sulung, tapi kembali lagi ke niat y mbak. kalo niatnya baik insha Allah akhirnya juga baik. yg dibutuhkan anak sebenernya hanya do'a orang tua dan begitu sebaliknya. di mana-mana itu tetap buminya Allah jadi jangan risau. tetep dipantau aja mbak.. di jenguk.. di do'a kan semoga reza kelak jadi anak yang bisa membanggakan orang tua dan bisa menjadi penolong di akhirat nanti. amin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. allahumma aamiin... *peluk mbak Wina juga*
      iya, memang masih sering dijenguk, dibawakan makanan kesukaannya, mendengarkan cerita-ceritanya...
      terimakasih ya mbaak... jazakumullah khairan katsiran :)

      Delete
  3. Sama mak...anak sy malah cm satu, cewek...br masuk pondok hbs lebaran kmrn, dgr org2 yah bgm spt mak tau lah...tp aku ttp kuat pendirian, berpisah tentu sgt berat, bgt kt pamit sj hati sdh mau nangis sekeras2nya, tp menguatkan ank sy..bgt spjng perjlnan plg ya cm mewek sj...dirmh berhari2 mewek dan gak bs mkn sp bdn gemeteran dan turun 10kg hehe....tp berlalunya hr bgt melihat perubahannya hati semakin dikuatkan walopun msh suka mewek2 sdri,,,Semoga anak-anak kita menjadi generasi yg bs menguatkan syariat dan panji -panji islam dg tegak dikemudian hari..Amiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiyaaa hebat mbaaaak........ saya saluuut sekali sama orang tua yang ikhlas melepas anak ceweknya masuk ponpes, saya bisa gak yaaa,....
      anaknya Ustadz yang dekat dengan keluarga kami juga cewek usia 7 tahun sudah masuk pondok, mbak, subhanallah sekali...:)
      iya, mudah2an mereka, anak-anak kita kelak bisa mengusung agamanya dalam perjuangannya menegakkan syari'at Islam. allahumma aamiin...^_^

      Delete
  4. Subhanalloh....anak sulungku pun lelaki. Saat ini baru mau msk SD. Rencananya ke SDIT trus lanjut ke ponpes modern. Minta izin utk share ke istri ya mbak, sptnya walopun ia setuju2 aja dg rencana itu tp msh ttp butuh dukungan... Semoga tulisan ini semakin memotivasi kami..tks

    ReplyDelete
    Replies
    1. insyaAllah, semoga tercerahkan ya mas...aamiin ^_^

      Delete
  5. berembun mataku membaca ungkapan hati seorang bundaa...semoga kita diberi kekuatan, kesabaran dan petunjuk mengantarkan anak-anak yang bisa menjadi pewaris dakwah, amin/

    ReplyDelete
    Replies
    1. allahumma aamiin... syukron jazilan doanya bunda :) doa yang sama buat anak-anak bunda yaa...:)

      Delete
  6. Maturnuwun share nya nggih mak....
    Sy juga kepengen anak2 lebih banyak belajar ilmu agama....saat ini anak sy yg mbarep masih kelas 1 SD...:)

    ngomong2 lihat foto2 nya....kok mirip dengan tulisan2 yg di tulis di pondok Gontor pusat ya mak....^_^
    Asliii....lebaran 2 thn yg lalu, sy spechless melongo kagum dan tersepona dengan kemandirian anak2 di pontren itu dan kemegahan bangunan nya....(Y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama Ummi...:)
      anaknya Ustadz yang dekat dengan keluarga kami, perempuan, malah semenjak usia 7 tahun lho Umm, subhanallah yaa... saya mah gak kuat kalau harus pisah sama bocah2 ini. ujian kita sebagai orang tua ya umm, ikhlas atau tidak melepaskan anak untuk berjuang di jalan Allah...:)

      iya, ini pondok pesantren Al Islam yang memang cabang dari pondok pesantren Gontor, Umm... metode dan lingkungannya dibuat sama, bedanya yaa ini jauh lebih sederhana, hehe...
      insyaAllah nanti saat dia lulus tsanawiyahnya, mau lanjut ke Jawa. masih survey tempat dulu ini...:)

      Delete
  7. subhanallah, mbak Puji... aku nangisss... :'(
    Langsung ngebayangin aku beberapa tahun yang akan datang. Sudah ada rencana juga, mau masukkin si sulung Andro ke ponpes kalo dia SMP nanti. Hiks, belum apa2, baca jurnalmu ini hatiku mencelos... :'(
    No comment saja, mau nerusin nangis dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. napa, mbak, kelilipan keypad kah? huahaha...
      insyaAllah, pasti bisa. makanya sejak sekarang diajarin mandiri mbak. Reza dari kelas 5 udah bisa nyetrika sendiri pakaiannya, sepatunya juga aku gak pernah nyuciin, dilarang sama ayahnya, kata ayahnya kalo dilayani terus gimana bisa jadi imam kelak?
      Allah Maha Pembolak-balik hati manusia kok. Pasti bisa. Cemunguud kakaaaa...:p

      Delete
  8. SubhanAllah... sangat mencerahkan mbak. Pengin komen banyak, tapi kok speechless ya. Membayangkan kalo nanti Sidqi juga mau saya ponpes-kan. Huhuhu... udah mbrebes mili aja nih :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak usah dibayangkan mbak, dijalani saja sembari berdoa dan taraaa... anak kita sudah besar! hehehe... btw syukron kunjungannya ya mbak :)

      Delete
  9. ihiks, bacanya jadi kaya ngebayangin 5,5 tahun ke depan pasti rasanya sepertiyang Mak Puji rasakan. pedih diawal, manis dibelakang yah Mak. Itu juga yang menjadi kekhawatiran aku sehingga ada kemungkinan besar lulus SD Khalila dipesantrenkan saja. MAkasih yah Mak, biar pnya persiapan hati lebih awal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. niat baik, insyaAllah dimudahkan mbak, bismillah yah, kita ajak anak-anak kita berjihad di jalan Allah...:)

      Delete
  10. ini nulisnya sambil kangen jg kn mak,,bahasanya dalem bgt,,tapi aku bangga dg ibu2 yg ikhlas mnyekolahkan anaknya di pondok dg sgala resiko dn beban trmasuk diomongin sana sini,,selamat mak,,insyaAllah aku jg pnya rncana sepertimu,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa, kangen banget tiap hari maak... kalo masak ini itu, selalu inget, eh ini kan favorit Reza, hiks... insyaAllah dimudahkan ya mak :)

      Delete
  11. jangan dengar omongan orang mbak...., jelek atau baik tetap aja ada yang kelihatan salah...

    yang penting Allah tahu maksud kita baik...supaya anak punya bekal agama yang baik...

    semangat mbak... salam... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. insyaAllah, sekarang sudah lebih wise dalam menghadapi komentar2 itu mbak... makasih yaa...:)

      Delete
  12. Speechless bacanya,,mewek doank. Aaaakkkk,,anakku msh kecil mak,tp pengennya sih sekolahin di pesantren. Semoga aq bs ya mak. Semangat mak! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. pasti bisa mak :) kita ajak anak kita jihad di jalan Allah yah...bismillah :)

      Delete
  13. Replies
    1. aaaak kaka Deny telat :s btw makasih ya :))

      Delete
  14. Assalamualaikum mba Puji,

    Boleh tau alamat pesantren al Islam dimana ? Thx

    ReplyDelete
  15. wa'alaikumsalam ^_^
    Al Islam yang ada di postingan ini ada di Tanjung Tabalong Kalimantan Selatan ;)

    ReplyDelete
  16. titik banyu mata ulun mebaca... kada karuan rasa... insya Allah niat dan tekad sudah bulat. Mudah-mudahan dimudahkan Allah...

    ReplyDelete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...