Thursday, January 23, 2014

Ladang Harta Karun Bernama Tanjung Tabalong



Assalamu’alaikum J


Nusantara sedang bersedih L Banjir di mana-mana, pengungsi berkumpul di berbagai tempat dengan wajah sedih dan cemas, lautan sampah sudah seperti sahabat. Dan parahnya, berita ini sudah terlalu mainstream untuk sebagian kalangan, bahkan tidak sedikit yang memanfaatkannya untuk kepentingan golongan tertentu. Tetapi sudahlah, yaa. Mau pake atribut apapun, yang penting saat ini adalah galang rasa empati, pupuk kembali persaudaraan, dan yang terpenting, dengarkan kata nurani *halah bahasanya.

Walaupun gak ikut merasakan banjir, saya bersedih atas bencana ‘langganan’ ini L

Kalimatan Selatan tempat saya tinggal, khususnya Tanjung Tabalong, sampai beberapa tahun yang lalu masih merupakan wilayah aman dari banjir, karena memang waktu itu hutan di sini masih lumayan terjaga. Semakin ke sini, kami mulai dihinggapi resah. Berita demi berita sungai meluap tak terkendali, warga kebanjiran hingga melumpuhkan infrastruktur, ah ini mah baru-baru saja adanya. Bikin galau saja, hehe.



Bagaimana tidak galau, Tanjung Tabalong itu yaa teman-teman, wilayah yang sangat kaya akan bahan tambang. Lihat saja betapa puluhan tahun yang lalu Pertamina berjaya di sini, mengeksplorasi minyak dan gas dari perut bumi, menjadikan Tanjung Tabalong ‘hidup’ dan berkembang sangat pesat berkat adanya kegiatan penambangan ini.

Mendiang Abah saya, dulu salah satu pekerja Pertamina. Beliau tidak hanya mencicipi sedikit, namun sangaat kenyang dengan jayanya Pertamina, pada masanya. Sekarang bagaimana? Sekarang Pertamina memang masih ada, namun kegiatan eksplorasinya masih di sekitar bekas sumur bor puluhan tahun yang lalu. Sisa-sisa minyaknya masih ada mungkin.

Giliran batubara sekarang bintangnya. Ya, Tanjung Tabalong sekarang sudah dirambah oleh banyak sekali investor yang menanam saham di berbagai perusahaan pertambangan. Satu per satu mereka datang dan mengupas lapis demi lapis tanah hutan belantara milik pribumi. Gunung demi gunung berubah menjadi kawah raksasa hitam legam dengan berbagai jenis peralatan canggih di sekitarnya, mulai dari eksavator, HD, trailer pengangkut batubara dan teman-temannya. Ya, kami adalah serupa ladang harta karun -- milik mereka.

sumber


Baydewei, tahukah teman-teman, bagaimana sih caranya mengubah gunung menjadi kawah? Salah satu  proses itu bernama blasting. Peledakan? Iyaps, benar sekali. Serem yah L saya membayangkan bagaimana dahsyatnya sebuah batu raksasa meledak menjadi serpihan untuk kemudian dipindahkan puing-puingnya, untuk kemudian dikupas terus sampai perut bumi, sampai akhirnya menyembullah mineral ajaib bernama batubara itu.



See? Bayangkan saja berapa juta organisme mati di situ. Bayangkan saja bagaimana kondisi warga yang berkeras menetap di dekat wilayah tambang.

Masih berbicara mengenai Kalimantan Selatan, saya selalu teringat kalau saya berada di dalam pesawat yang baru take off atau akan landing di atas bandara Syamsudian Noor Banjarmasin. Ya, hamparan berwarna hijau itu begitu memikat hati sesiapapun yang melihatnya, dengan puluhan bahkan ratusan garis sungai yang membelah hamparan itu. Sebagaimana julukannya, Banjarmasin dan sekitarnya merupakan daerah dengan seribu sungai. Hell yeah, sungai kecil, sungai besar. Lihat saja bagaimana luasnya sungai Barito, sungai Kahayan, sungai Mahakam dan lain lain. Kabarnya di sini pernah jadi tempat syutingnya film Anakonda yah? Ahaha... entahlah, namun kalau teman-teman ingin tahu kondisi sebagian besar sungai di Kalimantan Selatan, ya seperti di film Anakonda itu. Serem - horor - eksotis gimana gituh. Hehehe...

Pak ayah pernah mengemukakan keheranannya. Saking luasnya pulau ini, untuk mengadakan trip antar kota dalam satu propinsi saja, terkadang perlu waktu seharian penuh dengan menggunakan transportasi darat. Sudahlah, di sepanjang jalan pun jarang sekali menemui pemukiman penduduk, yang ada ya itu tadi, hamparan hutan yang sebagian besarnya sudah banyak dibabat habis untuk pembukaan lahan :(

Kemarin sempat membaca di beberapa media perihal kondisi batubara di Kalimantan Selatan. Mereka bilang, batubara di sini sudah mulai menipis jumlahnya. Padahal proses pembentukan fosil tumbuhan menjadi batubara itu perlu waktu ratusan tahun saja, kaka...:( bayangkan saja bagaimana nanti sepeninggal perusahaan-perusahan pertambangan itu. Hutan yang dulunya biasa saya nikmati hamparan luasnya dari kaca jendela pesawat, mungkin tak akan pernah sama lagi. Hewan-hewan yang biasa berseliweran di dahan-dahan pohon, mungkin akan jauh sekali berkurang populasinya. Yang dulunya aman dari bahaya banjir dan longsor, satu per satu media menurunkan berita semacam bencana banjir dan longsor. Air sungai yang dulunya aman untuk segala macam keperluan masyarakat, satu per satu mulai tercemar limbah beracun.

Kembali ke perihal banjir yang sedang melanda di beberapa wilayah di Nusantara. Saya turut berduka, temans. Benar, ini bencana ‘biasa’ yang rutin menjenguk kita di setiap kali musim hujan melanda. Benar, masyarakat sudah terbiasa dengan meningkatnya debit air. Benar, ini bukan waktunya untuk saling tuding siapa yang salah, siapa yang benar. Dan benar, ini adalah PR untuk semua kita, yang berpijak di negeri yang sama, yang konon katanya tanah subur dan damai, yang konon empatinya begitu tinggi kepada sesama saudara setanah airnya. Introspeksi ya masbrooo... hehehe.

Baiklah, sekian dulu tulisan sedih-resah-cemasnya. Saya gak betah sedih lama-lama.

Jadi, sepeninggal flu kemarin, pak ayah ngajakin kami jalan-jalan ke masjid di Islamic Center Tanjung Tabalong yang konon katanya akan menjadi Islamic Center terbesar di Kalimantan, dan ini salah satu mega proyek dari perusahaan besar batubara di Kalimantan ; PT Adaro Envirocoal. Konon, tujuan pembangunan fasilitas Islam super mewah ini adalah mewujudkan masyarakat pascatambang yang mandiri secara intelektual. Sederhananya : ini bangunan kenang-kenangan untuk masyarakat Tanjung Tabalong, dari PT Adaro, kalau kelak tak memungkinkan lagi mengeruk batubara di sini. Hmm, okey, sounds good, walaupun faktanya semega apapun bangunan ini, tidak akan bisa mengembalikan hutan Kalimantan seperti sebelum dijarah yaa...:D

MasyaAllah, di sini tuh bagus banget deh view masjidnya. Masjid bergaya minimalis ini berdiri dengan gantengnya di sini. Sayang, pembangunannya masih belum selesai sepenuhnya. Mungkin masih akan berlanjut beberapa tahun ke depan. InsyaAllah. Doakan saja yaa. 

Saya gak pandai bikin review tempat menarik seperti sahabat blogger saya yang cantik-cantik ini, heu heu... Jadi, saya ceritanya pake foto saja ya, pemirsah ;D

susaaah banget ngumpulin bocah-bocah ini dalam satu frame. maunya lari-lari mulu!







Desain minimalisnya kereeen... Paling suka dengan kaligrafinya. Unik!

Paling suka dengan foto ini -- selain foto-foto narsis kita loh ya!

seperti biasa -- menangkap senja ^_^

Mamaa... ayaaah... besok kita ke sini lagi yaaaa... bisa lari-lari sepuasnyaaa...
Jadi, kapan mau mampir ke Tanjung, teman-teman? ^_^

2 comments:

  1. aaahhh, mesjidnya cakeepppp...!
    Kebayang ya, biaya pembangunannya pasti guedeeee...! Dan jadi kebayang jugak, berapa duit yang didapet sama perusahaan yang ngebangun mesjid itu, hahaha....
    Soal minyak, batubara dan sumber daya alam yang gak bisa diperbarui ini juga sering kupikirin, mbak. (eh cie, gayaaaa pake mikir segalaaaa...! ) Maksudku, sekarang di Indonesia di eksploitasi habis2an (kebanyakan sama perusahaan asing pula), trus apa ya yang tersisa buat anak cucu kita nanti...?
    Btw, foto ber-4 susah? Aku kok udah nggak heran, ya... hahaha, ngalamin jugaaaa...! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbaak, cakep yaa... hohohoooo, konon katanya pembangunannya melahap lebih dari 50 milyar saja lhoo... itu duit semua yak mbak, bukan daun :p etapi mah angka segitu mah keciiil, kaalo dibandingin harga batubara yang sudah sekian tahun mereka angkut keluar Kalimantan ^_^
      untuk anak cucu kita nanti mah gampang, kan bisa pake bahan bakar virtual, hiks hiks...:'(
      jiaaah dibahas, bocah gitu loh mbak, kalo gak sradak sruduk ke sana ke mari mah bukan bocah -_-"

      Delete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...