Tuesday, March 11, 2014

Tentang Nota Kredit dan Mengejar Akhirat


"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan diantara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengangumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu" (Al Hadid : 20)

***


“Ri, kerja di mana sekarang?”
“Di rumah, mas. Usaha kecil-kecilan”
“Nganggur dong?”
“Enggak mas. Gak nganggur. Pagi, abis bantuin istri di rumah, nganter anak sekolah, abis itu kalo gak langsung ke pasar belanja keperluan rumah, ya buka toko. Jemput anak lagi, jaga toko lagi, sampai malam. Gitu mas…”
“Yaaa sama aja gak kerja dong yaa…!”
**si ayah pijet kening**

***

“Coba melamar kerja lagi, Ri”
“Hah?”
“Iya, melamar kerja. Kamu kan gak kerja. Gak kasian tuh anak istri kamu? Kebutuhan mereka gimana nanti?”
“Lho, saya kan wiraswasta pak…”
“Wiraswasta itu artinya gak kerja. Gak ada gaji tiap bulan. Gak berangkat tiap pagi pulang sore kayak orang-orang. Mau dikasih makan batu ya anak istri kamu?”
**zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz…..-_-**

***

“Ri, tuh ada lowongan di PT Anu Itu”
“O ya? Mbok sampeyan ngelamar tho mas…”
“Lho, kowe tho yo. Aku kan uwis kerjo di PT Ini Anu”
“Trus nek umpomo aku kerjo, yang jaga tokoku siapa?”
“Kan ada istri kamu,”
“Gini aja, Mas, sampeyan cubo ngelamar di situ, nanti kalau sudah keterima, jangan lupa kalau mudik nanti, tuku tiketnya ning nggonku. Gimana mas, gelem ora?”
**dan si mama ikutan ngakak**

Yah begitulah hidup. Segalanya kudu dinilai dari seberapa besar pundi-pundi bergemerincing di kantongmu, atau seberapa banyak pencapaian materi, bulan ini bisa beli ini, bulan kemarin mampu beli anu, bulan besok kudu bisa beli itu. Ya gak ada yang salah sih. Gak bisa juga bohong kaan hidup gak melulu soal cinta (makan tuh cinta kalo laper ahaha), tapi juga sandang pangan papan. Realistis itu namanya. Anak butuh biaya sekolah (ngelirik kalender lalu panik, 3 bulan lagi Una udah mau masuk SD!). Sakit perlu beli obat. Perut lapar kudu diisi dan gak bisa ditunda. Internetan juga bakalan macet kalau tagihan speedy gak dibayar tepat waktu. Hehehe…

Sutralah ya, gak perlu juga kali saya cerita betapa besarnya penghasilan berbanding lurus dengan kebutuhan. Tahun kemarin-kemarin, gaji 2 juta cukuplaah untuk sebulan, apalagi kalau didukung oleh kemampuan si istri mengolah sendiri makanan dan cemilan, dijamin hemat dan suami pun senang. Eh semakin ke sini, penghasilan nambah, bertambah pula dong yaa kebutuhan. Yang tadinya motor cukup satu, akhirnya kebeli dua, gak bisa beli cash, kredit jadi pilihan paling laris dan manis. Bayangin, dengan uang kurang dari sejuta perak, motor mulus masih bersegel udah bisa parkir manis di teras rumah.

Masih kurang juga? Sepertinya kalau ngontrak terus, gak seru kali yaa. Diambillah kredit KPR dengan bunga aduhai, yang umumnya tercover iklan nan penuh bujuk rayu, dengan  brosur-brosur berilustrasi keluarga bahagia di sebuah rumah mungil nan cantik berhalaman manis dengan seonggok mobil terparkir manis di bawah kanopi berwarna cerah. Faktanya? Dengan cicilan mencekik, fasilitas minus, saluran air mampet, kalau hujan banjir, engsel-engsel pintu satu per satu ucul, sumur ternyata hanya berkedalaman 3 meter yang kalau pas kemarau kering kerontang, my oh my, nasib ya nasib, masih 10 tahun lagi Seuuus baru lunas!

Yang tadinya berprinsip “ah yang penting anakku bisa sekolah, urusan les dan ngaji, bisa dihandle sendiri di rumah, atau ikut TPA di mushola dekat rumah juga gak masalah, Cuma 10 ribu per bulan…” eh begitu gaji naik (gak seberapa loh padahal, persentasi kenaikannya masih bisa dihitung pakai satu tangan saja *plak!), tetiba pikiran untuk menyekolahkan anak di SDIT swasta kian membuncah, gak peduli uang masuknya yang bisa buat beli beras berkarung-karung, trus persediaan tabung gas elpiji selama setahun, plus bisa buat beli gado-gado langganan selama 6 bulan. Mayan loh. Eh dialokasikan ke SDIT mahal nan bergengsi, dengan alasan “Memangnya kita kerja buat siapa? Ya demi anak. Demi sekolah anak. Anak maunya ke sekolah anu , ya kita turutin, yang terbaik laah untuk anak…” Laaah apa kabar sekolah negeri dan TPA di mushola? Sekolah negeri bukan yang terbaik gitu ya? :p Ya gak apa-apa juga sih, sebenarnya, kalau memang mampu dan berkelebihan, hak masing-masing ini yaa. Nah untuk kasta seperti keluarga saya? Mending tahu diri dan mundur teratur deh hehehe.

Yep, I’ve been there, beberapa di antaranya pernah hampir, dan sisanya pernah ada di situ. Yang namanya utang sana utang sini demi melunasi kredit ini kredit itu, subhanallah sekali yaa, apalagi kalau sampai debt collector itu datang ngapelin kita silih berganti mengetuk pintu rumah, berasa buron aja gitu gak mau bukain pintu, mulut anak-anak dibekep biar gak bersuara, hahahaha… *tempelin nota kredit di jidat*

Soal nyekolahin anak, saya dan pak ayah masih realistis, anak-anak masih bersekolah di sekolah negeri kok, Una insyaAllah juga mau masuk SD negeri. Secara ya booook, begitu ngeliat angka di pengumuman perihal jumlah yang harus dibayar untuk daftar masuk SDIT swasta, saya dan pak ayah langsung mundur teratur. Jujuuur, sebelumnya saya sempat tergiur juga masukin Una sekolah di situ, untungnya SDIT paling dekat rumah sudah tutup pendaftaran sejak akhir Februari kemarin. Fyuuuh… sudahlah, ikut jejak kakak Reza aja ya nak, masuk SD Negeri, sorenya ngaji di TPA.

Rumah? Alhamdulillah walaupun sederhana sekali dan masih semi permanen, milik sendiri dan bebas kredit…. Bonus air sumur gratis yang insyaAllah gak kering di musim kemarau dan bebas banjir walaupun hujan 3 hari 3 malam. Fabiayyi alaa irabbikuma tukadzibaan. Motor? Iya, dulu pernah kredit, 3 tahun saja cukuplah yaa hidup di dalam mimpi buruk setiap awal bulan.

Sekarang, saya dan pak ayah menyimpulkan, bahwa memang, manusiawi banget ketika keinginan-keinginan berdatangan silih berganti di angan-angan, menunggu untuk dipenuhi, menunggu gaji dan tunjangan naik, menunggu promo sale produk tertentu, menunggu Allah memberikan kesempatan untuk memperbaiki hidup. Namun jangan lupa pula, Allah juga sudah menitipkan akal di setiap kita. Untuk apa? Ya untuk mengendalikan hawa nafsu dong kaka.

Terus terang, mungkin karena ‘kenyang’ dengan nota-nota kredit tiap bulan, saya dan pak ayah sudah kapok dengan yang namanya utang. Hihi, ini mah karena capek yaa lihat slip gaji tapi uangnya cuma numpang lewat, langsung buat bayar kredit bok. Huuuh, siang malam kerja hampir 14 jam sehari (sering loh saya ngeluh ke pak ayah : tambang itu sudah merampok waktu kebersamaan kita, yah!), dua hari sekali kerokan karena masuk angin, seminggu sekali memanfaatkan momen off untuk tidur seharian dengan kenyataan anak istri dicuekin saking lelahnya,  cuma untuk bayar kreditan? Gak lagi-lagi.

Berarti kapoknya dua dong? Kapok kredit dan kapok kerja? Hahaha… ya enggak lah, kapok kredit saja ya ayah. Kalo besok ada yang nawarin kerja dengan janji gaji mumpuni dan gak secapek waktu kerja di tambang batubara dulu, boleh dipertimbangkan hehehe. Namun untuk sekarang, saya dan pak ayah sedang menikmati sekali berwiraswasta. Menikmati dan bersyukur atas pundi yang mengalir, seribu dua ribu hasil jaga warnet, seperak dua perak hasil jualan tiket, selembar dua lembar keuntungan jualan hijab dan pulsa. Jadi bos untuk diri sendiri, melatih disiplin diri sendiri, patuh pada jadwal yang dibuat sendiri, dan yang pasti, waktu untuk bersama keluarga lebih banyaaak dan panjaaang. Sekali lagi, fabiayyi allaa irabbikuma tukadzibaan.

Gak perlu baru, yang penting bisa menggelinding dan memuat kami berenam, dua motor jadul keluaran awal tahun 2000an mah sudah cukup mengakomodir. Masih mau kredit motor baru? Banyak tuh inovasi-inovasi ini lah itulah pake stripping baru lah, irit BBM lah, CC lebih tinggi lah, bodi lebih sporty lah, dll dsb endeswei endesbre. Enggaaak lagi-lagi. Etapi kalau dikasih gratis mah mau, hahahaha… Gak deh, udah gak kepikiran mau motor apa-apa lagi. Mikirnya pengen punya portuner aja, biar lega dan gak berdesak-desakan lagi, dan bisa seliping selonjor kalau perjalanan jauh, hahahaha… Boleh juga sih ditambah punya kamera DSLR baru biar foto-fotonya bisa lebih epic, trus novel-novelnya ditambah satu rak lagiii aja… Ahahah ngelunjak. Manusiawi kaka. Manusiawi. Eh diaminin dong pemirsa :P *kedip-kedip kelilipan nota kredit*   

cozyshop kami :-)
Sekarang, fokus ke bisnis (eciye bisnis :p) dan sekolahnya anak-anak saja. Rekening berjangka untuk keperluan pendidikan mereka Alhamdulillah sudah lama dibuka, walaupun gak seberapa, tapi adalaah yaa. Lebih realistis. Gak bisa makan nasi Padang sering-sering, tapi masih bisa lah yaa ditraktir semangkuk bakso atau mie ayam langganan sore-sore. Lebih dewasa dalam mengatasi hawa nafsu *pecut diri sendiri yang kemarin sempat ngambek ke pak ayah gegara minta dibeliin rak piring stainless steel baru yang ada lemari kacanya hahahaha*. 

Mensyukuri rupiah demi rupiah yang didapat, mensyukuri detik demi detik yang dikasih Allah untuk kami setiap hari, bisa lebih khusyuk beribadah dan mengejar akhirat tanpa intervensi siapapun, bisa lebih banyak sedekah dan berusaha lebih keras lagi membahagiakan mama dan ibu mertua. InsyaAllah…


Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammelewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat] menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata,“Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”. Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?” Beliau pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim [2957])





Jadi, kalau pak ayah masih gawe di tambang batubara, gak bisa sering-sering ngajakin anak-anak jalan ke taman begini dong yaa...:-)

8 comments:

  1. aku sukaaaa postingan ini...
    bener loh, pengeluaran itu mengikuti pendapatan...
    ketika pendapatan 100 ngebayangin kalo pendapatan 150 enak kali ya, bisa lebih leluasa... eh ternyata ketika pendapatan 150 tetep aja pengeluarannya ikut naik jd 150, atau lebih... hahaha,,, ya sudah intinya kita syukuri dan nikmati saja apa yang kita miliki... ya manusiawi sih pengin ini itu, tapi capek juga kalo kepenginan.. apalagi kalo kepenginannya gak sesuai kemampuan. *curcol
    Mudah2an makin maju yaaa usaha /bisnismu..

    ReplyDelete
  2. hehehe... sepertinya memang jamak terjadi dan dipikiriiin banget sama kaum hawa ya mbak, gimana nih biar pos pengeluaran gak melebihi pemasukan, yang mana ini adalah tugas beraaaat raaaat rrraaatttt... apalagi kalo udah mantengin olshop, betul gak mbak? ahahaha...
    allahumma aamiin. doa yang sama untuk keluarganya mbak Tituk yaa ^_^

    ReplyDelete
  3. Saya juga merasakan bagaimana tidak enaknya mempunyai tanggungan di bank. Apalagi sekarang barang yang saya kredit itu hilang di gondol orang, dengan sisa kredit kurang 9 bulan. Langsung saya di dera sesak nafas seminggu di puskesmas Mbk. Hahaaa. . .

    ReplyDelete
  4. innalillahi... digondol orang???
    subhanallah ya, Allah benar-benar masih sayang, buktinya masih dikasih ujian, dan lulus tentunya, aamiin... hehehe...

    ReplyDelete
  5. Abis bikin postingan semalem, dan aku baca ini. Iiihhh aku jadi malu mbaaa :( huhuhu..
    Aku lagi kepengenan banyak banget ini..tapi suka lupa bersyukur ya pdhl udah dikasih buanyyakk bgt..

    Dan itu soal gaji..serin bgt jd obrolanku sm suami. "Dulu pas masih bujangan gaji aa segini, msh cukup aja tuh beli ini itu sampe beli rumah g bisa. Skrg gajinya segini kok ya kurang2 aja ya?"
    Kebutuhan jelas makin banyak ya..apalagi punya anak istri, jgn disamain waktu bujangan dong pak :p
    Tapi ya itu ya manusia ya, gaji sejuta msh mau lah makan warteg. Nambah jd 5jt, pgn icip lah di restoran. Gaji 10jt, ketagian makan direstoran TIAP HARI. Walaah..ya mana bisa menikmati itu si gaji gede yak..

    Aku skrg lg pengeeeen bgt bisa punya waktu yg banyak sama suami.. kangen.. banget..
    Hiks..

    ReplyDelete
  6. manusiawi mbaaak, manusiawiii...:)))

    nah itu dia, yang gak kebeli itu adalah kebersamaan... yang dulunya waktu utama buat keluarga, sekarang cuma dapat waktu 'sisa', aaah periiih..:p
    tapi sebanding kan yaa sama pemasukannya, hayo ngaku :p

    ReplyDelete
  7. Apakah Anda membutuhkan pinjaman? Apakah Anda membutuhkan pinjaman untuk memulai sebuah bisnis? Apakah Anda memiliki bisnis dan Anda membutuhkan pinjaman untuk pembesaran bisnis? Apakah Anda dalam kekacauan finansial dan Anda membutuhkan pinjaman??? Apakah Anda membutuhkan pinjaman untuk melunasi hutang-hutang Anda? Apapun masalah pinjaman Anda mungkin, inilah bantuan Anda karena kami menawarkan pinjaman pada tingkat bunga rendah dan terjangkau. Hubungi kami hari ini di Century.kredit@hotmail.com untuk lebih jelasnya.

    ReplyDelete
  8. Apakah Anda dalam kesulitan keuangan, Anda membutuhkan pinjaman bisnis untuk mengembangkan bisnis Anda? Terapkan untuk pinjaman sekarang dan mendapatkan disetujui. kami menawarkan semua jenis pinjaman pada tingkat bunga berkurang dari 2%. (Kredit Usaha, Kredit Tanpa Agunan, Pinjaman Konsolidasi, Kredit Mobil, investasi pinjaman, dll) kami telah menyewakan pinjaman kepada mereka yang tekanan keuangan dan juga untuk ekspansi bisnis . hubungi kami hari ini dan mendapatkan disetujui. email: am.credito@blumail.org

    ReplyDelete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...