Monday, August 25, 2014

Ternyata Serindu Ini

Barangkali kau ingin tahu mama, seperti apa hidup sepeninggalmu, seperti biasa kau bertanya padaku "kayapa habar di sana, nak?" di ujung telepon. 


Baiklah, maka akan kuceritakan tentang ramadhan paling sunyi sepanjang 32 tahun terakhir, ma, tanpa bingka besumap dan bingka barandam. Lalu akan kuceritakan tentang malam takbiran yang ingin cepat kulewatkan dengan menutup kedua telinga dan bersembunyi di pojok kamar dari riuh rendahnya suara takbir. 


Kemudian akan kuceritakan tentang lebaran yang ingin segera kulupakan semringahnya orang2 yang kutemui dan menghindari tatap ingin tahu dan iba mereka kepadaku, ma, dan bertanya "Siapa nang mengguringi rumah mama? Jangan dibiarkan kosong lah rumah mama..." Padahal aku sendiri tidak tahu cara 'mengisi' rumahmu yang mendadak suram sepi ini. 


Dan bagaimana bisa aku dengan kepala penuh labirin kenangan yang tetiba terurai masai tentangmu dan tentang kita ; duduk di sofa ruang tamu milikmu memandangi deretan foto senyummu dan sederet keramik kecil koleksimu? 


Setelah itu akan kuceritakan perihal debu yang mulai menutupi wajah-wajah tersenyum di dalam bingkai kayu, ma. Perihal dentang jam dinding kayu yang sudah kau miliki semenjak cinta mekar di samping abah.

Perihal seribu kisah yang tersimpan di dalam setiap guci keramik di dalam bufet-bufet. Perihal baju-bajumu yang tersusun rapi di dalam lemari yang aku sendiri tak berdaya menyentuhnya untuk membayangkan kau sedang mengenakan setiap baju-baju cantik itu seperti biasanya, berdiri di depan cermin setinggi badan dan menyisir rambut dan memoleskan bedak tipis, lalu merasakan gelombang dahsyat rindu padamu tak bertepi.

Perihal tongkatmu yang bersandar di samping tempat tidur yang menanti gapaian tanganmu seperti biasa menopang berat tubuhmu menemani tatih langkahmu. 


Barangkali kau ingin tahu, ma, maka aku akan bercerita. Bercerita padamu, sesuatu yang bahkan ketika kau nyata ada dan minta aku melakukannya, aku bisa dengan luar biasa pongahnya menolak dengan sejuta alasan tak penting. Aku yang dengan sombongnya menganggap kau akan selalu ada di sana sepanjang hayatku untuk menyaksikan aku bertumbuh bersama suami dan anak-anakku, menyaksikan Reza menjadi seorang Da’i, atau Luna jadi dokter, atau Jingga jadi guru, atau Gaza menjadi seorang mujahid. Aku selalu berpikir kau akan terus hidup untuk menyaksikan semua… Dan ternyata untuk yang satu itu, kau tidak menuruti mauku, mama…


Barangkali kau masih saja ingin tahu, tentang kami sepeninggalmu. Tentang bagaimana arus hidup terus dan tak berhenti mengalirkan kami sementara kau tak lagi berada di sini. Tentang bagaimana tembok-tembok sunyi yang memantulkan suara sepi. Tentang bagaimana jendela-jendela kaca menyerap kesuwungan kamar bercat biru muda. Tentang bagaimana lantai ubin menjadi dingin tanpa tatih kaki dan tongkatmu.Tentang banyak senyum di dalam bingkai foto yang mulai berdebu dan terlupakan. 


Lalu tentang kami yang tak berhenti mengeja tasbih penuh kerinduan untukmu. Tentang kami yang tak berhenti mengemas kangen menjadi sebungkus doa untukmu, agar kau baik-baik saja di sana, agar kau tenang dan bisa mengistirahatkan lelahmu 71 tahun terakhir. 


Tak pernah kami menduga ma, ternyata kami serindu ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya ma, sesepi ini tanpa dendangmu. Dendang menenangkan dan membuai yang akan selalu kami turunkan untuk anak-cucumu. Dendang 'si dodoy' yang disulam berbenang doa tanpa putus untuk kami, agar kami selalu 'mengalir' dan 'bergerak' walaupun tanpa abah dan mama, tidak lantas 'keruh' dan 'menggenang' akibat terhalang rindu.

Mama sayang, kepala dan hatiku masih penuh dengan dirimu, berdiri di tengah ruang tamu, duduk di ruang makanmu, menyentuh dapur dan piring-piring di dalam rak, cangkir seng untuk merebus kopi, semua masih sama, masih belum bergerak dari terakhir kau tinggalkan. Bahkan untuk menyimpannya ke dalam lemari pun aku tak ada daya. Kepalaku masih penuh dengan suara-suara panggilan tak sabarmu, hatiku masih dipenuhi harapan kau ada di luar pintu rumahku minta dibukakan, jendelamu masih sering kuketuk pelan sembari lirih menyebut namamu. Tidak, tidak ada sahutan. 

“Masih tidurkah, mama?”



Mama, (ternyata) Puji serindu ini. 

11 comments:

  1. terharu mbak :"(
    semoga mama Mbak Puji ditempatkan Allah di sisi paling terindah-Nya, amin
    *peluk mbak puji*

    ReplyDelete
    Replies
    1. allahumma aamiin... makasiiih mbak Pritaaaa....*peluk dari jauuuh*

      Delete
  2. sediiiih....
    semoga Allah lapangkan alam kubur beliau, dan Allah terangi dengan cahaya yang benderang

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin aamiin aamiin ya rabbal aalamiin...jazakillah mbak Titi :)

      Delete
  3. Speechless mba.. semoga dilapangkan kuburnya dan mendapat terbaik disisi Allah

    ReplyDelete
  4. Kenangan tentang Mama ngga akan pernah hilang ya.
    Aku juga merasakan hal yg sama, walau sudah 10 tahun berlalu. Kangen, sekangen2nya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaa udah 10 tahun dan masih kangen sekangen-kangennya? :'( peluuuk mbak Dey dari jauh... semoga beliau diberi tempat yang lapang dan nyaman di sana ya mbak, di sisi Allah SWT, aamiin aamiin ya rabbal aalamiin...

      Delete
  5. semoga beliau diterangkan dan dilapangkan ya disana bu...amiin, jadi sedih dan jadi mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dan selalu berusaha membahagiakan ibu saya

    ReplyDelete
  6. jadi sedih dan terharu, semoga beliau selalu berada ditempat yang terindah disisi Allah ya bu..Amin

    ReplyDelete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...