Monday, May 11, 2015

Ajari Aku Caramu


Sungguh aku iri.

Aku iri kepada dia yang mampu melihat terang dalam gelap. Aku iri kepada dia yang mampu menutup di tengah umbar aurat. Dia yang mampu menahan diri tanpa solek cantik genit di tengah terpaan promosi bertabarruj. 

Dia yang mampu menahan desak hati untuk latah pamer dan ujub di tengah pongahnya sosialita berselfi di depan patung singa, di bawah naungan menara eiffel dan senyum lebar di depan megah ka'bah. Dia yang mampu berpegangan kuat bersama imamnya di tengah desak laten bid'ah di sekelilingnya dan berani berkata 'tidak' ketika bujuk merayu. 



Dia yang mampu tegar ketika berhadapan dengan karib yang mengajaknya bersyubhat dengan haram laknat bernama tipu daya yahudi. Dia yang mampu berdiri yakin menggendong anak-anaknya, menggandeng imamnya, lalu berjalan melintasi liberalitas dunia meniti jalan siratal mustaqim. 

Dia yang di dadanya tertanam kuat untai indah bait ayat suci alquran dan teladan baginda Rasul dalam hadist-hadist. Dia yang menghormati menghargai dirinya setinggi-tingginya dengan jalan mengabdi kepada suami dan menyandang gelar madrasah untuk anak-anaknya di dalam rumah, karena memang benar adanya, berjalan di luar rumah demi tipu daya dunia adalah kesenangan sesaat dan begitu dekat dengan tepuk riuh riang syaitan. 



Wahai Ukhti...
Sungguh, aku iri padamu. Tahukah kau, aku selalu dan selalu berkata aku benar dan yang lain salah. Aku terbahak mengejek melihat mereka yang kuanggap rendah. Aku bilang mereka bodoh tak berilmu, Ukhti. Aku bilang mereka mudah tertipu hanya karena asumsi belaka. Dan Ukhti, aku juga sering pamer kepada mereka perihal kesempurnaan hidupku di dunia. Lucu dan cerdasnya anak-anakku. Gagahnya suamiku. Bagus dan mahalnya rumah dan mobilku. Cantiknya parasku dengan kosmetikku. Indahnya pakaianku. Pandainya diriku sampai bisa meraih jenjang karirku ini.

Astaghfirullah... Sungguh, aku tak ingin hatiku keras dan mati dalam menerima kebenaran. Sungguh, aku tidak ingin kesombonganku kian menerangi jalanku menuju keabadian neraka. Naudzubillahi min dzalik.


Ukhti, ajari aku cara mencintai dengan benar. Mencintai duniaku namun tak lantas mengalahkan cintaku pada akhiratku. Mencintai duniaku namun tak lantas mematahkan cintaku padaNya.

Ajari aku caramu, Ukhti.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...