Saturday, May 09, 2015

Freeze The Moment :)


Saya sedang jatuh cinta. Iya, jatuh cinta. Dengan dunia fotografi .

Sebenarnya ini bukan hal yang baru buat saya. Almarhum abah saya seorang penyuka fotografi. Puluhan album  tua di dalam lemari dan dua buah kamera jadul milik beliau buktinya. Sepertinya beliau ingin mencapture semua momen dalam hidup keenam anak-anaknya. Terbukti benar, saya sering membuka album lawas demi mengobati rindu kepada mama, abah dan kelima kakak-kakak saya. Kalau sudah begitu, waktu rasanya terbang ke masa lalu, menghadirkan kembali sosok-sosok di dalam foto ke dalam bilik kenangan, dan saya akan duduk terdiam lama sekali. Oh oh, si bungsu sering rindu, hehe…

Untuk saya pribadi, fotografi menjadi semacam kebutuhan batin untuk mengabadikan momen-momen penting gak penting, yang saya tahu suatu saat saya, suami dan anak-anak bakalan tersenyum kala melihat foto-foto itu. Suatu saat di saat rindu menyapa, dengan membolak-balik album akan sedikit terobati.  In shaa Allah kalau yang ini akan menjadi album pribadi yang mungkin saya gak akan pernah share di media social manapun.

Nah, membahas fotografi, sekarang saya memang sedang jatuh cinta sekali dengan foodphotography. Banyak hal yang saya pelajari di sini. Banyak hal yang saya belum tahu dan akhirnya tahu, dan hey,  you know what, ini menyenangkan loh… freeze the moment di saat makanan yang kita masak sendiri menjadi sebuah karya berselera dan benar-benar diatur biar yang melihat tempting, di situlah letak keberhasilan sebuah karya food photography.


Iya, saya memang masih pemula sekali dalam bidang ini. Gadget yang saya miliki pun baru sebatas kamera saku. Namun seperti yang sering teman-teman bilang ke saya, justru di situlah letak tantangannya, memanfaatkan apa yang kita punya untuk menciptakan karya bagus, yang gak kalah dengan mereka yang pegang kamera pro. Ahaha, tentu saja saya tetap menyimpan mimpi untuk punya kamera bagus dan layak, yang saya tahu foto-foto yang dihasilkan pun pasti lebih keren. Aminkan saja ya pemirsa, hehehe…


Belajar lighting, memotret di waktu tepat dan spot yang pas itu butuh waktu. Butuh waktu dan latihan yang gak sedikit. Ketika kita melihat sebuah foto bagus (dengan lighting oke dan kompo oke) lalu kita tiru plek ketiplek sama, belum tentu bisa sebagus yang kita tiru. Kenapa? Karena jelas, beda spot, beda lokasi, beda intensitas cahaya, dan tentu saja beda kamera, bakal bikin hasil yang berbeda pula. Di atas semua itu, hal yang paling nentuin sebuah gambar bagus atau enggak yaa (kalau kata sahabat saya) adalah woman/man behind the gun. Ceileeeh… Tapi beneran loh, mau gadgetnya canggih kayak apa, kalo yang megang gak berbekal pengetahuan perihal fotografi, yaa jomplang yaa antara hasil foto yang seharusnya dihasilkan sama kameranyaa… Sini sini kameranya buat saya aja deh (situ oke motreknya mbak? hahaha…).



Di komunitas baru yang saya ikuti beberapa bulan terakhir inilah saya belajar banyak. Sebuah wadah yang walau dibentuk di dunia maya, namun bikin saya benar-benar melek bahwa saya masih serupa remahan keripik mak icih, ahaha… 3 talented woman bikin sebuah proyek bernama 52 weeks food photography project. Ya, selama setahun bakal ada 52 tema yang bakal digelar buat membernya untuk belajar memotret yang baik itu seperti apa. 52 kali pula usaha menampilkan karya yang gak boleh sekedar jepret, namun benar-benar dipikirkan mulai dari kompo, lighting sampai property foto.


Adalah mbak Sefa Firdaus, mbak Tika Nilmada dan mbak Yulyan Parwati. Sounds familiar yaa dalam dunia food blogger dan photography? Yak, dan saya merasa sangat beruntung bisa berinteraksi langsung dengan mereka meski hanya melalui medsos bernama Instagram dan Line. Di antara kesibukan padat masih bisa menjawab dengan penuh kerendahan hati dan kesabaran pertanyaan murid-muridnya yang beneran masih amatiran dalam memotrek itu keren banget. Mbak-mbak, semoga ilmu yang kalian turunkan buat kami itu berkah dan menjadi ladang pahala buat kalian semua yaa. Allahumma aamiin.



Sering loh saya dan pak ayah berburu senja dan sunset demi sebuah foto cakep. Ke pasar tradisional demi hunting foto human interest. Ke hutan demi sebuah foto daun yang sedang basah setelah hujan. Mengagumi ke-Maha Besar-an Nya dalam sebuah frame foto itu luar biasa. Jadi wondering yaa, seandainya saya punya gadget mumpuni, kendaraan yang oke punya seperti Toyota Agya yang keren yang hemat bahan bakar karena dia sudah termasuk golongan Low Cost and Green Car (LGCG), tampilan kece pula, bisa menjelajahi pelosok daerah buat nyari spot bagus buat difoto bersama keluarga kecil saya, juga biar bisa ketemuan dengan mereka yang sudah pro di bidangnya, pasti saya bakal seneng banget deh. 


Jadi, aminkan saja lagi, ya, Pemirsaaaa...^_^

1 comment:

  1. kalo saya nggak ikutan projectnya,jadi pembaca setia setiap komentar disetiap foto ixixixixixi...

    ReplyDelete

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...