Friday, September 25, 2015

#melawanasap


Sedang mengeja kalimat "berbaik sangka" kemudian melafalkan dan membawanya
serta dalam setiap derap langkah.
Sementara semakin hari semakin tebal saja lapisan kabut di Bumi Sarabakawa dan sekitarnya. 
Mungkin, mungkin saja memang dosa kita sudah terlalu tebal untuk ditembus oksigen bersih bernama hidayah. Sama seperti hati yang sudah terlalu keras dan telinga yang terlalu pekak untuk sebuah kebenaran.




Sampai kapan, wahai? Kami bisa apa? Kami harus ke mana? Salah kami apa? Terbuat dari apa kalian? Kemana kami harus mengarahkan telunjuk sementara kalian saja masih saling menyalahkan? 




Jangan berhenti berbuat baik, walaupun itu tak seberapa. Membuang sampah di tempatnya, menghemat air, tidak menciptakan kerusakan demi kerusakan. Bahkan untuk sepotong korek api yang kau buang kelak akan kau pertanggungjawabkan. 

Tak seberapa ini, Wahai, tak seberapa. Nikmati saja dulu angka yang terus menggemuk di rekeningmu. Terus kenyangkan perutmu yang tak pernah kenyang itu. Tenggak saja sampai kau muntah, dahagamu tak akan bisa berjeda.
Semacam tembikar, hatimu kian keras dibakar serakah.
Atas asap yang kami hirup ini, kelak, akan kau bayar. 
Untuk setiap hela.



Hari ini matahari sudah nampak, langit biru mengintip sedikit -- mungkin memastikan kita semua baik-baik saja sepeninggal sinar cerahnya dua minggu kemarin. Anak-anak sudah boleh main lagi di luar. Hujan bagaimana? Belum datang. Tentu saja nanti dia datang. Sabar saja. Gravitasi doa kita terlalu kuat dibanding keserakahan si Wahai.


No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...