Tuesday, April 05, 2016

Nobody Talks To Me At Home...



Assalamu’alaikum...

Jadiii akhirnya si kakak pulang juga. Rumah rame lagi, riuh rendah sahut-sahutan mulai dari bercanda, ketawa, kejar-kejaran, sampe akhirnya, ujung-ujungnya, ada yang nangis. Yes, dengan kehadiran 4 anak di rumah, maka jauhkan saja pikiran untuk berleha-leha ngopi dengan suasana santai dan tenang. Yang satu bobok, yang satu bangun dan gangguin yang lagi bobok biar ikutan bangun. Yang satu ngantuk berat, yang satu nowel-nowel telinganya biar gak bisa bobok. Giliran udah pada bobok, emak ikutan tepar.
Ngomong perihal anak, tempo hari di salah satu page parenting nemu tulisan yang makjleb banget ini :

Beberapa tahun lalu, sewaktu menjadi konselor di salah satu sekolah, saya punya murid namanya Adam. 11 tahun, salah satu murid saya yang sangatpendiam dan banyak senyum. Setiap hari ada saja guru yang datang ke ruangan saya dan komentar/komplain tentang hal yang itu-itu saja: 
"Miss Silmy, udah sempet ketemu Adam? Dia lupa lagi bawa pe-ernya" 
"Adam susah konsentrasi di kelas, Miss, can you help?" 
"Dibandingkan dengan teman sekelasnya, Adam tertinggal jauh, baik dari pencapaian dalam ujian bahkan pemahaman subject secara umum. Miss Silmy bisa ajak dia ngobrol? 
Saya tersenyum, mengangguk dan berkata "I'll see what I can do. Nanti aku follow up ya, thanks for the info." 
Lalu terbayang anak kecil bermuka polos dan lucu itu. Adam? Anak yang selalu murah senyum dan sopan itu? Anak yang selalu sampai pertama di kelas setelah bel istirahat dan senang membantu teman itu nilainya bermasalah? Hmm. Ok nanti sebelum pulang sekolah aku ajak bicara, batinku. 
Pukul satu. Aku menuju kelasnya dan anak-anak sedang bersiap pulang. Dia melihatku dan melambaikan tangan. Aku tersenyum dan memanggilnya keluar. 
"Hi, Miss. What's up?" 
"Hi Dam, nothing much. Pengen ngobrol sama kamu sebelum pulang, boleh?  
"Sure!" 
“Aku kabari your parents ya kalo kamu akan telat sedikit jadi mereka nggak panik. See you at my office!" 
15 menit kemudian, Adam datang. Lalu kita ngobrol ringan tentang sepakbola (saya jadi tahu team kesukaannya itu Manchester United), jajanan kantin yang kurang variatif ("masa cuma risol dan jus, Miss? Anak-anak itu butuh coklaaat" katanya) dan hal-hal lain. Tak terasa setengah jam berlalu dan saya pun harus bersiap mengantar Adam ke gerbang sekolah. 
"Lho, Miss mau kemana?" tanyanya melihat saya bangun dari tempat duduk. 
"Nganter kamu ke gerbang, that's all for today, Dam" 
Mukanya mengerucut.  
"Lho, kenapa kok mukanya dilipet gitu?" 
"I.... I don't want to go home Miss" 
Sambil berusaha menjaga ekspresi kaget, saya bertanya" Oh? Kenapa?" 
"Nobody talks to me at home.. Ya paling nyuruh ngerjain pe-er, nyuruh makan dan nyuruh tidur.. Selebihnya nobody talks to me. Kemarin team aku menang di kelas PE (Physical Education/Olah raga) dan aku cerita ke Mama, dia cuma bilang "oh good" terus lanjut sama iPadnya. Terus aku disuruh belajar ditemenin Mbak.." 
"Wah, pasti kamu sedih sekali ya. Rasanya pasti nggak enak kalau kita diperlakukan seperti itu. So what did you do?" 
"Ya aku maleslah Miss, belajar. Aku belajar melulu. Sekolah seharian abis itu les. Pulang yang ditanyain pe-er. Aku tuh sedih karena cuma nilaiku yang berharga buat Mama" 
"I'm sorry kamu harus mengalami itu, Adam. Kamu jauh jauuuuh lebih berharga dari huruf dan angka di raportmu, Nak." 

Saya rutin ketemu Adam selama 3 bulan berikutnya untuk konseling dan motivasi, membantu memperbaiki harga dirinya sehingga dia bisa kembali percaya sama kemampuannya sendiri. Di akhir semester, bukan hanya nilainya 3 besar di kelas dalam berbagai mata pelajaran, tapi Adam lebih happy. Betapa besarnya perbedaan hanya karena merasa didengarkan. Ini hanya satu cerita dari berpuluh lainnya. Semoga Adam-Adam lain di luar sana tahu, bahwa nilai jiwa mereka lebih dari sekedar angka.
            -----Silmy Risman----


kriik... kriiik...

***

Sounds familiar, huh? Feeling guilty? Berasa ngaca? Saya iya!

Ya, saya sering banget memperlakukan anak-anak saya seperti mamanya Adam memperlakukan Adam. Yah seenggaknya mirip lah, karena saya gak punya ipad *plak! Beneran, saya berasa ditampar. Kadang gak hanya pas pegang gadget aja sih, pas lagi masak, lagi motret, lagi baca buku, lagi ngobrol sama pak ayah, atau lagi serius ngedit dan nulis seperti sekarang ini. Mereka mendekat dengan kedua kaki kecilnya dan memegang tangan saya, nanya ini, itu, trus minta ini itu, trus nunjukin ini itu, trus ngajakin ngobrol ini itu. Saya jawab sebisanya – dengan mata tetap ke komputer atau gadget! Padahal ya kak, kebayang gak sih kalo kita digituin sama pasangan, atau sama anak-anak? “Lunaaa, makan yuk...” trus dijawab “ntar ma!” ketus dan gak lepas matanya dari mainan. Gimana?

Mamaaaah itu gadget ditarok dulu napaaah... Tatap mata mereka dan dengarkan sebentar saja, lalu jawab pertanyaannya, lalu puji kerjaan mereka, ah, kak, gak susah koook bikin mereka seneng dan berbinar, sumpah! Bayangin kalo pas mereka sakit aja, kita – saya – dengan sejuta cemas dan khawatir berbisik dalam hati, kangen naak sama ocehanmu. Eh sekalinya sembuh dan ceria, dicuekin kakaaak L.

Anak-anak itu punya pelukan paling hangat sedunia, paling erat dan paling menyenangkan. Gak percaya? Pernah gak sih sambil meluk mereka pegang pipi kita dan manyunin bibir minta diciyum? Ah, itu bocahku. Pernah gak sih mereka mengulurkan kedua tangan lalu menangkupkan kedua telapak tangannya minta digendong saat kita masak? Ah anakku banget. Pernah gak sih waktu kita berbisik "maafin mama ya nak... tadi mama ngomelin Jingga..." trus dia jawab "iya ma, Jingga maafin kok..." Ah itu kan anakku juga. Yes, anak(ku dan anak-anakmu) itu makhluk paling pemaaf sedunia.

Jadi sekarang, saya berjanji dalam hati pengen pelan pelan mengubah kebiasaan. Anak memanggil, itu tanda mereka butuh kita, betul? Anak nanya ini itu, itu pertanda mereka menganggap kita tahu segalanya, right? Anak ngajakin kita ngobrol, itu tanda kita masih dianggap penting sama mereka, ya kaan?

Kadang suka gak ngeh dengan beberapa hal, termasuk ketika si bungsu tetiba kulitnya bruntusan akibat biang keringat atau gigi si kakak mulai goyang dan perlu ke dokter gigi. Kadang juga suka lupa si kakak Luna pesen ini itu buat dibawa besokan sekolah, akibat si mamak kebanyakan chatting dan medsosan heuuu... Dan salah satu agenda yang sedang saya dan pak ayah rencanakan adalah – dalam waktu dekat – akan deaktif facebook (lagi) – dan kali ini insyaa Allah selamanya. Doakan ya pemirsaaa. Ya, karena kami percaya, semua selalu dimulai dengan langkah kecil, sampai akhirnya nanti entah kapan, pengen jadi orang tua yang jauuuuh lebih baik buat mereka.

Pengen suatu ketika – saat kami sudah gak ada lagi, mereka membaca Al Fatihah, mengajari anak-anak mereka lalu bercerita “dulu mama diajarin mama dan ayahnya mama loh, baca Al Fatihah...”




Ah, mewek...


No comments:

Post a Comment

Terimakasih yaa sudah mampir dan berkomentar ^^

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...